INS Kayutanam

Ruang Pendidikan INS Kayutanam berdiri pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 31 Oktober 1926 oleh Mohammad Sjafei yang bernama Indonesisch Nederlansch School. Ruang Pendidik INS Kayutanam merupakan sebuah lembaga pendidikan swasta berbasis talenta yang berada di Nagari Kayutanam tepatnya Desa Palabihan, Kecamatan 2×11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman. Ruang Pendidik SMA INS Kayutanam tidak hanya sekedar mempersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dalam konteks pengetahuan saja, tetapi lebih mengembangkan bakat bawaan (talenta) anak didik tersebut. Bakat yang perlu dikembangkan mencakup potensi intelektual, potensi, keterampilan, dan potensi spritual atau akhlak mulia. Semua bakat ini menjadi paling utama dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa, yang nantinya akan melahirkan anak didik yang tidak hanya cakap ilmu pengetahuan tetapi memiliki kemampuan keterampilan.

Sumatera Barat, tepatnya daerah Minangkabau telah melahirkan pemikir-pemikir yang memiliki jiwa-jiwa besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan memiliki peranan penting di bidang pendidikan seperti Haji Agus Salim, Dahlan Djambek, Dr. Mohammad Hatta, Rahma El Yunusiah, Rohana Kudus, Mohammad Sjafei, dan banyak lagi tokoh pemikir nasional yang ahli di bidang lainnya yang dapat dilihat sesuai zamannya.[1]
Dari tokoh pemikir-pemikir nasional di atas melahirkan sekolah-sekolah Islam modern dan sekolah sekuler bercorak nasional yang masing-masing sudah menerapkan sekolah asrama, diantaranya Adabiah School Padang (1909), Sekolah Thawalib Padang Panjang (1914), Diniyah Putri Padang Panjang (1923), Taman Siswa Padang (1922). Di antara lembaga pendidikan yang tersebut ada satu sekolah modern bercorak nasional yang peranannya cukup besar pada perkembangan dunia pendidikan Indonesia, khususnya di Sumatera Barat yaitu Ruang Pendidik INS Kayutanam yang berdiri pada pada tanggal 31 Oktober 1926.[2]Mohammad Sjafei bukanlah seorang politikus, namun karena tuntutan dan pengaruh dari ayahnya menjadikan  Mohammad Sjafei untuk mengabdikan hidupnya di bidang pendidikan yang tujuannya untuk dapat membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Mohammad Sjafei merupakansalah satu tokoh pelopor gerakan perubahan di bidang pendidikan, dengan memiliki sistem pendidikan yang berorientasi pada keterampilan tangan dalam pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan kunci utama dalam pendidikannya. Berdasarkan keyakinan itulah Mohammad Sjafei mendirikan sekolah yang khusus mendidik pribadi yang baik melalui pelajaran keterampilan tangan. Menurut Mohammad Sjafei, keterampilan tangan memiliki beberapa kebaikan, selain bersifat produktif, juga dapat memupuk watak yang baik dalam diri manusia.[3]
Perkembangan sistem pendidikan Indonesia tidak terlepas dari politik Hindia Belanda yang dimulai pada awal abad ke-20, yaitu dikeluarkannya Politik Etis. Tujuan dikeluarkannya politik etis ini agar pemerintah Hindia Belanda lebih banyak mencampuri urusan kemasyarakatan bangsa Indonesia. Selain itu politik etis juga menjadi landasan dari langkah-langkah sistem pendidikan Hindia Belanda yang terdiri dari: Pertama, pendidikan dan pengetahuan Barat sebanyak mungkin diterapkan untuk Bumi Putera, salah satunya Bahasa Belanda dijadikan sebagai bahasa pengantar setiap sekolah yang didirikan pemerintah Hindia Belanda. Kedua, pendidikan yang diberikan pemerintah Hindia Belanda untuk Bumi Putera hanya disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dasar pendidikan yang diterapkan Mohammad Sjafei pada bakal calon sekolahnya ini adalah memberi keseimbangan antara hati, otak dan tangan yang terpusat pada pendidikan watak. Konsep pendidikan Mohammad Sjafei ini ibarat tungku tigo sajarangan dalam falsafah Minangkabau artinya tiga komponen ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Selain itu pendidikan yang diterapkan Mohammad Sjafei pada sekolahnya tidak akan menjadikan anak Indonesia jauh dari masyarakat seperti pendidikan kolonial. Namun sebaliknya pendidikan INS berorientasi pada masyarakat dan berpusat pada siswa.[4]
SMA INS Kayutanam sebagai sebuah lembaga terbentuk, tersusun dan terstruktur untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Sedangkan sebagai lembaga sosial SMA INS Kayutanam merupakan lembaga yang menghimpun nilai dan norma-norma dari segala tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. Ruang Pendidik SMA INS Kayutanam merupakan perwujudan keinginan Mohammad Sjafei atas cita-cita dari kedua orang tua angkatnya untuk memajukan pendidikan Indonesia khususnya untuk Sumatera Barat dengan menerapkan pendidikan berdasarkan bakat yang dimiliki setiap calon peserta didik. Agar peserta didik mendapatkan pendidikan yang efektif maka Mohammad Sjafei menerapkan sistem boarding school (sekolah asrama) pada sekolahnya.[5]
Masa pendudukan Jepang corak pendidikan di Sumatera Barat pada urnumnya mengalami perubahan yang besar, seperti nama-nama sekolah diganti dengan bahasa Jepang, menerapkan peraturan hormat menghadap ke Jepang atau disebut Seikere yang harus dilakukan setiap pagi oleh guru dan murid secara bersama,  melaksanakan senam massal (Taiso), setiap murid harus mengikuti latihan kemiliteran, seperti : Seinendan, Bogodan, Heiko, Giyugun, yang semuanya ditujukan untuk kepentingan peperangan Jepang, yaitu Perang Asia Timur Raya. Semua keadaan diatas juga berlaku pada RP-INS Kayutanam dimana kegiatan pendidikan tidak berjalan dengan baik seperti yang diharapkan meskipun pihak Jepang membolehkan perguruan ini menjalankan proses pendidikan.[6]
Peranan Ruang Pendidik INS Kayutanam masa penduduk Jepang bergeser dari sebuah lembaga pendidikan hingga menjadi pusat pergerakan politik dibawah kekuasaan militer Jepang. RP-INS dijadikan sebagai tempat pembinaan mental dan kesadaran diri untuk merdeka serta melatih ketangkasan berperang yang tidak pernah diperoleh pemuda Indonesia terutama Sumatera Barat masa pemerintah kolonial Belanda. Setiap pemuda Indonesia diwajibkan bergabung kedalam laskar rakyat seperti Hokokai, Giyugun, Seinendan, dan Peta.[7]
            Pada masa kemerdekaan RP-INS menjadi pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia di Sumatera Barat. Dalam perjuang kemerdekaan perguruan ini memberi perhatian yang sangat penting. Masa revolusi kemerdekaan merupakan zaman yang paling berat bagi RP-INS Kayutanam sekaligus menjadi awal mulanya keruntuhan dari perguruan ini.
Hal ini disebabkan oleh pemindahan kekuasaan antara Jepang dan Indonesia yang menimbulkan terjadi kegaduhan pada pemerintahan pusat. Hal ini dikarenakan kehidupan bangsa dan pemerintah belum membaik, perekonomian negara belum lancar, keadaan politik pemerintah belum stabil. Perhatian pemerintah terpusat pada usaha untuk memadamkan pemberontak-pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan keadaan di atas, keinginan untuk membangun kembali RP-INS Kayutanam belum terlaksana. Dalam menghadapi situasi seperti ini Mohammad Sjafei mengganti strategi pendidikannya yakni mendirikan kursus-kursus, seperti menyelenggarkan pendidikan kursus guru revolusioner, kursus aplikasi mata pelajaran ekspresi dan SGB Istimewa.(Nurul Fadhilla)



[1]Goodwill Zubir. “Peranan Masyarakat Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia di Ranah Minang”. Seminar Nasional Industri Pendidikan. Jakarta, 2001., hal. 10.
[2]Laporan Penelitian. “ Ruang Pendidik INS Kayutanam Dulu, Kini, dan Esok “. Kerjasama dengan Lembaga Pengembangan Pendidikan INS dan Pusat Penelitian dan Masyarakat (Unit-P3M) Pesantren Ciganjur., 1986.
[3]Wawancara dengan Elvira Sjafe’I pada tanggal 4 Juni 2013, di Kayutanam.
[4]Wawancara dengan Elvira, tanggal 4 Juni 2013 di Ruang Pendidik INS Kayutanam
[5]Profil SMA INS Kayutanam., 2008.
[6]Wawancara Dengan Bachtiar Kamar Pada tanggal 14 April 2013 di PWRI Kayutanam.
[7]Rina Puspasari, “Dinamika Kehidupan Siswa Madrasah Sumatera Barat Thawalib Parabek 1963-2000,” Skripsi. Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang 2003, hal  29
Iklan
By rangkiangbudaya Posted in admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s