KAMAL GUCI : SENIMAN LUKIS LANDSCAPE MINANG

Ultut Azrianto

Seni biasanya dimaksudkan untuk menunjuk pada semua perbuatan yang dilakukan atas dasar dan mengacu pada apa yang indah. Secara umum, ada dua pemikiran atau aliran berkaitan dengan seni ini. Pertama, fungsional. Yaitu, bahwa seni harus mempunyai fungsi dan tujuan-tujuan tertentu yang umumnya berkaitan dengan moral. tujuan seni adalah untuk membebaskan pikiran sang seniman atau penikmat seni dari ketegangan dengan terpuaskannya keinginan-keinginan yang tertahan. Kedua, ekspresional, yakni suatu pemikiran yang menyatakan bahwa seni tidak mempunyai tujuan dan tidak mengejar tujuan di luar dirinya, kecuali tujuan dalam dirinya sendiri. Maksudnya, seni bersifat otonom, mempunyai daerah sendiri dan kelengkapan sendiri, tidak tergantung pada daerah lain. [1]

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak terpisahkan dari seni. Seni sudah menjadi salah satu aspek dalam kehidupan manusia. Seni merupakan segala aktivitas batin dengan pengalaman estetikanya yang dinyatakan dalam bentuk ekspresi media, gambar, suara, dan gerak yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat memberikan daya tarik keindahan.[2] Hampir seluruh etnis yang ada di Indonesia memiliki keseniannya, sehingga menjadikan bangsa ini kaya akan suatu tradisi, adat istiadat dan kesenian. Salah satunya bisa dilihat dari daerah Sumatera Barat (Minangkabau) yang memiliki banyak tradisi–tradisi, adat istiadat dan juga banyaknya kesenian–kesenian warisan dari nenek moyang orang Minangkabau. Kesenian tradisional Minangkabau merupakan salah satu unsur dari kebudayaan nasional yang berakar dari kebudayaan daerah dan kemudian berkembang serta diajarkan secara turun temurun dari dahulu sampai sekarang.[3]

Sumatera Barat yang menjadi tempat etnis Minangkabau berdomisili banyak terdapat jenis kesenian tradisional seperti Randai, Tari Piring, Tari Galombang, Rabab dan juga seni bela diri atau dikenal dengan nama silek. Banyak seni tradisional yang berkembang di Sumatera Barat, tetapi yang paling banyak digemari oleh masyarakat Sumatera Barat saat sekarang ini adalah jenis kesenian yang berhubungan dengan seni tari, seni lukis dan seni musik.

Pada perkembangannya, kelompok–kelompok seni tari, seni lukis dan musik di Sumatera Barat biasanya membentuk suatu grup atau sanggar tradisional yang bertujuan untuk mengembangkan seni tari, seni lukis dan musik, atau kesenian tradisional lainnnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya sanggar–sanggar tradisional yang berkembang di Sumatera Barat. Tujuan belajar seni tradisional di sanggar–sanggar bagi masyarakat Sumatera Barat khususnya anak–anak dan remaja selain tempat untuk menyalurkan bakat yang mereka miliki, sanggar bisa juga sebagai tempat untuk mencari uang, serta dapat juga untuk menjaga keutuhan dan keaslian seni tradisional dari kebudayaan Barat.

Dari ketiga seni tersebut, mungkin hanya seni lukis yang kurang mendapatkan peran dan tempat bagi masyarakat Minang dewasa ini. Hal ini dilatarbelakangi oleh gambaran yang kaku dan tidak menariknya seni lukis bagi generasi muda jika dibandingkan dengan seni tari dan musik.

Kesenian tradisional Minangkabau ini banyak melahirkan berbagai tokoh–tokoh dalam dunia seni lukis, salah satu seniman yang menjadi pelukis kebanggaan orang Minang adalah Kamal Guci yang terkenal sebagai pelukis yang mengambil alam sebagai objek inspirasi lukisannya. Hari ini Kamal dikenal sebagai salah satu seniman lukis asal Minang yang tidak hanya berkiprah di ranah Minang namun juga mampu membawa lukisan alamnya ke level nasional.

Kamal Guci lahir di Pakandangan, Sumatera Barat, 13 Oktober 1960. Mengalami masa kecil yang cukup keras dan hidup dalam kehidupan keluarga sederhana. Hal ini membawa Kamal merantau ke Jakarta untuk menyambung hidup. Puluhan tahun berkecimpung dalam dunia lukis, Kamal cukup banyak melahirkan karya–karya lukis seperti kincir II,Lembah Harau, Kapasa, Lapau, Lembah Anai, Bajamba, Padati, Pasa Minang, Penyeberangan, Nagari II, Kinantan Berkokok Senja, Punah, Nagari I, Pasa Minang II, Si Binuang Patah Tanduk, Badai, Si Binuang Bakubang, Tapian, Terabaikan, Misteri Tapian, Pengrajin Batu Bata, Rumah Jantan, Koto Tinggi, Lembah Koto Tinggi, Kincir I, Tapianku, Malalak.

Kiprah Kamal Guci sebagai pelukis asal Sumatera Barat juga memperlihatkan kemampuannya dalam dunia kesenian di luar dengan beberapa kali tampil dalam pameran baik tunggal maupun kolektif di Jambi pada tahun 1981 pameran bersama SMSR, pameran bersama Alumni SMSR Padang tahun 1983, pameran hari kesaktian pancasila di Pariaman tahun 1984, pada tahun 1987-1991 tercatat sebagai pelukis Pasar Seni Jaya Ancol di Jakarta, pada tahun 1988 pameran bersama di Pamulang, Ciputat Jakarta Selatan.

Pada tahun 1990 pameran bersama Galeri Pasar Seni Jaya Ancol, tahun 1993 pameran bersama pelukis Sumatera Barat, Taman Budaya Padang, tahun 1995 pameran bersama Pelukis Sumatera barat taman budaya Padang, 1996 pameran bersama Alumni SMSR Taman Budaya Padang, 1997 pameran pertemuan empat negara INS Kayu Tanam,

Di era tahun 2000-an Kamal Guci mulai mengelar pameran bersama Genta Budaya Padang pada tahun 2001, selang 2 tahun kemudian dilanjutkan pada tahun 2003 juga dengan Genta budaya Padang, Pada tahun 2008 diadakan pameran Nusantara di Taman Budaya Padang, 2009 pameran Minang Progressi Genta Budaya Padang, pameran amal gempa Sumbar TMI Jakarta, 2010 pameran bersama pelukis se- Sumatera di Pariaman, pameran “The view” alumni SMSR Taman Budaya Padang, 2011pameran Pra biennale Sumatera Taman budaya padang, 2012 pameran Merapi Singgalang Rumah Budaya Fadli Zon Padang Panjang, 2013 pameran “Realita” Taman budaya Sumatera Barat. pameran tunggal 2010 pameran tunggal “dari ranah menembus rantau” taman budaya padang, 2011 pameran “menjelajah ranah menembus rantau” tim Jakarta, 2012 pameran “kaba dari ranah” bintara budaya Jogjakarta, 2013 pameran “retrospeksi” bintara budaya Bali.[4]

[1] A Khudori Soleh, “KONSEP SENI DAN KEINDAHAN M IQBAL (1877-1938 M)”  Makalah, Dosen Fak. Psikologi UIN Malang Telp/Fax. (0341) 558916), e-mail: khudori_uin@yahoo.com pdf.

[2] Mahdi Bahar, Seni Tradisi menentang Perubahan, STSI Padang Panjang,  2004. hal. 30.

[3] A. A Navis, Adat dan kebudayaan Minangkabau, Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam Sumatera Barat. 1986. hal. 306.

[4] Pameran tunggal Retropeksi kamal Guci, Bentara Budaya Bali 26 Mei- 4 Juni 2013, hlm 12-13

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s