Pentingnya Analogi dalam Prinsip Pelestarian Arkeologi

Arkeologi itu original, sebuah kalimat pembuka yang saya pahami bahwa nilai sebuah benda arkeologi terletak pada originalitas. Berbicara originalitas, para pemerhati, akademisi yang fokus pada benda arkeologi dihadapkan dengan pelestarian. Dalam prinsip pelestarian arkeologi, melestarikan bukan merubah bentuk, melestarikan bukan merubah nilai, bahwa menghilangkan kandungan informasi benda arkeologi.

Informasi yang terkandung dalam suatu benda arkeologi, memiliki mistri yang datang bahkan bisa menjadi bagian dalam pelaksanaan ilmu praktis. Walaupun demikian dalam prinsip pelestarian arkeologi harus ada kategori dalam pelestarian tidak semua benda peninggalan masa lalu dapat dikategorikan benda arkeologi. Benda tersebut menjelaskan suatu kebudayaan, ilmu pengetahuan, sejarah, dan agama yang ada pada masanya. 
Muatan atau endapan nilai-nilai yang terkandung dalam benda di transformasi dari masa lalu, sekarang dan dapat memprediksi masa akan datang. Dalam proses evolusi sejarah, peran manusia sangat menentukan sekali. Bahkan, manusia menjadi inti masalah dari gerak sejarah itu sendiri. Oleh karena manusia eksistensinya begitu kompleks sehingga mengandung nilai. Menurut Ankersmit, umumnya  terdapat  tiga hal yang  menjadi  kajian  dalam filsafat   sejarah  spekulatif,  yaitu pola  gerak  sejarah,  motor  pengerak proses sejarah, dan tujuan gerak sejarah. Nilai informasi yang ada pada masa lalu ini yang menjadi prediksi gerak sejarah dimasa depan.
Nilai-nilai tersebut menjelaskan segala perubahan-perubahan sosial masyarakat yang ada pada masa lalu. Ada beberapa yang perlu diketahui dalam prinsip-prinsip pelestarian arkeologi antara lain Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya, karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.
Benda cagar budaya adalah benda alam dan atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia, Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan atau tidak berdinding, dan beratap, Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yangmenyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia, Situs cagar budaya adalah lokasiyang berada di darat dan atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan atau strukturcagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.Kriteria benda cagar budaya antara lain, berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia5 0 (lima puluh) tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan, memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Zaman sekarang terjadi kesalahan pandangan atau cara berpikir mengenai benda cagar budaya, baik dari segi pengolahan, pelestarian, pemanfaatan, serta publikasi.
Hal ini akan terlihat jelas ketika terjadi pembangunan situs wisata kesejarahaan. Ketika benda arkeologi tersebut akan dijadikan kawasan wisata, akan terjadi pertentangan pandangan mengenai benda arkeologi. Di satu sisi benda tersebut akan terlihat seksi, menarik, megah ketika dibangun ulang maupun dipugar, sedangkan di pihak lain akan mempertahankan keaslian benda arkeologi walaupun sedikit cacat dimakan zaman.
Dalam prinsip-prinsip pelestarian arkeologi, sebuah benda arkeologi akan dipertahankan keasliannya untuk menjadi nilai-nilai yang terkandung dalam benda tersebut. Dan tidak diperbolehkan menukar keaslian benda arkeologi. Ketika terjadi perubahan secara fisik, struktur benda arkeologi akan menghancurkan sistem nilai yang diendapkan dalam benda arkeologi. Benda arkeologi, situs, kawasan, serta bangunan yang mewakili cara berpikir masyarakat pada zaman tersebut sehingga kehilangan salah satu unsur akan merubah sistem yang ada dan dapat mengubah pandangan kita dimasa sekarang. Mengabaikan prinsip-prinsip pelestarian arkeologi, berbagai unsur filosofis, unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan nilai kesejarahan akan hilang begitu saja tanpa bisa dilacak lebih jauh.Pemahaman yang salah dalam pelestarian benda arkeologi akan menghilangkan jalur akses informasi ke masa lalu. Sehingga data yang didapat dari penelitian, pelestarian, pemanfaatan, dan publikasi benda yang dilestarikan dengan mengabaikan prinsip-prinsip pelestarian akan memberikan data yang tidak valid untuk generasi akan datang.
Intinya, ketika terjadi perubahan baik benda arkeologi baik secara struktur, bangunan bahkan letak benda tersebut akan mengubah arus informasi yang terkandung. hal ini perlu diperhatikan dalam prinsip pelestarian arkeologi. sehingga dimasa yang akan datang informasi tidak akan mengubah cara berpikir masyarakat, baik yang didapat dimasa lalu dan masa sekarang serta masa depan sebagai contoh kita ambil dalam pemugaran sebuah bangunan tembok buatan masa Belanda. Ketika bangunan tersebut akan dipugar tetapi ada satu bagian tiang yang rusak, maka cara terbaik adalah mencarikan bahan bangunan yang sezaman yang telah roboh, kalaupun susah dicarikan bahan yang hampir serupa dengan bangunan yang akan dipugar.
cara seperti ini dalam prinsip pelestarian arkeologi dinamakan dengan analogi artinya dicarikan bahan yang hampir sama dengan bentuk asli. Benda arkeologi saat ini erat kalitannya dengan pariwisata. benda arkeologi merupakan aset dari pariwisata terutama wisata sejarah. keterkaitan ini tentunya berkaitan juga dengan pelestarian terutama dalam pemugaran. dalam hal ini pentingya prinsip pelestarian arkeologi dengan cara analogi diterapkan, jangan sampai mengabaikannya. Ada sebuah pandangan ketika seseorang wisatawan mancanegara dalam melihat wisata kesejarahan. Mereka akan melihat keaslian benda cagar budaya yang unik tanpa terkontaminasi oleh perkembangan zaman sekarang dan suasana masa lalu tergambar jelas.Kedepan, kita berharap akan lahir insan-insan generasi yang mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya, memanfaatkan benda arkeologi yang mengikuti alur prinsip-prinsip pelestarian arkeologi. Adanya sinkronisasi antara pembuat kebijakan, insan pariwisata, dan pengiat arkeologi baik di tingkat Lokal maupun Nasional. (Rahman Van Supatra)


Daftar Pustaka
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2008
Ed. Jenny Edkins- N.V Williams, Teori-Teori Kritis Menantang Pandangan Utama Studi Politik Internasional, Yogyakarta Edisi Indonesia diterbitka oleh Pustaka Baca 2011 hal 347
M. Munandar Soelaiman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Social, Bandung, PT Refika Aditama 2008
Undang-undang Cagar Budaya no 11 tahun 2011
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s