Ahmad Kasim Dt. Gunung Hijau: Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat 1930-1977

Obert Fernando, S.Hum

Ahmad Kasim Dt. Gunung Hijau  atau akrab dipanggil Dt. Gunung Hijau adalah seorang ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat dari tahun 1966 sampai tahun 1972.[1] Muhammadiyah tercatat sebagai gerakan pembaharuan Islam pertama di Indonesia.[2] Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di Indonesia dengan cabang-cabang yang tersebar di seluruh Indonesia dan anggota yang tersebar diseluruh pelosok negeri. Hal tersebut menjadikan Muhammadiyah sebagai pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Indonesia.[3] Dt. Gunung Hijau adalah seorang pimpinan yang menjadi pedoman bagi kader-kader Muhammadiyah di Sumatera Barat yang begitu aktif sebagai ulama, orientasi dan tokoh politik, Dt. Gunung Hijau juga melahirkan kader-kader Muhammadiyah untuk diterjunkan kedalam politik praktis. Dt. Gunung Hijau dikenal sebagai orang yang sangat memegang teguh ajaran agama Islam dan menjadikan azas Islam sebagai pedoman dalam mengurus dan mengerakan masyarakat Muhammadiyah dengan cara beceramah dan membahas ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis.

Awal karir Dt. Gunuang Hijau di Organisasi Muhammadiyah sebagai anggota serta pimpinan ranting Muhammadiyah didaerah Kamang Mudiak Kabupaten Agam pada tahun 1930-an. Pada tahun 1946-1954, sebagai ketua PKU Muhammadiyah Sumatera Tengah sekaligus dipercayai sebagai pengasuh dan pengawas panti asuhan Aisyiyah Bukittinggi.[4] Saat munculnya pergolakan daerah Sumatera Barat yang tekenal dengan sebutan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)[5],  Dt. Gunung Hijau pindah ke Tanjung Pinang bersama keluarganya. Sesampai di daerah tersebut Dt.  Gunung Hijau diangkat sebagai Kepala Departemen Agama Tanjung Pinang.

Pada tahun 1966, Dt. Gunung Hijau kembali ke Sumatera Barat pada saat itu situasi belum begitu aman, saat itu Muhammadiyah dalam kepemimpinan Drs. H. Djam’an Saleh diserahkan kepada Datuak Gunung Hijau melalui pemilihan suara terbanyak dan Dt. Gunung Hijau meraih suara terbanyak.[6] Kemudian  pada tahun 1967  Dt. Gunung Hijau diangkat menjadi pemimpin Badan Kontak Perjuangan Umat Islam (BKPUI) Sumatera Barat, dan pada tahun yang sama juga pernah aktif di DPRD-GR Sumatera Barat.

Pada saat situasi yang belum stabil dalam segi keamanan, ekonomi dan politik khususnya di Sumetera Barat, Muhammadiyah mengalami kekurangan tenaga dan dana namun Dt. Gunung Hijau tetap bersemangat untuk menjalankan tugas yang telah di amanatkan, terbukti dengan ketegasannya sebagai ulama dalam berceramah memberi motifasi jihad kepada pendengarnya membuat orang kagum kepada Dt. Gunung Hijau.

Pada tahun 1968-1972, Dt. Gunung Hijau kembali terpilih sebagai ketua PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. Pemikiran Dt. Gunung Hijau dan kawan-kawan dalam periode ini, mengangkat kembali nama dan gaung Muhammadiyah ke permukaan setelah masa pergolakan yang sedikit banyaknya menimbulkan dampak negatif terhadap Muhammadiyah.[7] Pada pemilu 1972 Dt. Gunung Hijau tidak ikut dalam kompetisi dan personalia lembaga legeslatif, dalam pemilu tahun 1972 Dt. Gunung Hijau tidak dalam politik praktis

Selepas memimpin Muhammadiyah, Dt. Gunung Hijau ditunjuk langsung oleh PWM yang menjabat pada saat itu adalah Buya Zainal Abidin Syoe’aib sebagai ketua panitia Muktamar ke-39. Dengan semangat kepemimpinan Dt. Gunung Hijau dan teman-teman, terbukti pada tahun 1975 berhasil menyelenggarakan Muktamar ke-39 di Padang. Namun  pada tahun 1977 Dt. Gunung Hijau aktif lagi dan terpilih sebagai anggota DPR-RI wakil Sumatera Barat, hari rabu pada tanggal 07 September 1977, jam 06.10 pagi kerabat Muhammadiyah ini menemui khaliqnya dengan tenang dalam usia 63 tahun.[8]

Ada beberapa tulisan yang mencoba mengangkat tema yang berkaitan dengan biografi tentang tokoh-tokoh Muhammadiyah dan organisasi Muhammadiyah di Sumatera Barat ini. Diantaranya adalah tulisan Lenny Herfitri yang berjudul “A.R Sutan Mansur: Seorang Tokoh Muhammdiyah di Minangkabau 1922-1959”, yang memaparkan tentang ide-ide atau pemikiran Islamnya dan langkah-langkah yang diterapkannya dalam memimpin Muhammadiyah di Minangkabau dan memberikan kepercayaan bagi Pengurus Besar Muhammadiyah untuk menjadikan Kota Bukittinggi sebagai tempat pelaksanaan kongres Muhammadiyah ke 19 pada tahun 1930.[9]

Selain itu tulisan dari Fikrul Hanif yang berjudul “Organisasi Muhammadiyah Padang Pariaman masa Orde Baru 1967-1998, yang menjelaskan tentang berdirinya organisasi Muhammadiyah di daerah Padang Pariaman dan sikap unik politik yang dimainkan Muhammadiyah adalah simbiose antara penguasa dengan perserikatan seperti sikap penerimaan Asas Tunggal oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Padang Pariaman.[10]Serta tulisan dari Wella Gustia yang berjudul “Hasan Ahmad: Profil Kepemimpinan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat 1983-1984. Membahas tentang kasus Asas Tunggal yang membuat Hasan Ahmad harus melepaskan jabatannya sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat pada tahun 1984.[11]

Penelitian ini mencoba  menulis tentang salah seorang tokoh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat yaitu Ahmad Kasim Dt. Gunung Hijau, yang mana beliau mampu  membangkitkan kembali rasa ber-Muhammadiyah  dengan semangat ber-Islam dan ber-Muhammadiyah selepas situasi politik Negara akibat G 30 S PKI(Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia). Selain itu beliau adalah seseorang yang mampu mangembalikan kepercayaan masyarakat terhadap para ulama dan meaktifkan kembali ranting-ranting muhammadiyah setelah peristiwa politik tersebut. Dt. Gunung Hijau juga seorang pengagas ide atas diadakanya Muktamar Muhammadiyah ke-39 di Padang.

[1] Jemes L. Peacock, Gerakan Muhammadiyah Memurnikan Ajaran Islam Di Indonesia. (Jakarta: Cipta Kreaktif, 1986), hlm. 26.

[2] S. Kirbiantoro, Doddy Rudianto. Pergulatan Ideologi partai politik di Indonesia Nasionalisme, Islamisme, Militerisme, Komunisme. ( Jakarta: Golden Terayon Press, 2009), hlm. 36.

[3] James L. peacock, Gerakan Muhammadiyah Memurnikan Ajaran Islam di Indonesia. ( Jakarta: Cipta Kreatif, 1986), hlm. 26.

[4]. R.B. Khatib Pahlawan Kayo, Muhammadiyah Sumatera Barat ( Minangkabau ) Dari Masa ke Masa. (Padang: Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, 1991), hlm. 112.

[5] Ibid, hlm 112.

[6] Ibid, hlm. 113.

[7] R.B. Khatib Pahlawan Kayo, Muhammadiyah Sumatera Barat (Minangkabau) Dari Masa Ke Masa. (Padang: Pimpinan Wilayah Sumatera Barat, 1991), hlm.112.

[8] Ibid, hlm. 113.

[9] Lenny Herfitri, A.R Sutan Mansur: Seorang tokoh Muhammadiyah di Minangkabau, 1922-1959. Skripsi, (Padang : FSUA,1993).

[10] Fikrul Hanif Sufyan, “Organisasi Muhammadiyah Daerah Padang Pariaman masa Orde Baru 1967-1998. Skripsi, (Padang :FSUA,2004).

[11] Wella Gustis, Hasan Ahmad: Profil Kepemimpinan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat,1983-1984. Skripsi, (Payakumbuh,STKIP ABDI, 2010).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s