Masyarakat Sekitar Stasiun Pulo Aie

Stasiun kereta api merupakan hal utama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan perkeretaapian di Sumatera Barat pada awal kemerdekaan masih mengunakan fasilitas peninggalan Belanda, Indonesia pada masa itu belum mampu untuk mendatangkan faslitas berupa gerbong, penembahan jalur baru, pembuatan stasiun baru. Hal ini melihat keperluan yang ada, kereta api pada masa itu untuk  pengakutan batubara dari sawahlunto, pengakutan semen dan alat transportasi masal. Meski demikian, era 1950-an menjadi penting dengan datangnya lokomotif diesel. Pada 1957-1967 sekitar 250 lokomotif diesel beroperasi, dan menggantikan berbagai lok uap yang banyak beroperasi di lintasan utama. Di tahun 1963, DKA berubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA).
Stasiun kereta api sebagaimana dimaksud dalam undang-undang nomor 23 tahun 2007 ini  berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk melayani :
            1. Naik turun penumpang,
            2. Bongkar muat barang; dan/atau
            3. Keperluan operasi kereta api.
            Sejak berdirinya stasiun Pulo Aie hingga ditutupnya stasiun, stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh warga kota Padang. Keberadaan stasiun kereta api Pulo Aie memberikan dampak bagi masyarakat setempat. Stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh calon penumpang, sehingga masyarakat memanfaatkan situasi ini untuk mencari rezeki melalui berjualan dan sebagai buruh. Dagangan yang dijual biasanya lontong, kacang padi, kopi, gorengan dan rokok.  Sehingga tidak jauh dari lokasi stasiun banyak berdiri tenda lapau yang menyajikan aneka makanan dan minuman.
            “Setiap pagi, suasana stasiun kala itu selalu ramai oleh warga kota. Umumnya, para pedagang di Padang dan Pariaman yang memanfaatkan moda kereta api. Bapak Zaherwin rindu suasana itu. Ramai, dan ekonomi masyarakat menggeliat”.
Pedagang tidak diperbolehkan berdagang di dalam kawasan stasiun, mereka berdagang di luar kawasan stasiun. Ada juga para pedagang yang berdagang di depan rumah mereka. Biasanya para pedagang ini merupakan pedagang turun temurun dari keluarganya. Namun ada juga pedagang yang bukan dari keluarganya, melainkan pedagang yang memulai menjadi pedagang karena untuk menambah rezeki.
Setiap setelah shalat subuh, biasanya para pegadang menyiapkan barang dagangannya, karena kereta api berangkat pukul 6 pagi. Tidak jarang calon penumpang membeli makanan dan minuman sebelum kereta berangkat. Namun tidak hanya calon penumpang kereta api yang makan dan minum di lapau tetapi para buruh juga makan dan minum di lapau itu. Kurang dari pukul 10 pagi lontong dan kacang padi telah habis. Pada siang harinya para pedagang menjual nasi Ampera. Para pedagang biasanya menutup lapaunya pukul 6 sore.
Keuntungan yang didapat dari berdagang mencapai dua kali lipat dari modal pertamanya. Hal ini memicu sebagian masyakat untuk ikut berdagang, namun di antara pedagang tidak ada saingan atau iri bila deganganya sepi dikunjungi. Mereka yakin rezeki ini pasti datang.  Interaksi antara pedagang berjalan dengan baik, tidak ada pertengkaran antar pedagang dan semua harga barang yang dijual merata, tidak ada yang lebih murah dan tidak ada yang lebih mahal. Terkadang kepala gudang memberi informasi kepada pemilik lapau bahwasanya barang yang dibawa kereta api akan datang, setelah itu pemilik lapau memberi informasi lagi kepada para buruh. Dengan adanya stasiun ini yang selalu dikunjingi calon penumpang memberikan keuntungan bagi para pedagang. Semua kebutuhan perekonomian pedagang terpenuhi, mulai dari kebutuhan primer dan skunder.
Selain berjualan, masyarakat juga mencari rezeki sebagai buruh, karena stasiun ini selalu membawa dan mengirim barang. Biasanya barang dimasukan ke gudang-gudang disepanjang Batang Arau dan ada juga barang yang langsung dijual di Pasa Gadang, maka munculah buruh angkat di stasiun kereta api Pulo Aie. Buruh yang bekerja mengangkat barang-barang dari stasiun Pulo Aie ke gudang yang ada di sepanjang Batang Arau dan Pasa Gadang adalah buruh lepas, sistem upahnya harian, tergantung jumlah barang yang diangkat tiap harinya. Kegiatan bongkar barang telah berlangsung semenjak kereta api berada hingga saat ini, walaupun hanya ada beberapa buruh saja yang bekerja. 
Adapun masyarakat yang menjadi buruh merupakan warga yang telah menetap lama di sekitar kawasan stasiun, dan ada juga warga yang bukan orang asli dari kawasan stasiun. Kehidupan ekonomi  buruh tercukupi, mulai dari pangan, sandang dan papan. Bahkan ada buruh yang mampu menyekolahkan semua anak-anaknya kejenjang Universitas di Padang. 
“saya telah lama bekerja sebagai buruh disini, karena orang tua (Bapak) saya dahulu  pegawai DKA (Djawatan kereta api). Pada umumnnya setiap orang yang ada disini menjadi buruh terlebih dahulu, istilahnya memulai kehidupan dari bawah sampai mereka berhasil, ada juga yang menjadi pegawai pemerintah, bekerja swasta. Pada umumnya mereka merasakan bagaimana kerasnya kehidupan.”
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, tanpa interaksi social tidak akan ada kehidupan bersama-sama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok social. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling bicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu jutuan bersama, mengadakan persaingan, dan lain sebagainya. 
Interaksi sosial yang terjadi di antara sesama buruh dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, interaksi yang terjadi pada saat bekerja dan interaksi pada saat tidak bekerja atau pada saat istirahat makan siang. Interaksi pada saat bekerja mereka membentuk kerja sama untuk mengangkat barang yang datang dan dibawa ke gudang dan ke Pasa Gadang. Karena dilatarbelakangi oleh sistem kerja, jadwal kerja yang sama terhadap mereka, sehingga dengan keadaan seperti itu terwujudlah rasa senasib sepenanggungan.
Para buruh tidak hanya bertemu di lokasi kerja, tetapi mereka juga bertemu melalui kegiatan lainya, seperti pada saat lebaran, mereka saling berkunjung ke rumah sambil silaturahmi. Mereka juga saling tolong menolong bila ada salah satu buruh yang sedang menikahkan anaknya. Selain itu bila ada salah satu keluarga buruh sedang kemalangan seperti sakit, meninggal, dan lain-lain, mereka juga akan datang menjenguk bersama keluarganya.
Gambaran umum bahwa kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitar stasiun yang semakin mengalami perkembangan dan perubahan. Meskipun kehidupan yang terjadi senantiasa mengalami pasang surut, namun hal tersebut tidak menjadi sebuah hambatan untuk terjalinnya hubungan yang baik antar masyarakat. Hubungan yang terjalin antar masyarakat, selain didasarkan kepada hubungan pekerjaan didasari pula oleh adanya sikap saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Diawal tahun 1960-an perekonomian masyarakat menggeliat, stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh calon penumpang dan aktifitas bongkar barang, namun pada awal tahun 1980-an perekonomian masyarakat mulai menurun, dikarenakan aktifitas kereta api di stasiun Pulo aie mengalami menurun karena kalah saing dengan kendaraan bermotor. Kereta api kehilangan pamornya, calon penumpang dan pengirim barang lebih memilih penggunakan bus dan truk. Akhirnya pada tahun 1983 stasiun kereta api Pulo Aie ditutup.(Yusman Karim)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s