Balairung Sari

Balirung Sari sebagai Bangunan Cagar budaya sangat besar, meskipun telah dilakukan rehabilitasi, tetapi tidak mengalami perubahan bentuk wujud dari bangunan Balairung Sari itu sendiri sebagaimana awal pendiriannya, yakni tiang/tonggak berjumlah 36 buah. Paran-paran berjumlah dua buah dengan panjang 47 x 8 x 12 m. Kasau-kasau yakni kayu kerangka yang dipasang untuk menghubungkan para-para dan kuda-kuda. Kasau bangunan ini berjumlah 102 buah dengan ukuran panjang 6 x 12 x 6 cm yang susunannya atau bentuknya tidak sama unjung pangkalnya. Gonjong yang terdapat pada atap balairung ada 6 buah.berbentuk kerucut.
Atap terbuat dari ijuk merupakan salah satu ciri khas dari banguan tradisional Minangkabau. Ruangan-ruangan Balairung Sari berjumlah 17 ruangan yang membujur dari utara ke selatan. Lantai bangunan Balairung Sari rata tanpa anjung.Tangga adalah satu bagian dari bangunan Balairung Sari yang pertama dan terakhir dilewati,.berjumlah dua buah dibagian kiri dan kanan bangunan Balairung Sari dengan jumlah anak tangganya masing-masing 4 buah. Bangunan ini tidak memiliki ornamen atau hiasan-hiasan layaknya bangunan tradisional di Minangkabau penuh dengan berbagai jenis ukiran, hiasan  maupun pahatan.
Balairung Sari yang sudah dari ”saisuak” di kenal, menakjubkan, baik dipahami dari segi filosofis arsitertur bangunannnnya maupun dipandang dari segi fisik bagunan itu sendiri – sangat mengangumkan – namun keberadaannya belum terolah secara maksimal untuk dikembangkan menjadi sebuah karya besar sebagai sumber inspirasi kekuatan budaya dan sosial-ekonomi masyarakat Minangkabau maupun masyarakat Nagari Tabek sendiri, apalagi bagi  wisatawan lokal maupun manca negara, karena belum adanya tambahan fasilitas pelengkap dan pendukung  yang memadai serta kemasan atraksi seni-budaya lokal/tradisional yang menarik.
Sebagai balai adat, Balairung Sari merupakan sebuah bangunan khusus mempunyai atap tanpa dinding ataupun jendela tempat untuk melansungkan pertemuan untuk berunding/ menyelesaikan suatu perkara dan lain lain. Balairung Sari dibangun oleh seorang arsitek lokal yang terkenal saat itu bernama Tan Tejo Gerhano, ia juga dikenal sebagai orang pertama yang membuat Rumah Gadang di Minangkabau. Meskipun Balairung Sari Tabek ini bangunannya bercirikan sistem Bodi Caniago namun masyarakatnya tidak menganut sistem kelarasan tersebut, masyarakat Nagari Tabek menganut sistem lareh nan Bunta jadi mereka tidak menganut sistem kalarasan Bodi Caniago maupun Koto Piliang sesuai dengan mamangan berikut ini :
“Pisang sikalekkalek hutan Pisang tantu nan bagatah Boodi Caniago inyo bukan Koto piliang inyo antah“

Iklan
By rangkiangbudaya Posted in Bangunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s