Alu Katentong : Wisata Tumbuak Padi

“Panen tiba petani desa, Memetik harapan, Bocah-bocah berlari lincah dipematang sawah, Padi menguning lambai menjuntai, Ramai dituai, Riuh berlagu lesung bertalu, Irama merdu” Potret Petani Mimpi Wereng -Iwan Fals

Lirik lagu dari Iwan Fals ini menceritkan keriangan saat panen padi tiba. Mulai zaman dahulu berbagai cara untuk merayakan panen padi. Di ranah Minang salah satu cara merayakan panen padi dengan membuat memainkan kesenian musik bernama Alu Katentong. Alu Katentong, kesenian musik dengan memanfaatkan alu dan lesung sebagai media penumbuk padi merupakan salah satu tradisi kesenian Minangkabau mulai pudar. Alu katentong ini berasal dari Nagari Padang laweh Kabupaten Tanah datar. Nagari ini terletak di kaki Gunung Merapi Sumatera Barat.
Alu dalam bahasa minangkabau dikenal dengan kayu penumbuk padi. Sedangkan wadah tempat mengupas kulit padi menjadi belas dinamakan dengan lesung. Lesung dibuat dari batu kali berbentuk bundar dengan cekungan berupa kerucut ditengahnya. Diameter lesung bervariasi mulai dari 40 cm sampai dengan 70 cm dan tertanam di tanah atau bersifat permanen. Disamping itu, lesung juga terbuat dari kayu keras berupa persegi panjang. Lesung terbuat dari kayu ini bersifat mobile, atau dapat dipindah tempatkan. Tujuannya tentu saja untuk meletakan padi yang akan ditumbuk. Selain untuk menumbuk padi lesung juga dipakai untuk menumbuk kopi. Biasanya setiap rumah gadang mepunyai lesung dihalamannya. Biasanya lesung terletak berdekatan  rangkiang yaitu tempat lumbung padi. 
Semenjak ditemukan kincir air sebagai alat penumbuk padi, fungsi lesung mulai ditinggalkan bahkan saat ini sudah jarang sekali masyarakat minangkabau mengunakan lesung sebagai alat penumbuk padi. Hanya pada saat tertentu pada masyarakat pedesaan lesung digunakan untuk menumbuk kopi dan itupun tidak banyak.

Ibu-ibu Sedang memaikan musik Alu Katentong

Seiring dengan menurunnya pengunaan lesung berpengaruh pada keberadaan kesenian alu katentong. Karena ada lesung dan alu tentu ada kesenian alu katentong. Alu katentong muncul dari keceriaan kaum hawa atau perempuan minangkabau dalam menumbuk padi. Diduga juga alu katentong muncul sebagai pengusir lelah dan bosan saat menumbuk padi.
Alu katentong bentuk ungkapan kegembiraan perempuan pada sat panen padi datang. Pukulan-pukulan alu di permukaan lesung menghasilkan irama yang mempesona. Dalam satu lesung ada beberapa perempuan memukul lesung sehingga menimbukan bunyi berirama.  Irama yang dihasilkan itu dimainkan dengan cara sistem interlocking dalam bahasa fisika.
Sistem interlock adalah suatu cara untuk mengamankan jalannya proses serta pengamanan perlatan dari unit paling kecil sampai keseleuruhan sistem. Dimana alat tersebut terkait satu sama lainnya, sehingga membentuk satu kesatuan yang akan bekerja secara serentak apabila kondisi proses atau alat mengalami gangguan. Pada prinsipnya, saat menumbuk padi di dalam lesung. Alu penumbuk tidak boleh masuk pada lubang lesung secara bersamaan karena akan mebuat padi bertumpahan. Konsep ini juga berlaku pada pemukulan alu pada kesenian alu katentong.
Kenapa dinamakan dengan Alu katenong, penulis menduga ini berasal dari bunyi awal dihasilkan pada saat menumbuk padi. Alu alat pemukul, Ka dalam bahasa minang sebuah kata kerja sedangkan tengtong berasal dari bunyi. Ten… tong…semacam irama yang beraturan atu zaman sekarang seperti mendengan bunyi bel. Didalam seni visuil irama merupakan suatu obyek yang ditandai dengan sistim pengulangan secara teratur.
Cara paling meyakinkan untuk mendapatkan irama adalah dengan memberi pola pada keadaan-keadaan tertentu. Cara berfikir orang minangkabau menganut falsafah alam takambang jadi guru maka dinamakan dengan kesenian ini alu katentong mengunakan lesung dan alu sebagai alat utama.
Atraksi Alu Katentong ini dimainkan oleh kaum wanita sebagai ekspresi kegembiraan kala menumbuk padi menggunakan alu di sebuah lesung dengan cara bergantian memukulkan alu tersebut ke lesung sehingga menghasilkan irama-irama bernuansa ceria. Diantara irama yang dihasilkan tersebut dikenal dengan istilah “alang babega” (elang melayang), “alang ka turun” (elang menukik) dan sebagainya. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s