Tugu Demarkasi Sumbar : Buhul Arkeologi dan Sejarah

Hubertus Van Mook, sosok yang dikenal dalam sejarah Indonesia yang melahirkan garis pemisah wilayah Belanda dan Republik Indonesia di tanah Indonesia sendiri. Dia dilahirkan di semarang pada tanggal 30 mei 1894. Dia menjadi tokoh antagonis dalam sejarah perang kemerdekaan Indonesia. Saat sarapan pagi di Australia, dia terkaget mendengar Proklamasi Indonesia tahun 17 Agustus 1945.

Van Mook mulai memiliki insting akan ada situasi berat, tapi ketika Van Mook menyampaikan ini ke Van Der Plas, Van Der Plas hanya tersenyum kecil dan berkata singkat “Apa bisa sekelompok manusia penakut melawan Brigade tempur veteran perang dunia?”. Van Mook, letnan gubernur jenderal, penguasa Belanda tertinggi di Indonesia, dinasihati oleh Jenderal Schilling yang berpengalaman pada perang gerilya Aceh awal abad ini, bahwa Nederland perlu ratusan ribu tentara selama bertahun-tahun untuk memulihkan ketenteraman seperti sebelum 1941.

Peta garis demarkasi Van Mook dalam Digital Atlas of Indonesian History by Robert Cribb hal 157

Penetapan garis demarkasi van Mook itu, maka pasukan RI yang berada di daerah kantong (demiliterized zone) harus ditarik ke daerah RI. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis van Mook, yakni garis yang menghubungkan dua daerah terdepan yang diduduki Belanda. Dengan demikian Belanda yakin kematian RI tinggal soal waktu saja. Alasan yang dikemukakan oleh van Mook dalam gerakan-gerakannya sesudah penghentian tembak-menembak ialah operasi pengamanan (gerilya dianggap perampok). Menanggapi tindakan van Mook tersebut, wakil PM. A. K. Gani mengirim telegram ke Dewan Keamanan PBB pada tanggal 29 September membeberkan pelanggaaran-pelanggaran Belanda dan mendesak agar DK memerintahkan Belanda menarik mundur pasukannya ke tempat kedudukan sebelum penyerangan. Usul ini hanya mendapat dukungan dari Rusia dan Australia (anggota DK) dan India.

Insting Van Mook mulai terbukti, perlawanan di Surabaya dengan pekik bung Tomo, Ambarawa totalitas gerilia, Medan area, Padang area dengan tugu di Simpang Haru, Bandung dengan lautan api dan masih banyak lagi darah yang mengobarkan perlawanan. Van Mook Mulai pesimis.
Siang itu matahari masih tertutup awan, sehingga panasnya tidak terasa menyenyat, ban motor saya pecah dekat MAN tapakis, Padang Pariaman. Tepatnya di batang tapakis, saya melihat Tugu berdiri kokoh dipagari ranyai sekelilingnya. Tepat didepan Man Batang Tapakis itu. Awalnya saya tidak begitu ngeh terhadap tugu itu. Setelah mendekat saya berhenti  tulisan yang ada di tulgu itu kembali mengingatkan saya akan mata kuliah yang Sejarah Indonesia Kontemperer. 
Garis Demarkasi, iya, kalimat itu kembali mengingatkankan saya akan sosok Van Mookarsitek Garis demarkasi yang sering dikenal dengan Garis Van Mook. Perjalanan saya uintuk pulang kampung terhenti sejenak untuk mengabadiakn tugu ini. 15 Oktober 2011 tanggal dimana saya mengabadikan Tugu garis van mook.  Kiranya tinggi tugu ini sekitar 2,5 meter dann berada di tepi sungai. 

Tugu Demarkasi Utara di Tapakis, Padang Pariaman

Kalau dari kota Padang hendak menuju kota Bukittinggi,  setelah pasar Lubuk Alung ada jembatan yang lebar tugu batas garis Van Mook ini akan terlihat jelas. Cat kuning melekat di tugu ini mulai memudar, namun tulisan dan tanggal yang ada di sana masih terlihat jelas. Agaknya Gempa tahun September 2009 juga memberikan efek terhadap tugu ini. Pondasi dasar dari tugu ini tidak lagi rata dan retak akibat gempa. Narasumber, iya saya tidak menemukan narasumber yang dapat menceritakan riwayat tugu gasis Van Mook ini secara kasar. Tugu ini sendiri menjadi jejak sejarah Van Mook yang membagi-bagi wilayah Indonesia sakalamak atinyo sajo (seenaknya saja).
Tugu yang ada di batang Tapakis ini, saya asumsikan untuk batas daerah yang ada di utara Sumatera Barat. Bagaimana dengan daerah yang ada di Selatan, barat, dan timur. Sampai pada bulan 09 Oktober 2013. Tepat 2 tahun kuran 2 hari setelah penemuan tugu di utara saya juga berkesempatan untuk menjepret foto tugu yang ada di Selatan Sumatera Barat. Entah kebetualn sama sama di bulan Oktober.

Tugu Demarkasi selatan di siguntua, Pesisir Selatan

Perjalanan ke selatan Sumatera Barat ini sedikit terencana tapi bukan untuk menyilau tugu Renville yang ada di Pesisir selatan ini. Adeng Hudaya teman angkatan saya yang asli Air haji meminta saya untuk menemani dia membayar pajak motor ke kota Painan. Saya berangkat hari rabu dengan motor supra fit yang sehari-hari menemani Adeng. Dalam perjalanan sebelah kanan di nagari Siguntua Koto XI Tarusan, atau tidak jauh dari perbatasan antara Padang dan Pesisir selatan tugu putih setelah tikungan berdiri tugu putih. Dan itu adalah tugu Renville yang ada di daerah selatan Sumatera Barat. Tampaknya tugu ini terawat dengan baik dan semak-semak sekitarnya sudah dibersihkan. Tugu ini dipagar dengan besi sekelilingnya.
Garis Demarkasi atau garis Van Mook pemisah wilayah antara Indonesia dan Wilayah hasil pendudukan Belanda sekan menegaskan pola pikir Van Mook bahwa jika ingin menguasai Indonesia lakukan adu domba dan pecah wilayahnya.(Rahman Van Supatra)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s