Ukiran Pengaruh Kolonial Belanda

Singkarak, mendengar nama itu berbagai gambaran yang ada dalam ingatan orang. Bagi yang menyukai pemandangan mungkin saja keindahan danau lengkap dengan atribut permainan air. Bagi yang beberapa tahun ini mengikuti tour sepeda tingkat internasional tentu mengingat Tour De Singkarak. Berbeda lagi dengan pecinta kuliner tentu akan ingat dengan aneka olahan ikan Bilih. Berbagai ingatan yang mucul ketika mendengan kata Singkarak.

Jika anda dari Padang hendak menuju danau Singkarak, bukan tidak mungkin menemui rumah gadang dengan ukiran khas Minangkabau dibeberapa bagian sepanjang jalan.  Singkarak, tidak hanya menghadirkan pesona danau yang membiru, akan tetapi ada pensona lain yang tak kala menarik. Menurut cerita dulu Singkarak mempunyai seorang raja yang dijuluki sebagai Raja Singkarak. Sebagian mengatakan bahwa nama Singkarak berasal dari beban jawi nan baserak dikarenakan gerobaknya rusak.
Pada awal abad ke-20 Secara adrimistratif, Sumatera barat dijadikan sebagai sebuah residentie. Sebagai penguasa tertinggi di tempatkan residen pertaman Edward Cooles (1795-1796). Sesuai penjanjian London tahun 13 Agustus 1814, Inggris mengembalikan Indonesia (sebagian Nusantara) ke Belanda dan pertukarannya Inggris mendapatkan Pulau Tumasik( Singapura). Pada tanggal 22 Mei 1819 merupakan tanggal resmi penyerahan maka sejak itu Indonesia di bawah pemerintahan Belanda. (Gusti Asnan, 2006 : 29- 30). Semenjak penguasaan Belanda terhadap Sumatera Barat terjadi perubahan dalam sistem pemerintahan Taradisonal yang bersifat nagari menjadi sentralitik yang di atur oleh Belanda.
Ada 3 gelar atau jabatan baru dalam sistem aristokrasi yang diciptakan Belanda antara lain: pertama Kepala lareh semacam penghulu kepala yang membawahi penghulu – penghulu dari 2 atau lebih nagari dengan tugas bertanggung jawab atas keamanan, tanam kopi, mengerjakan sawah, menjamin jalan – jalan dan jembatan diwilayahnya, kedua Penghulu kepala membawahi setiap penghulu di setiap nagari tugas hampir sama dengan lareh akan tetapi ruang kerjanya hanya sebatas dalam nagari, ketiga Penghulu suku Rodi semacam ketua penghulu dari 1 suku dengan tugas menjalankan perintah atas dan menjaga perkebunan agar berjalan lancar. Gelar atau jabatan yang dibuat oleh Belanda, semua berada diluar ketentuan adat dan melanggar isi dari plakat panjang. (Rusli Amran, 1985 : 193 – 194) Begitu juga dengan nagari Singakrak. Di ngari ini ada ada kepala laras hood (dalam bahasa Belanda) dan demang masa kolonial Belanda yang berasal dari rumah gadang yang sama.
Barangkali hanya segelintir orang yang ingat dengan rumah gadang yang kaya akan ukiran. Beberapa Rumah gadang ini terletak di nagari Singakarak yang masih memakai ukiran.  Bertahannya rumah gadang dengan ukiran ini karena selamat dari pembakaran oleh Belanda saat terjadi agresi milter II.
Rumah gadang ini milik dari Dt. Mangkuto Sati yang di atas rumah ini Di rumah gadang ini yang menjadi kepala laras adalah Badue intan. Pada awalnnya terletak dilokasi disebut rumah usang yang kemudian diganti pada akhir tahun 1800. Pada tahun 1899 angku lareh atau Badue Intan membangun sebuah rumah gadang berukiran dengan 5 ruang yang disebut dengan rumah baru. Angku Demang yang juga orang rumah gadang ini (Ludin Dt. Mangkuto sati) meninggal tahun 1944 pada masa jepang. Beliau di bunuh karena tidak kooperatif dengan tentara rahasi Belanda. Pada saat agresi meiliter Belanda tahun 1949 saat  Belanda menduduki nagari Singkarak, semua orang pergi mengungsi ke hutan menyebabkan perkampungan sepi sehingga terjadi pembakaran dimana mana temasuk rumah gadang yang ada di nagari Singkarak mulai dari pasenggrahan sampai ke daerah Kubang gajah, akan tetapi salah satu keturunan dari Dt. Mangkuto sati yang bernama Suit mempertahakan rumah gadang ini yang bersedia menemui Belanda. masih dapat ditemui pada pintu masuk rumah ini tahun awal berdiri rumah gadang ini.

Menariknya adalah rumah gadang ini berdiri kokoh dan dipelihara oleh anak kemenakan, dan menandakan kebesaran di masalah lampau. Dari ukiran rumah gadang ini tertuang benbagai ukiran, bahkan ada ukiran pada bagaian paran ukiran yang berbentuk makhkota kerajaan yang ada di Eropa. Bisa dikatakan lebih tepatnya makhota kerajaan di Belanda. Pembauran antara ukiran khas Minangkabau dengan lambang dari kerajaan Belanda. Selain itu, berbagai macam ukiran khas minangkabau antara lain kuciang lalok jo saik galamai, saluak aka, lapiah batang jarami, ramo-ramo inggok di ujuang kayu dan masih banyak lainnya, akan tetapi yang menarik perhatian adalah persandingan antara ukutan khas minangkabau dengan ukiran khas makhota belanda. secara kasat mata dapat dilihat bahwa sana kebudayaan minangkabau ini dinamis dan dapat menerima perubahan tanpa meninggalkan kebudayaan asli.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s