Arsip sebagai Sumber penelitian

Seperti kita ketahui, demikian banyak nilai guna dan peran arsip dalam kehidupan. Oleh karena itu, arsip perlu disimpan dan dipelihara dengan baik, dengan pertimbangan antara lain: (1) Arsip memberikan tulisan dan mem- punyai keunggulan karena ingatan dapat hilang tetapi tulisan abadi; (2) Arsip memberikan bermacam informasi yang dapat digunakan sebagai petunjuk kebijakan; (3) Arsip membantu dalam penulisan sejarah; dan (4) Arsip memberikan layanan dalam proses hukum dan penelitian (Ricks, et. al. 1992 dalam Waluyo, 2001: 25-26).

Sering terjadi bahwa arsip-arsip yang pada saat diciptanya tampak sebagai arsip biasa saja, setelah berpuluh tahun kemudian ternyata menjadi arsip yang sangat berharga dan penting sekali bagi pengungkapan peristiwa sejarah. Salah satu contoh misalnya penelitian Waluyo (2001) yang menemukan arsip-arsip tentang sengketa tanah yang melibatkan BTI (Barisan Tani Indonesia) salah satu ormas Partai Komunis Indonesia, pada tahun 1957 dan 1958. Arsip-arsip yang tersimpan di Kantor Data Elektronik Arsip dan Perpustakaan Pemda Sleman ini semula merupakan arsip tidak teratur. Setelah direkonstruksi oleh peneliti, arsip-arsip tersebut ternyata bernilai guna sejarah, dan memberikan gambaran lebih jelas – suatu pemahaman baru – dibandingkan pada saat arsip itu dibuat yakni tentang peristiwa-peristiwa sengketa tanah yang mengandung polemik dan kontroversi.

Demikianlah arsip bisa menjadi sumber penting dalam penelitian sejarah. Lahirnya lembaga kearsipan Landsarchief pada masa Hindia Belanda tanggal 28 Januari 1892 semula dilatarbelakangi oleh kepentingan administrasi kolonial, namun kemudian berkembang untuk kepentingan pengembang- an keilmuan terutama penelitian sejarah. Pada tahun 1940 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Archief Ordonantie. Berdasarkan ordonansi itu dijelaskan bahwa: “Landsarchief adalah juga merupakan institusi ilmiah yang mempunyai tugas antara lain merawat dan mengelola arsip secara ilmiah, mengembangkan sistem kearsipan di Hindia Belanda, ikut dalam penelitian dan penulisan sejarah Hindia Belanda, dan memberikan penerangan tentang sejarah Hindia Belanda kepada masyarakat.” (Effendhie, 2002: 7-11).

Perjalanan sejarah suatu bangsa bisa diketahui dari arsip-arsip yang merekam peristiwa demi peristiwa yang dialami bangsa bersangkutan. Untuk Indonesia misalnya kita bisa mencermati koleksi arsip yang disimpan ANRI, mulai arsip masa VOC tahun 1602 hingga masa sekarang. Hilangnya arsip-arsip yang merekam suatu peristiwa sejarah akan mengakibatkan generasi berikutnya tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa tersebut di masa lampau. Lebih buruk lagi bila karena motif-motif tertentu terjadi suatu penyelewengan sejarah, atau pemutar-balikan fakta, hal ini tentu akan menyebabkan kebingungan atau bahkan menyesatkan ge- nerasi yang berikutnya (Kompas, 23/2/2003).

Selain bisa digunakan sebagai sumber penelitian, arsip juga bisa digunakan sebagai alat transfer pengetahuan bagi masyarakat. Hal ini bisa dilakukan misalnya melalui media pameran yang diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu, melalui penerbitan jurnal kearsipan seperti yang telah dilakukan oleh ANRI, atau ‘wisata arsip’ seperti yang telah dilakukan oleh Badan Arsip Daerah Jawa Tengah. Program-program kegiatan di atas sangat strategis dalam andil mencerdaskan kehidupan bangsa, dan patut dicontoh oleh lembaga-lembaga kearsipan di daerah-daerah lain di Indonesia. Tentu saja dengan tetap menjaga kenetralan dan objektivitas, bersih dari nuansa politik, transfer pengetahuan tersebut diharapkan dapat memberi inspirasi yang bernilai dan membangkitkan kreatifitas masyarakat.

Pentingnya arsip sebagai sumber penelitian dan ilmu pengetahuan tidak jarang menimbulkan terjadinya penyelewengan terhadap arsip-arsip bernilai guna tinggi. Misalnya arsip-arsip yang tergolong rahasia bisa diperjual-belikan secara gelap dan melanggar hukum sehingga bisa jatuh ke tangan orang atau lembaga yang tidak berhak atas arsip bersangkutan. Contoh kasus pencurian dokumen Negara yang menggegerkan dunia misalnya yang dilakukan oleh Vasili Mitrokhin, Kepala Bagian Arsip salah satu Direktorat di KGB, yang mencuri arsip dan memberikan kepada agen rahasia Inggris Secret Intelligence Service (SIS). Contoh kasus di Indonesia misalnya Letkol Laut Sudaryanto yang memberikan peta hidrografi perairan Nusantara kepada Alexander Finenko dan Egorov (Agen Intelijen Uni Soviet) dan pelanggaran itu diganjar hukuman 10 tahun penjara (Utomo, 10/9/2007). Kejadian-kejadian tersebut di atas mengimplikasikan perlunya pengamanan arsip berkategori rahasia agar tidak bocor ke tangan pihak yang tidak berhak.

Kenyataan arsip sebagai sumber penelitian dan ilmu pengetahuan harus disikapi secara cerdas dan bijaksana. Arsip dapat direkonstruksi dan di- eksplorasi secara kreatif, sehingga ‘entitas’ yang semula bisu, usang, dan kadang-kadang tidak teratur itu bisa menjadi informasi segar, hidup, dan bahkan bisa memunculkan pemahaman baru yang semula belum terungkapkan. Akan tetapi semua itu harus dilakukan dengan kaidah yang benar dan tujuan baik. Para peneliti, pengguna, atau penanggungjawab arsip sudah semestinya tidak tergoda untuk menyalahgunakan arsip demi tujuan-tujuan negatif.

Iklan

One comment on “Arsip sebagai Sumber penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s