Potensi Arkeologi Bawah Air

Jika di Yunani kuno penguasa laut adalah Poseidon, rasanya tidak begitu jauh dengan penguasa tinggalan sejarah bawah air di teliti oleh arkeolog bawah air. Jauh sebelum pesawat terbang menguasai udara, laut, sungai maupun lalu lintas mengandalkan air sebagai sarana transportasi. Transportasi mengandalkan air sebagai jalur. Pentingnya air zaman pra pesawat terbang tentu meninggalkan jejak sejarah. Terutama bangkai kapal tenggelam maupun tinggalan lainnya yang ada di dalam air.

Aktifitas manusia yang sangat beragam sepanjang sejarah mereka telah meninggalkan banyak tinggalan purbakala di berbagai perairan ini. Bukti-bukti aktifitas itu sangat penting untuk memahami manusia itu sendiri. Mobilitas, perdagangan, kepercayaan, teknologi, sampai dengan hal-hal yang tidak terpikirkan menjadi bukti sejarah masa lalu yang menciptakan kehidupan seperti yang kita kenal sekarang. Oleh karena itu, sangat masuk akal bila bukti-bukti arkeologi di bawah air pun perlu memperoleh perhatian seperti halnya penemuan arkeologi yang berada di matra darat.[1]

Sesuai namanya, arkeologi bawah air yang disingkat ABA hampir selalu berhubungan dengan wilayah perairan, yaitu: laut, danau, sungai, dan rawa. Di Benua Amerika matra ABA juga mencakup wilayah darat, khususnya sungai-sungai dan danau di dalam gua. Tradisi Bangsa Indian, Inca, dan Astek untuk
membuang benda-benda yang berhubungan dengan upacara pemujaan mereka ke dalam air yang dipercaya menghubungkan dunia fana dengan para penguasa “dunia bawah” (the under world)[2]
Aktifitas manusia dengan kapal dan perahunya dalam berlayar untuk mengarungi lautan bukan berarti tidak mendapatkan kendala. Tidak semua pelayaran yang mereka lakukan berhasil sampai ke tujuannya. Sehingga hal yang lumrah ketika terjadi musibah kapal tenggelam saat mereka berlayar di lautan atau kapal yang karam karena dihantam serangan dari musuh saat mereka bertempur di lautan. Sejak pertama kali manusia mengenal kapal maka sejak itu pula musibah kapal tenggelam terjadi dan akhirnya kemudian karam di dasar laut. Hal itu menjadi daya tarik bagi sebagian orang untuk mengetahui lebih jauh tentang kapal karam tersebut. Hal yang paling menarik buat mereka adalah, ‘harta karun” yang terdapat di kapal karam tersebut. Karena kapal-kapal yang karam biasanya juga merupakan kapal yang mengangkut komoditi perdagangan yang ada pada masa itu, seperti logam mulia, keramik, porselin maupun beragam bentuk senjata yang terdapat dalam kapal yang nilainya sangat mahal. Awalnya kegiatan arkeologi bawah air belumlah dikenal, yang ada hanya perburuan-perburuan harta karun dari kapal karam. Selama ribuan tahun, para pemburu harta karun itu hanya dilengkapi dengan alat-alat seperti jaring, penangkap atau grab dan kait yang mereka pergunakan untuk mendapatkan harta karun dan itu pun hanya dapat dilakukan di perairan yang dangkal dan jernih karena teknologi pakaian selam belum ada pada saat itu.[3]
penelitian arkeologi bawah air, ruang lingkup arkeologi bawah air di Indonesia masih lebih difokuskan pada kapal karam di dasar laut, bahkan secara rinci disebutkan oleh Direktur Riset dan Sumber Daya Alam titik-titik dari keberadaan kapal karam di perairan Indonesia yang sampai detik ini belum semuanya tuntas diekploirasi. Hanya saja yang perlu kita ingat bahwasannya ruang lingkup objek kajian arkeologi bawah air bukan hanya kapal karam beserta muatannya saja tetapi juga sisa aktifitas manusia lainnya yang berada di bawah permukaan air, sehingga bisa saja objek tersebut tidak menggambarkan aktifitas ke maritiman, salah satu contohnya adalah reruntuhan bangunan kuno di dasar laut merah yang disinyalir sebagai bekas istananya Cleopatra. Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan arkeologi bawah air pada dasarnya sama dengan tujuan arkeologi secara umum, yang membedakannya adalah objek arkeologi bawah air berada di bawah permukaan air, sehingga secara teknis metode ataupun penanganannya tentu harus disesuikan dengan kondisi yang ada.
Pendekatan arkeologi bawah air mengunakan dua cara pendekatan. Pertama pendekatan berdasarkan kerangka kesejarahan ( historical particularism), yang menekankan perhatian pada artefak dan fungsinya sebagai langkah utama, dan penting bagi penyusunan hipotesa yang luas. Keduaadalah pendekatan berdasarkan kerangka pemikiran antropologis (anthropological approach), yang cenderung berangkat dari kerangka pemikiran hipotesis dan menggunakan asemblage artefak yang telah diklasifikasi dan dimengerti materialnya sebagai dasar kajian untuk menjelaskan berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lalu (Green 1990). Studi atas situs-situs kapal akan memperlengkap penelitian arkeologi daratan dan pemahaman atas kebudayaan manusia masa lalu. Upaya mendapatkan data kehidupan masa lalu yang sebagian besar tertutup sedimentasi yang terjadi sesudahnya sehingga memerlukan cara khusus. Survey mengawali aktifitas tersebut. Kegiatannnya berupa pengamatan terhadap tinggalan arkeologis disertai dengan analisis. Kerja ini dapat dilakukan dengan mencari keterangan penduduk atau melacak berita dalam naskah kuna, literatur atau laporan penemuan. Selanjutnya adalah ekskavasi yang dalam arkeologi adalah upaya mengupas lapisan sedimentasi untuk menampakkan sisa-sisa benda budaya yang diselimutinya. Kelak bukti aktifitas masa lalu itu menjadi sarana pengungkapan aspek-aspek yang dikandungnya. Mengenai hal ini tidak ada perbedaan antara arkeologi darat dan arkeologi bawah air, sehingga arkeologi bawah air pun memberlakukan metode klasifikasi dan analisis sistematis terhadap artefaknya.
Ketika objek kajian arkeologi bawah air berupa kapal karam, tentu saja kita akan berusaha untuk mendapatkan gambaran tentang aktifitas kemaritiman yang terjadi, tapi ketika yang kita temukan adalah sisa reruntuhan istana atau bekas pemukiman maka yang akan kita dapatkan mungkin saja tidak ada kaitannya dengan aktifitas maritim secara langsung. Jadi pada hakekatnya inti dari ruang lingkup kajian arkeologi bawah air bukan hanya aktifitas kemaritiman semata, tetapi keseluruhan aktifitas manusia yang terdepositkan dalam benda sisa aktifitas manusia yang ‘kebetulan’ berada di bawah air. Karena keberadaanya yang tidak di daratan, kajian arkeologi bawah air pun meliputi hal-hal yang berkaitan dengan dunia penyelaman untuk memudahkan kita dalam melaksanakan penelitian arkeologi bawah air.
Demikianlah, kajian arkeologi bawah air terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi. Temuan-temuan arkeologi bawah air pun tidak terbatas di laut saja tetapi ditemukan pula di danau maupun di sungai. Sedangkan dari segi objek temuan, tidak hanya berupa kapal atau perahu saja tetapi banyak situs arkeologi bawah air yang temuannya berupa pemukiman yang tenggelam bahkan bekas istana. Sehingga arkeologi bawah air sebagai suatu studi ilmiah dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan manusia masa lampau berdasarkan tinggalan material budayanya yang masih berada di bawah air. Dimana ruang lingkupnya tidak hanya terbatas pada tinggalan dari aktifitas yang berhubungan dengan pelayaran, perkapalan, perdagangan dan peperangan laut semata. Tetapi juga mencangkup tinggalan-tinggalan lain yang masih berada di bawah air, seperti bekas pemukiman kota Pompeii, Port Royal di Jamaika yang merupakan bekas perkotaan yang tenggelam, reruntuhan bangunan yang diduga bekas istana Cleopatra di laut Merah, sebuah bangunan lama berusia kira-kira 7.500 tahun di dasar Laut Hitam, dekat pantai Turki yang diduga merupakan bukti dari kejadian banjir besar di jaman Nabi Nuh dan situs-situs lainnya.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa bidang kajian penelitian arkeologi bawah air dewasa ini sudah meliputi Perahu/Kapal karam dan komponennya, serta komoditas /benda yang diangkut stuktur dan mekanisme masyarakat masa lalu (Green,1990). Dengan demikian Arkeologi Bawah air secara umum tidak berbeda dengan penelitian arkeologi darat. Secara khusus, arkeologi bawah air ditujukan bagi aktivitas penelitian arkeologi terhadap data arkeologis yang berasal dari bawah permukaan air, meliputi; Laut, sungai, danau, maupun bentuk perairan lainnya. Penemuan bukti kehidupan masa lampau di dasar perairan berkenaan dengan akktivitas manusia, seperti pelayaran dan perdagangan laut yang menghasilkan situs-situs bangkai perahu/kapal. Juga aktivitas alam seperti penurunan elevasi laut yang besar pengaruhnya terhadap daerah pantai atau peristiwa katastrofi lain berupa gempa vulkanik/tektonik yang kelak memunculkan, antara lain situs-situs pelabuhan dan pemukiman yang sekarang berada di bawah air. Hal ini berarti, kajian diluar itu tidaklah termasuk ruang lingkup arkeologi bawah air
Di Indonesia, AM terkenal dikalangan arkeolog lewat penelitian perahu kuno yang dipelopori oleh Pierre-Yves Manguin pada tahun 1977 dan ABA mulai dilirik oleh arkeolog pada tahun 1978, namun hal tersebut menemui berbagai kendala, seperti peralatan yang mahal ditambah kemampuan menyelam arkeolog kurang. Akhirnya, pada 1979, seorang tenaga peneliti Indonesia, yakni Nurhadi, berkesempatan mengikuti latihan ABA yang dikaitkan dengan AM di Thailand. Penelitian itu dimulai pada 1980, ketika SPAFA (Organisasi Para Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ASEAN) menyelenggarakan program ABA dan AM. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1981, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menguji coba kegiatan ABA, bekerja sama dengan Pasukan Katak dari Armada RI Wilayah Timur (Susantio, 2010).
Secara institusional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan kebudayaan membentuk Seksi Pengendalian Peninggalan Bawah air yang bertugas mengurusi peninggalan sumberdaya budaya bawah air. Perkembangan ABA pun mulai berkembang pesat dengan alasan bahwa sumberdaya budaya di bawah air di Indonesia sangat melimpah dan juga ketakutan para peneliti akan adanya aktivitas penjarahan tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut. Institusi arkeologi juga melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka menambah sumberdaya manusia di bidang ABA, yang selama ini jumlahnya sangat kurang (Hakim, 2013).
Berdasarkan sumber Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Oceanologi tahun 2006, tercatat sekitar 463 titik situs ABA, Arsip Organisasi Arkeologi di Belanda sekitar 245 kapal VOC, dan Tony Wells’s Shipwrecks & Sunken Tresure, sekitar 186 kapal VOC. Kegiatan penelitian terhadap situs-situs bawah air gencar dilakukan di perairan nusantara, misalnya penelitian pada tahun 1990an di Pulau Buaya, kapal kargo Tak Sing, Intan, Tang, Nlanakan, Wreck dan tahun 2000an dilakukan penelitian di Selat Karimata, Perairan Utara Cirebon, Karang Haleputan Riau, Batang Selatan Riau, Karang Tombak, Bintang Utara Riau. Kegiatan survei ABA juga sudah banyak dilakukan seperti kegiatan survei yang diprogramkan oleh BPPP Makassar setiap tahunnya (Hakim, 2013).[4]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s