Peranan Surau Dalam Islamisasi Minangkabau

Aulia Rahman

Sumatera barat penduduk di sini mayoritas beragama Islam. Sebagai tanda keberislaman mereka mendirikan sebuah mesjid. Dulu orang kampung kami tidak mengenal istilah mesjid sebagai tempat ibadah, tapi surau.

Kondis surau yang sangat memprihatinkan dengan banguan sudah mulai rapuh. Surau di kampong kami bernama surau Pauh, Surau lambah sesuai dengan nama tempatnya. Surau ini suadah lama tidak terpakai dan hanya sebagain dipakai pada waktu bulan Ramadhan. Permasalahan kenapa tidak dipakai lagi disebabkan kurang perhatian, dan banguan yang sudah hampir tua.

Kesan kesucian yang hampir roboh itulah ungkapan yang tepat untuk surau di kapung kami. Dengan meninggalnya garin yang menjadi 

Penulis teringat novel “Robohnya Surau Kami” A.A Navis. Novel ini mengambarkan bagaimana surau yang terabaikan sampai kayu untuk pengagah suara dijadikan kayu bakar. Kondisi yang digambarkan dalam novel betapa menyedihkan dan sangat memprihatinkan.

Sejarah surau

Surau menurut Azymardi Azra adalah merupakan bangunan peninggalan kebudayaan masyarakat Minangkabau sebelum kedatangan Islam.  Dalam system adat Minangkabau surau selain bagian dari ngari juga bagian dari kepunyaan suku yang menurut garis matrelinear. Sehingga di dapatkan nama surau berdasarkan nama suku dan nama tempatnya seperi surau urang koto di Sulambah 

Saat ini kondisi surau yang berada di Minangkabau sangat memprihatinkan padahal surau mempunyai fungsi yang kompleks. Dengan berbagai fungsinya surau dipergunakan untuk menuntut berbagai ilmu baik ilmu agama, adat, bela diri maupun ilmu akademis. Perkembangan zaman memicu peralihan dan pergeseran fungsi surau. Perhatian masyarakat khususnya para pemuda terbelokkan dengan perkembangan zaman dan globalisasi yang tidak terkendali kini. Pergeseran ini mengakibatkan surau hanya berfungsi untuk sholat semata, bahkan mengaji A Qur’an banyak yang tidak lagi dilakukan di surau.

Penyempitan makna surau

Jika kita bertanya kepada anak zaman sekarang mana yang surau mana yang mesjid. Beberapa diskusi dengan beberapa remaja maupun mahasiawa mereka berfikiran surau sama dengan musolla dan surau sangat berbeda dengan masjid. Surau bagi mereka adalah bangunan yang kecil yang sering di sebut musollah, sehingga terjadi penyempitan makna. Sedangkan mesjid merupakan bangunan yang besar unruk tempat mengaji dan lebih sering dipergunakan untuk sholat terlebih sholat jum’at.

Penyempitan makna surau akan menghilangkan fungsi surau. Membuat peradaban surau hanya tinggal mimpi belaka. Ketika Perda kembali ke surau diberlakukan yang menjadi pertanyaan adalah surau mana yang dimaksud.  Di kampung–kampung surau hanya menjadi tempat sholat dan mengaji. Itu pun banyak dilakukan pada waktu bulan Ramadhan. Sedikit surau yang  berfungsi sebagai mesjid. Perlu dilakukan penyegaran kembali bagaimana fungsi surau yang sesungguhnya.

Kita dapat menjadikan surau sebagai model pendidkan di masa mendatang. Melalui model pedidikan ini maka kaum muda yang cenderung hedonime, apatisme, menjadi tertarik untuk mempelajari “peradaban surau” sehingga dapat mengembalikan fungsi surau di masa lalu. Surau dapat berguna sebagai benteng kaum muda dan masyarakat dari pengaruh luar, baik secara pemikiran, budaya maupun agama Secara tidak sadar banguan surau yang kita lihat sekarang akan menjadi warisan sejarah dimasa yang akan datang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s