Pemanfaatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Penulisan Sejarah

Abdul Syukur mencatat bahwa setelah kegiatan seminar sejarah nasional kedua di Jakarta Agustus 1970, terjadi perubahan besar dalam historiografis indonesiasentris, yaitu mengalihkan perhatian historiografi Indonesia dari “sejarah politik” ke “Sejarah Sosial”, dan Sartono Kartodirdjo adalah pemimpin generasi sejarawan ini. Mereka menerapkan konsep-konsep ilmu sosial untuk melakukan rekontruksi sejarah dan menggunakan metode pendekatan multidimensional terhadap peristiwa masa lalu.[1]Perubahan ini menurut penulis disebabkan oleh cara pandang epistimologi sejarah yang berbeda dengan masa sebelumnya.

Dalam kata pengantar pada buku Pengantar Sejarah Indonesia Baru (1987)[2], Sartono Kartodirdjo menekankan pembahasan pada sejarah sosial yang di dalamnya mencakup proses perkembangan masyarakat Indonesia baik pada aspek politik, ekonomi dan sosialnya. Sartono menggambarkan sejarah sebagai proses kompleks yang di dalamnya memuat interaksi antara berbagai unsur dan saling memberi pengaruh antara berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sartono mengatakan  bahwa sejarah yang ditulisnya adalah sejarah menyeluruh yang memandang perkembangan masyarakat Indonesia sebagai sebuah kesatuan berdasarkan proses yang terjadi.
Pemikiran dari Sartono menunjukkan cara pandang beliau terhadap sejarah tidak hanya sebagai peristiwa politik yang di dalamnya hanya memuat unsur tokoh-tokoh masyarakat sebagai aktornya saja. Ada banyak unsur dan peristiwa dalam sebuah kompleksitas sejarah, dan semua unsur dan peristiwa tidak mungkin diurai hanya dengan satu pendekatan atau satu disiplin ilmu saja. Karena itu sejarah harus juga dikaji dari perspektif sosial, ekonomi, sastra, agama, budaya dan sebagainya. Dalam mengkaji masing-masing pendekatan ini, metodologi dan teori masing-masing disiplin ilmu tersebut sama sekali tidak bisa diabaikan, karena akan berpengaruh terhadap konten dari narasi itu sendiri. Dan Sartono Kartodirdjo memulai penulisan model seperti ini dengan penulisan sejarah sosial yang menggambarkan kondisi masyarakat petani ketika melakukan gerakan di Banten tahun 1888.
Penulisan model seperti sering juga disebut dengan istilah sejarah akademik, karena menekankan metodologi dan pendekatan sebagai unsur penting dalam penulisan sejarah. Taufik Abdullah dan Abdurrahman Surjomihardjo mencatat tentang ini;
“Sekali lagi karena tiadanya istilah yang lebih tepat, suatu jenis yang dapat dinamakan “sejarah akademik”. Dalam istilah jelek, jenis penulisan sejarah semacam ini dapat dinamakan tidak bersifat ideologis atau tidak bersifat filosofis, dari segi positifnya, penulisan sejarah semacam ini mencoba untuk memberi gambaran yang jelas mengenai masa silam yang ditopang dengan tradisi akademik. Dapatlah dimengerti, bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan semacam ini tidak semata-mata dibuat dalam bentuk kisah, melainkan cenderung bersifat structural. Suatu kecenderungan holistic jelas tampak, sekalipun orang bisa mengira bahwa karya-karya tersebut mempunyai tekanan-tekanan yang berbeda. Beberapa di antaranya sangat bersifat sosiologis dalam pendekatannya, sementara yang lainnya lebih banyak mengambil kerangka ilmu politik. Beberapa di antaranya bersifat antropologis dalam pendekatannya. Studi Sartono Kartodirdjo mengenai pemberontakan petani Banten (1966 dan 1973) adalah contoh yang jelas dari penelitian sejarah dengan kecenderungan sosiologis”.
Runtuhnya orde baru dan peristiwa reformasi Indonesia tahun 1998 berpengaruh terhadap perubahan Indonesia di segala bidang. Para sejarawan juga ikut bereaksi terhadap narasi sejarah nasional Indonesia yang dianggap berbalut dengan rekayasa dan penyembunyian fakta-fakta. Salah reaksi dari sejarawan adalah Asvi Warman Adam dengan pernyataan pelurusan kembali sejarah Indonesia. Penulis tidak akan membahas pernyataan tersebut, namun menempatkan pernyataan tersebut sebagai indikasi adanya dinamika dalam historiografi Indonesia.
Pada masa Orde Baru, selain dengan perkenalan terhadap perspektif ilmu-ilmu sosial dalam penulisan sejarah seperti telah penulis uraikan di atas, ternyata juga terjadi rekayasa sejarah untuk kepentingan rezim pemerintah.[3] Usaha ini dilakukan oleh pemerintah dengan sistematis yang bertujuan untuk melegitimasi kekuasaan rezim. Nugroho Notosusanto adalah pelopor dalam penulisan narasi sejarah pemerintah. Akibatnya setelah rezim ini runtuh, berbagai kelompok yang menjadi korban ramai-ramai menyuarakan perspektifnya. Tidak ketinggalan perspektif masyarakat juga muncul dari daerah-daerah yang sebelumnya menjadi dari aksi represif militer Orde Baru, seperti Aceh, Lampung, Papua, Timor-timur (ketika masih dalam bagian Indonesia).
Pengaruh terhadap historiografi pada masa ini adalah terjadi perubahan dalam pendekatan dan metodologi penulisan sejarah Indonesia. Banyak sejarawan yang mulai meragukan narasi sejarah nasional dan menstimulus mereka untuk berpikir dekontruksi. Dekontruksi terhadap narasi sejarah menjadi alternative dalam menggali kebenaran sejarah yang sebelumnya dipaksakan dan ditetapkan oleh penguasa.
Asvi Warman Adam mengemukakan tiga ciri penting terhadap historiografi pada fase reformasi sejarah ini. Ciri-ciri tersebut adalah;[4]
Penerbitan “sejarah terlarang”, pasca orde baru beberapa sejarawan atau pihak lainnya yang kembali menulis sejarah dari pandangan berseberangan dengan pandangan pemerintah. Sebagaimana telah disebutkan di atas, suara yang sebelumnya diabaikan, pada masa ini direkontruksi menjadi narasi sejarah baru. Peristiwa G.30 s PKI yang sebelumnya hanya berasal dari sumber pemerintah, pada tahun tersebut juga menceritakan persepsi para korban. Narasi yang pada rezim Orde Baru tabu untuk ditulis dan diterbitkan, pada masa reformasi menjadi tren pengetahuan.
Sejarah Akademis Kritis, pada masa ini penulisan sejarah melalui penelitian di perguruan tinggi baik itu berupa tesis dan disertasi juga mulai melirik fenomena penulisan sejarah di lingkungan perguruan tinggi. Asvi Warman Adam menyebut contoh seperti disertasi Hermawan Sulistyo mengenai pembantaian massal di Jombang dan Kediri tahun 1965/1966, dan disertasi Iwan Gardono Sudjatmiko“The Destruction of The Indonesian Communist Party (PKI) (a Comperative Analysis of East Java and Bali”.
Penerbitan Biografi Tokoh terbuang, sama seperi ciri sebelumnya, narasi besar sejarah yang hanya memuat satu pandangan oleh pemerintah, berbanding terbalik ketika rezim tersebut terguling. Dan salah satu penulisan sejarah yang diminati oleh masyarakat adalah tokoh-tokoh yang sebelumnya dikucilkan dan disingkirkan oleh pemerintah.
Penutup.
Berdasarkan analisis dan rekonstruksi historiografi ini, dapat disimpulkan bahwa tumbuh dan berkembangnya gagasan nasionalisme rakyat tidak terlepas dari kaum Intelektual. Keterlibatan kaum intelektual dalam menumbuhkan nasionalisme menjadi kunci sebagai penggerak utama.  Artikel yang ditulis oleh Deliar Noer membuktikan hal tersebut melalui perbandingan dua tokoh pemimpin (Yamin dan Hamka).
Dalam mencari akar sejarah nasional, Muhammad Yamin berpendapat bahwa nasionalisme berakar dari sejarah klasik bangsa Indonesia yang dimulai pada masa kerajaan Majapahit. Yamin menyatakan bahwa sejak Majapahit Indonesia sudah menjadi wilayah kesatuan dengan tindakan ekspedisi dari Patih Gajah Mada sebagai implementasi Sumpah Palapa. Namun pendapat yamin tersebut ditentang oleh beberapa sejarawan dan tokoh lainnya yang menganggap realitas Majapahit di masa lalu sama sekali tidak membentuk nasionalisme Indonesia. Hamka menyatakan bahwa Islam lebih berperan dalam pembentukan nasionalisme Indonesia dibandingkan dengan Majapahit. (Andre Vetronius, S.Hum)

[1] Abdul Syukur, Pembaharu Historiografi Indonesia, dalam M. Nursan, Baskara T. Wardaya SJ., Asvi Warman Adam, Sejarah yang Memihak; Mengenang Sartono Kartodirdjo, Ombak, Yogyakarta, 2008.
[2] Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Gramedia, Jakarta
[3] Taufik Abdullah dan Abdurrahman Surjomihardjo, Arah Gejala dan Perspektif Studi Sejarah Indonesia, dalam Taufik Abdullah dan Abdurrahman Surjomihardjo (Red), Ilmu Sejarah dan Historiografi; Arah dan Perspektif, Gramedia, Jakarta, 1985, hal. 29
[4] Asvi Warman Adam, Pelurusan Sejarah Indonesia, Ombak, Yogyakarta, 2004, hal. 7
Iklan
By rangkiangbudaya Posted in Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s