Sekilas Tentang Bibliografi

Sejarah Mahasiswa

Kegagalan Tuntutan CGMI Untuk Pembubaran HMI Tahun 1965

Api sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara,  Penerbit Salamadani, 2009

Consentrasi gerakan mahasiswa indonesia atau yang lebih dikenal dengan CGMI, antara tahun 1960 – 1965 adalah gerakan mahasiswa dibawah naungan partai komunis Indonesia atau PKI. Pada tanggal2 8 Septermber 1965 melakukan Kongres yang dihadiri oleh Presiden Soekarno, Wakil perdana menteri Dr. Leimenna, mentri penerangan Achamdi.

Suasana terasa panas dalam kongres ini setelah wakil perdana menteri Dr. Leimena memberikan sambutan. Dalam sambutan ini, dia mengatakan bahwa tidak akan ada pembubaran organisasi HMI atau Himpuna Mahasiswa Islam yang jelas dan terang – terang menyatakan dukungan terhadap Front anti komunis yang berarti menentang NASAKOM. Dalam penyataaanya Dr. Leimena mengatakan bahwa HMI adalah organisasi yang Nasionalistik, patriotik dan loyal terhadap pemerintah.

D.N Aidit selaku ketua CCPKI dalam sambutannya menyindir Presiden dengan mengatakan pemimpin palsu. Walau PKI berhasil dalam merangkul Soekarno bukan menjamin tuntutan itu mulus. Kegagalan tuntutan ini disebabkan dalam analisa saya sendiri disebabkan sebagai berikut :

Pada masa ini terjadi persaingan ideologi antara islam dan komunis. Walau Soekarno cendrung kepada PKI, Soekarno tetap memperhitungkan kekuatan Islam yang sebagai pengalamannya itu bagaiamana kekuatan Partai Masjumi sebagai partai Islam dapat menyaing PNI sebagai Soekarno hal iin yang menjadi perhitungan.

Antara dua kekuatan mahasiswa ini merupakan power balance  terhadap kekuatan politik para elite  partai. Ibarat dua pilar yang salaing mendung. Soekarno memandang ini sebagai kekuaatan penyeimbang terhadap kekuatan lain. Kalau di bubarkan akan terjadi kepincangan sehingga pergerakan mahasiswa akan jalan ditempat dan proses kepemimpinan negara ini tak akan berlanjut.

Dengan situasi negara yang baru berdiri, pembubaran ini akan memudahklan perpecahan dikalangan bangsa ini. Sebagai muslim terbesar pembubaran HMI akan berdampak besar terhadap integrits bangsa. Soekarno sangat apresiasi sekali terhadap anak muda sehingga pembubaran HMI akan menghilankan semangat juang para generasi muda karena Soekarno pernah mengatakan : “kumpulkan aku sepuluh orang pemuda maka akan akau goncang dunia”

Sejarah Islam

Politik Islam Kolonial Belanda 1870 – 1904

Sumanto H. Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1986

Dalam buku “Politik Islam Hindia Belanda” karangan H. Aqib Sumanto ini membahas persoalan mengenai bagaimana peranan Islam dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mempertahankan daerah jajahan dan berupaya agar dapat menarik perhatian dan mempengaruhi masyarakat pribumi.

Buku ini membahas beberapa pokok yang penting diantaranya: pertama, Usaha Snouck Hurgronje untuk membuat suatu sistem  baru yang lebih mementingkan dan sedikit menghargai Islam. Kedua, Adanya Pan Islam yang mulai ditakuti oleh pemerintah Hindia Belanda dan diangap sebagai ancaman besar kedudukan Belanda di Indonesia. Ketiga, Ada kantor organisasi Belanda Het kantoor voor Inlandsche zaken yang berfungsi sebagai lembaga atau kantor pemerintah pada umumnya tetapi kantor ini bertugas lebih kepada upaya pertahanan kedudukan Belanda. Keempat, Snouck Hurgronje (SH) Arsitek Politik Islam Hindia Belanda.

Dasar pemikiran SH Musuh Kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik. SH membedakan Islam dalam artu “ibadah” dengan Islam dalam arti “kekuatan sosial politik”. Dengan membagi masalah Islam atas tiga katagori yaitu Bidang agama murni atau ibadah, Bidang sosial kemasyarakatan dan Bidang politik; dimana masing-masing bidang menuntut alternatif pemecahan masalah yang berbeda. Resep inilah yang kemudian dikenal sebagai Islam Politiek, atau kebijaksanaan pemerintahan kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia. Politik Islam yang menurut SH yaitu Terhadap dogma dan perintah hukum yang murni agama, hendaknya pemerintah bersikap netral. Masalah perkawinan dan pembagian warisan dalam Islam, menuntut penghormatan. Tiada satupun bentuk Pan Islam boleh diterima oleh kekuasaan Eropa. Prinsip politik Islam SH di bidang kemasyarakatan adalah menggalakan pribumi agar menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda demi kelestarian penjajahannya. Ini dikenal dengan Asosiasi Kebudayaan ( Istilah Asosiasi mengandung maksud mengikat daerah jajahan dengan negeri penjajah) . SH adalah seorang yang mendambakan kesatuan antara Indonesia dan Belanda dalam satu ikatan Belanda Raya. Dalam rangka menerapkan politik asosiasi SH memprakarsai pendidikan anak-anak bangsawan. Pada tahun 1890 ia memperoleh murid pertama Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat (Hoesein Djajadiningrat) (lahir 1877), anak Bupati Serang yang dengan susah payah berhasil ditempatkan di sekolah Belanda (ELS dan HBS) setelah diubah namanya menjadi Willem van Banten. SH optimis bahwa Islam tidak akan sanggup bersaing dengan pendidikan Barat. Agama islam dinilai sebagai beku dan penghalang kemajuan, sehingga harus di imbangi dengan meningkatkan taraf kemajuan pribumi. Maka pendidikan Barat diformulasikan sebagai faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia. Tentang Mukimin Haji dan Kota Makkah, SH menyimpulkan, “ di kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darahsegar ke seluruh tubuh penduduk muslimin di Indonesia”. Usulan SH kepada para pejabat kolonial, yakni dengan cara mengalirkan semangat pribumi ke arah lain. “ Setiap langkah pribumi menuju kebudayaan kita, berarti menjauhkan dari keinginan untuk naik haji” .

Sejarah Intelektual

Pemikiran HAMKA Tentang Pendidikan Islam Seabad Buya Hamka

Karya Prof. Dr. H. Samsul Nizal, M. Ag Fajar  Penerbit Kencana Prenanda Media Grub; Jakarata, 2008

HAMKA ( 1908 – 1981) adalah Haji Abdul Malik Karim Aarullah lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ia adalah seorang ulama, aktivis, jurnalistis, editor, dan sastrawan. Beliau mengembangkan pola pendidikan islam. Pendidikan islam yang beliau sesuai dengan akan yang menjadi keyakinan beliau baham akan ada kemabalai kebangkitan islam.

Tujuan pendidikan islam yang dikembangka oleh HAMKA adalah meningkatlan kembali esensi dan hakikat manusia itu sendiri. Dengan tujuan itu manusia lebih dianasi, trarah, dan bermakna sehingga tugas manusia sebagai hamba ALLAH yang untuk beribadah dan menjadi khalifah dimuka bumi tercapai. Tanpa tujuan ini tujuan manusa akan kabur dan terombang – ambing dalam kehidupan dunia yang fana ini.

Secara filosofis pendidikan islam bertujuan untuk membentuk manusa tang paripurna. Setudaknya ada 2 dimensi dari pendidikan islam pertama, dimensi dialetika horizontal, Kedua, dimensi tunduk kepada Allah,

Pada dimensi pertama pendidika hendaknya mengembangkan pemahaman tentang kehidupan konkret dalam kontek dirinya, sesaman manusia, dan alam semesta. Akumulasi pen berbagai pengetahuan. Dalam pandangan HAMKA pendidikan Islam adalah mencari keridhoan Allah, membangun budi pekerti luhur, dan mempersiapkan peserta pendidik untuk hidup secara layak dan berguna dalam komunitas masyarakat social. Tujuan pendidikan berorientasi pada traninternalisasi yang membentuk manusia yang berkualitas  dan mengenal khalik – Nya serta mampu hidup berdampingan dengan alam semesta.

System pendidikan yang ditawarkan adalah ilmu yang dituntut dapat dipergunakan dalam kehidupan sehari – hari. HAMKA ini mengharmonisasikan pendidika tradisional dengan pendidikan Modern sehingga peserta didik dapat mengusai ilmu secara proposional.

Materi pendidikan Islam yang ditawarkan adalah  Ilmu Agama antara lain tauhid, tafsi, nahu, hadis, bayan mantiq dan ilmu agama lainnya. Merukana suatu kemestian dalam pendidikan yang ditawarkan oleh Hamka. Penekan bukan hanya sebatas mengajar tapi sebagai mengajar.dinamika ini akan menghasilkan para pendidik dan peserta pendidikyang mampu membangun perdaban Islam dimasa depan. Ilmu – ilmu umun  antara lain filsafat, sastra, ilmu alam social, ilmu hitung dan lainnya. Yang mempersiapakn genarasi yang mampu peduli terhadap kehidupan social yang demikian dinamis. Agar peserta pendidik memeliki alat konterol dana mengaplikasikan ilmu dan terlebih dahulu diformat denga nilai esesnsial keagamaan. Keterampilan praktis seperti memenah, berkuda, renang,  senhingga membuat fisik peserta didik kuat dan tidak mudah terserang penyakit, dapat juga untuk perdiapsan bela diri dan pertahanan. Sehingga menghasilkan peserta didik yang kreatif. Kesenian seperti music mengambar nyanyi agar peserta didik memiliki rasa keindahan selalau senatiasa memperhalus seni bahasa, etika, dengan kebenaran.

Sejarah Pertanian

Kegagalan Penerapan Tanam Paksa Kopi Di Sumatera Barat 1870 – 1908

Karangan M.D Mansur, Sedjarah Minangkabau,  Penerbit Bathara, Jakarta, 1968

Sejak awal kedatangan bangsa Barat yang mengidentifikasi diri sebagai pedagang sampai masa-masa ketika Barat identik dengan kekuasaan kolonial dan pemilik modal, perkebunan menjadi salah satu fakta atau variabel yang tidak bisa diabaikan untuk merekonstruksi dan menjelaskan realitas masa lalu yang ada.

Sumatera barat tidak luput dari pelaksanaan tanak paksa kopi yang dimulai dari tahun 1870 sama halnya yang terjadi di jawa. Tetapi di sumatera barat terjadi kegagalan yang membuat Belanda merasa merugi. Ada beberapa hal yang membuat kegagalan dalam pennerapan tanam paksa kopi di sumatra barat : Masyarakat minangkabau yang tidak mau memejual hasil panen kopi secara keseluruhan kepada Belanda. Pada saat itu terjadi penjualan kopi ke pantai timur sumatera yang dibli oleh Bangsa asing antara lain Inggris, amerika Serikat. Hal ini membuar Belanda merasa dirugikan. Secara geografis pulau sumatera memilki perbukitan. Perbukitan ini membentang dari ujung sumatera yaitu Aceh dan Lampung yang sering disebut Bukit barisan. Bukit barisan yang ada di dataran tinggi mempunyai hutan tropis serta curah  hujan yang tinggi. Dengan curah hujan yang tinggi , hutan banyak mengandung air tanah. Ketersediaan air tanah yang cuckup berkembanglah sister petunia yang kooh dan terstruktur dengan rapi.

Dengan struktur tanah seperti ini membuat kopi sulit untuk tumbuh sehingga kerugian ditanggung Belanda. Belanda belum menguasai secara keseluruhan wilayah pedalaman sumatera barat. Dalam hal ini Belanda mengunakan hak – hak kekeuasaan penghulu untuk memungut hasil kopi. Belanda menganggap sistem penghulu ini sama hal nya sistem feodal yang ada di pulau Jawa. Selain itu ada semacam sabotase oleh masyarakat yang daerahnya kutarang subur untuk menjaul ke Bansa lain selain Belanda. Namun, ketidakefisienan yang terjadi di tubuhnya membuat VOC mengalami kemunduran, sampai-sampai posnya di pantai barat Sumatera kemudian dicap verliestpost (pos yang selalu merugi). Pada saat yang sama, para pedagang Inggris mulai melakukan penetrasi di PadangSementara itu, untuk meraup keuntungan lebih banyak, Pemerintah Hindia Belanda menggunakan Nederlands Handel Maatschappij (NHM) sebagai kepanjangan tangannya dalam menguasai aktivitas ekspor impor di pantai barat Sumatera. Pemerintah Hindia Belanda juga menerapkan sistem Tanam Paksa Kopi pada 1847. Setelah memberikan keuntungan, kedua cara ini akhirnya mengalami kegagalan total sekitar tahun 1860 karena penolakan keras dari penduduk serta wabah hemilia vestarix yang menyerang perkebunan kopi.

Sejarah Nelayan

Masyarakat Pesisir Dan VOC

Amran, Rusli, Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang, Sinar Harapan, 1981

Pantai barat Sumatera yang dimaksudkannya adalah satu kesatuan daerah administratif yang membentang dari Indrapura di selatan hingga Singkel di utara, sesuai dengan yang ditegaskan dalam Besluit van de Hooge Regeering tertanggal 20 Desember 1825. Dalam bibliografi kolonial, kawasan ini disebut Sumatra’s Westkust. Pada abad ke-16 hingga ke-20 Masehi, kawasan pantai barat Sumatera menjadi jalur perdagangan internasional. Seperti dicatat Gusti Asnan dalam buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007), masyarakat di pantai yang berhadapan dengan Samudra Hindia itu berhubungan dengan beberapa negara, seperti Belanda, Portugis, Inggris, China, dan India.

Kota Barus, Singkil, dan Kota Natal merupakan titik-titik pusaran peradaban, termasuk pusat penyebaran agama Islam dan Buddha pada masa itu. Posisi di muara sungai membuat kota-kota ini menjadi pintu masuk yang strategis bagi dunia.

Perang bayang dan perang antara daerah pesisir pantai memicu pergolakan lain di pesisir barat sumatera muli dari tiku, pariaman, padang bandar X ikut mrlibatkan diri dalam peprangan saudara, prang melawan aceh, dan terakhir perang melawan VOC. pantai barat Sumatera bersih dari aksi resistensi. Di kawasan Samudra Hindia, Belanda sangat terganggu oleh para bajak laut yang diduga berasal dari Aceh. Beberapa kelompok bajak laut amat terkenal dengan tokoh-tokohnya yang legendaris, seperti Panglima Mentawe, Sidi Mara, Po Id, dan Nja’ Pakir. Untuk menumpasnya, Pemerintah Hindia Belanda membuat pos-pos pengamanan di beberapa kota pantai dan juga mengirim ekspedisi militer.

Ini adalah gambara secara laten bagaiman kehidupan masyaratk pesisir pantai barat sumatera yang notabenenya para pedagang dan nelayan. Kehidupan nealyang di pantai bara sumatera banyak memilik penjadi pedagan dari pada nelayan. Pda masa ini sistem perdagana melibatkan mereka untuk terjun dan lebih mengiurkan dari pada melaut atau mejadi nelayan. Merka lebih suka menjadi anak buah kapal, pedagan perantara di pantai, para kuli angkut. masyarakat pelabuhan, perdagangan internasional, dan pelayaran antarnegara akan bermanfaat untuk menyusun kebijakan. Dengan memakai studi tersebut, pemerintah dapat mendayagunakan kawasan pantai dan selat dengan maksimal sehingga masyarakat pantai yang selama ini dikenal sangat miskin bisa ditingkatkan kesejahteraannya. Dua abad yang lalu masyarakat pesisir pantai adalah masyarakat yang makmur dan sejahtera. Benda perdagangkan yang menjadi primadona adalah lada dan emas.

Ada beberapa hal yang perlu catatan dalam kajian ini : Tidak ada catatan menonjolkan peran nelayan dalam masyrakat pesisir barat sumatera pada abad ke 17. Masyrakat pesisir pantai barat sumatera lebih suka menjadi pedagang lada dan emas ketimbang menjadi nelayan. Kesibukan peang antar bandar dagang, perang saudara, perang melawan dominasi kerajaan aceh, dan melawan VOC dalam perang Pajak menyebakan fokus perlatian masyarakat pesisir lebih menutamakan perdaganan. Penerapan sistim pajak dan tanam paksa kopi menyebabkan masyarakat hanya memikirkan  bagaiman memenuhi kewajiban tanam paksa kopi yang dibebankan kepada mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s