Merangkai Peninggalan Arkeologi di Eks Kabupaten Pasaman

Eks Kabupaten Pasaman dan juga daerah lainnya di pesisir barat Sumatera Barat pernah dikuasai oleh Kerajaan Aceh, sekaligus tercatat menjadi tempat persinggahan pedagang asing. Seorang pujangga India yang pernah singgah di daerah ini menyebutkan bahwa di Air Bangis pernah berdiri sebuah kerajaan yang aman, makmur, dan pasarnya selalu ramai baik pada siang maupun malam hari. Kerajaan tersebut memiliki hubungan yang erat dengan daerah-daerah lainnya seperti Ujung Gading, Sungai Aur, Aur Kuning, Paritbatu (Kota Baru), Kinali, dan sebagainya.

Selain mengekspor lada, Pasaman juga merupakan tempat penampungan emas dari daerah sekitarnya yang dikirim melalui Sungai Siak menuju ke daerah Patapahan dan selanjutnya dibawa ke pantai timur Sumatera melalui Selat Malaka (Mansoer,1970: 4). Masyarakat eks Kabupaten Pasaman merupakan campuran antara orang Batak dari sub etnis Mandailing yang telah menganut Islam dan orang Melayu (Marsden, 1999: 210). Dalam berbahasa mereka menggunakan bahasa Minangkabau dan Mandailing sehingga dikatakan sebagai daerah berdwi-kebudayaan (Mansoer dkk, 1970: 4). Batara Sangti mengemukakan bahwa ada beberapa marga yang berasal dari pusat negeri Toba tua melakukan migrasi ke daerah Mandailing dengan maksud membendung penetrasi dan ekspansi Kerajaan Minangkabau (Sangti, 1977: 47).
Hal itu dikuatkan oleh mantan asisten residen di Tanjung Balai, M. Hamerster dalam bukunya “Bijdrage tot de Kennis van Afdeling Asahan”, bahwa raja yang pertama kali memerintah Kota Pinang adalah Sultan Batara Guru Pinayung, putera Sultan Alamsyah Sayifuddin, Raja Negeri Pagaruyung Alam Minangkabau. Mengenai sejarah penyebaran agama, jauh sebelum berkembangnya pengaruh kebudayaan Islam di Pasaman, telah ada bukti unsur pengaruh kebudayaan Hindu – Buddha, seperti bangunan candi di Tanjung Medan disertai temuan 2 buah arca singa dan sebuah fragmen arca tokoh yang diduga sebagai dwarapala. Walaupun belum diketahui dengan pasti latar belakang keagamaannya, namun dugaan sementara umur pembuatannya tidak jauh dari masa kejayaan Kerajaan Melayu Swarnabhumi.
Sejarah keberadaan Kerajaan Swarnabhumi telah diteliti oleh kontrolir Belanda, Verkerk Pistorius pada tahun 1868 yang menuliskan bahwa di DAS Batanghari pernah berkembang kebudayaan Hindu (Amran, 1981:17). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, keletakan situsnya termasuk dalam wilayah Kabupaten Sawahlunto yang meliputi Padanglaweh, Padangrocok – Seilangsat, Seguntur, Pulausawah, Rembahan dan Lubuk bulan.
Kemungkinan situs-situs tersebut dari masa kejayaan Kerajaan Swarnabhumi sekitar abad XIII – XIV Masehi. Kitab Pararaton dan Negarakertagama menyebutkan bahwa pada tahun 1275 Masehi Raja Kertanegara dari Singasari mengirimkan tentaranya ke Melayu (ekspedisi Pamalayu), menjalin persahabatan dengan Kerajaan Swarnabhumi untuk bekerjasama dalam menghadapi ekspansi yang akan dilancarkan Kubilai Khan. Untuk mempererat persahabatan itu Kertanegara mengirim arca Amogapasha pada tahun 1286 (Djoened, 1990:83-85).
Hal itu menunjukkan bahwa Eks Kabupaten Pasaman dahulu merupakan tempat bagi terjadinya persentuhan berbagai aktivitas dari kebudayaan besar yang mewakili masa Hindu-buddha, Islam, dan pengaruh kebudayaan etnis Batak. Bukti tertua berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan bercorak Hindu-Buddha di eks Kabupaten Pasaman adalah berupa biaro/candi arca-arca, maupun prasasti yang menyebutkan tentang keberadaan seorang tokoh pendiri Kerajaan Pagaruyung, yaitu Adityawarman. Bukti-bukti ini didukung juga dengan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kebudayaan Hindu-Buddha dapat dirunut setidaknya dari abad ke-12.
Pada masa selanjutnya, temuan berasal masa Islam dan kolonial menunjukkan bahwa peran Pasaman tidak berhenti ketika peradaban bercorak Hindu-Buddha mulai surut, akibat kerasnya gerakan Paderi yang dengan sengaja memusnahkan semua warisan budaya yang berbau Hindu-Buddha. Kekuasaan beralih ke tangan para sultan yang telah memeluk agama Islam. Selanjutnya tinggalan bercorak Islam/kolonial menggantikan kebudayaan yang telah ada sebelumnya. Tinggalan berupa bangunan tradisionil Rumah Adat Raja Sontang maupun bangunan rumah adat yang lain merupakan salah satu bukti keberadaan tinggalan budaya yang telah ada sebelum berkobarnya gerakan Paderi.
Hal ini merupakan kesinambungan budaya setempat disaat munculnya corak kebudayaan baru yang datang dan berkembang di tengah keragaman budaya yang silih berganti mewarnai daerah ini. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun pada saat Islam menacapkan pengaruhnya dengan sangat kuat namun kebiasaan masyarakat yang telah ada sebelumnya tetap dipertahankan bahkan sampai saat ini tinggalan yang masih tersisa, baik berupa bangunan bercorak Hindu- Buddha, Islam/kolonial maupun bangunan modern berdampingan mewarnai keberagaman perjalanan sejarah eks Kabupaten Pasaman.
PENELITIAN ARKEOLOGI DI EKS KABUPATEN PASAMAN PROVINSI SUMATERA BARAT
Repelita Wahyu Oetomo, Balai Arkeologi Medan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s