Museum Pantai Barat Sumatera

Pantai Barat Sumatera salah satu kawasan perdagangan penting sejak zaman kuno. Pantai barat sumatera identik dengan jalur pelayaran dan perdadangan mulai dari zaman pra sejarah, hindu – budha, masa islam dan Kolonial Belanda. Beragam interaksi budaya  menjadikan pantai barat sumatera daerah yang kaya. Secara umum daerah-daerah yang masuk dalam kawasan pantai di kawasan Gouvernament Sumatra`s Westkust terbagi atas tiga kawasan utama. Kawasan pertama adalah kota-kota yang terdapat disekitar Kota Padang atau Padangsche Benedenlanden, antara lain Padang, Pariaman, Tiku dan Air Bangis. Kawasan kedua adalah kota-kota di kawasan utara (Noordelijke Havens) antara lain Natal, Tapanuli, Barus dan Singkel. Kawasan ketiga adalah kota-kota pantai yang terletak dibagian Selatan Kota Padang (Zuidelijke Havens) yang mencakup kawasan Bandar X hingga Indrapura (Gusti Asnan, 2007:151)
Mulai Pemerintah Kolonial Belanda kokoh di Sumatera, beiringan juga dengan perkembangan pesat kawasan Pantai barat Sumatera walaupun sejak zaman pra sejarah daerah ini sudah maju. Diakui Belanda juga berperan penting dalam mengembangkan kawanan ini menjadi pelabuhan penting di Sumatera. Kemajuan pantai barat sumtera didukung dengan adanya pelabuhan teluk bayur yang secara perdagangan meatikan pelabuah yang ada disepanjang pantai barat sumatera salah satunya Bandar X di pesisir selatan.
Teluk bayur menjadi tonggak kemajuan pantai barat sumatera masa Hindia Belanda. Kemajuan ini didukung dengan adanya kereta api sebagai sarana transportasi darat untuk mengeruk hasil sumber daya alam di pedalaman Sumatera. Pada awalnya, rencana pembangunan rel kereta api di Sumbar digunakan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanah Datar, Pasaman) ke Pusat perdagangan di Kota Padang. Ide ini muncul saat pemerintahan kolonial Belanda sudah mulai kokoh di Sumbar. Hal ini terlihat setelah penanda tangani Plakat Panjang tahun 1833. Teluk Bayur, kereta Api dan batu bara adalah tiga serangkai pemberi sumbangsi kemajuan pantai barat Sumatera.(Aulia Rahman, 2014 : 33).
Tiupan angin kencang yang diikuti dengan alunan gelombang besar yang merupakan bagian dari kenyataan sehari-hari alam Samudera Hindia, seakan akan menjadi salah satu alasan pembenar untuk menyatakan bahwa wilayah pantai barat Pulau Sumatera, termasuk gugusan pulau yang ada di dalamnya, bukan tempat yang ideal bagi berlangsungnya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Berbagai kesulitan yang harus dihadapi ketika orang ingin mencapai wilayah ini, sering dijadikan dasar berpikir untuk menyatakan bahwa wilayah ini bukan tempat yang perlu didatangi dan dikembangkan sebagai salah satu pusat dalam aktivitas manusia. Cerita tentang berbagai kesulitan dan musibah yang dihadapi oleh keluarga Thomas Stamford Raffles ketika mereka tinggal di Bengkulu, semakin memperkuat citra keganasan daerah pantai barat ini, sehingga peran kesejarahannya dalam sejarah Indonesia seakan-akan dapat diabaikan begitu saja.(Bambang Purwanto, Makalah 2013 : 4)
Pentingya kawasan pantai barat sumatera di masa lalu sekarang ini hendak perlu ada sebuah sarana pembelajaran untuk menceritakan kemegahan pantai barat sumatera. Salah satunya dengan museum pantai barat sumatera .
Kenapa perlu Museum?
Sejarah panjang pantai barat Sumatera perlu didokumentasikan dan direkontruksi kembali, kontruksi 

semacam salah satu media penyampainya adalah museum. Tidak sedikit dari peninggalan dari pantai barat Sumatera yang tersapu oleh ombak, tergilas oleh pertarungan politik masa lalu dan tertuang dalam sejarah. Berbagai pergulatan politik, interaksi budaya, dan juga salah satu titik awal masuknya agama Islam ke pedalaman Sumatera.
Memang sekarang, angin pembangunan diarahkan ke pantai timur Sumatera tapi sebagai persiapan dari sirklus sejarah, pantai barat Sumatera nantinya akan mendapatkan kembali waktu jaya sebagaimana dulu. sangat banyak yang akan digali, dinformasikan dari pantai barat sumatera diantaranya akulturasi dan asimilasi kebudayaan, kearifan lokal. 




Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s