Hermeneutika Arkeologi

Disunting dari tulisan Nurachman Iriyanto tanggal 28 Maret 2012

Arkeologi, setidaknya merupakan salah satu disiplin ilmu yang sarat dengan upaya-upaya penafsiran masa lalu berdasar tinggalan benda-benda yang yang masuk dalam kategori artefak, ekofak, fitur dan lingkungannya. Hal ini mengingat tidak ada satu pun ahli yang dapat mengetahui secara tepat apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu. Penafsiran dalam ranah arkeologis inilah yang menjadikan metode hermeneutika penting untuk dikembangkan lebih lanjut, meskipun secara tegas arkeolog sebagai penafsir membuat pembedaan dan penekanan atas pemahaman, penjelasan dan interpretasi. Namun juga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain, yang menurut Paul Ricoeur, engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami. Menurutnya ada tiga langkah pemahaman, yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbol-simbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol. Pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Kedua, pemberian makna oleh simbol serta ‘penggalian’ yang cermat atas makna. Ketiga, merupakan langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.

Sistem simbol (bahasa, wacana, tanda-tanda simbol artefak, dan sebagainya) bukan hanya instrumen komunikasi guna mendapatkan pemahaman bersama. Lebih dari itu, sistem simbol menjadi bagian yang terpisahkan bagi manusia untuk merepresentasikan dunia menurut pikiran, tindakan dan kepentingannya. Tiap kata, konsep, wacana, kode-kode simbol artefaktual lainnya selalu mengaktualisasikan imajinasi-imajinasi, rencana-rencana, bahkan ambisi. Tidak ada pemaknaan yang berjalan linear, semuanya berjalan menurut sirkulasi kekuasaan tertentu. Apa pun simbol yang terbentuk seringkali membelokkan atau menjauhkan kita dari kenyataan sebenarnya.

Arkeologi pasca-prosesual melihat budaya adalah bersifat khas dan relatif. Budaya merupakan hasil pikir manusia dan bukanlah hasil adaptasi, sehingga dalam arkeologi pasca-prosesual sangat memperhitungkan peran seseorang dalam budaya tersebut. Oleh karena itu, arkeologi pasca-prosesual melakukan pendekatan dengan metode hermeneutik atau tafsir yang tidak terbatas. Hermeneutika juga disebut sebagai teori, yaitu teori tentang ‘mengerti’ (verstehen) sebagai kajian untuk mengerti yang melalui interpretasi, khususnya interpretasi terhadap tindakan dan teks. Interpretasi sebagai kegiatan pemikiran yang berdisiplin, merupakan kegiatan kreatif guna mengungkapkan makna dari berbagai kemungkinan makna yang tersedia dalam tindakan dan teks.

Dengan menggunakan hermeneutika berarti arkeologi memperlakukan data arkeologinya sebagai teks. Namun teks (pesan yang ada di balik sesuatu) pada dasarnya tanpa memiliki ‘makna’ sama sekali. Makna itu baru muncul jika teks diletakkan dalam konteks. ‘Sesuatu’ atau ‘makna’ muncul karena proses ‘konstruksi’, tetapi ketika ia harus dimengerti atau dipahami, maka harus di-‘dekonstruksi’ sesuai dengan kerangka pikirnya sendiri, kemudian melakukan ‘rekonstruksi’. Makna tersebut tidak muncul dengan sendirinya, sehingga untuk mengungkapkannya memerlukan proses tersendiri.

Dua aspek utama yang mendasar dalam proses hermeneutika, yaitu penafsiran (penerjemahan) dan pemahaman (pengertian) yang berjalan atau terjadi hampir bersamaan dan hampir seketika, bukan dua tahapan dalam suatu proses, bahkan kadang proses tersebut hampir terjadi secara naluriah (instingtif). Proses timbal balik antara penafsiran dan pemahaman ini dikenal sebagai lingkaran hermeneutik. Penafsiran lebih berarti ‘menjernihkan persoalan hingga dapat dimengerti’, dengan cara menyelidiki setiap proses interpretasi dan karena itu harus merumuskan metodologi. Penafsiran berarti ‘merekonstruksi makna’, karena itu penafsir harus aktif dan membutuhkan perangkat rekonstruksi (wawasan intelektual, pengalaman masa lalu, keadaan hidup masa kini, dan latar belakang sejarah dan budaya).
Kesulitan yang ditemukan dalam arkeologi sebagai hermeneutik empat lipat adalah bahwa disiplin ini secara potensial begitu menyenangkan dan bermakna. Tidak bisa diragukan beberapa cara untuk menjelaskan daya tarik publik dengan arkeologi. Meskipun demikian, akan berharga jika menggarisbawahi sekali lagi kesulitan yang ditemukan yang seharusnya tidak mengarah pada romantisme atau nostalgia akan masa lalu, untuk memikirkan usaha manusia yang tidak bisa dipahami yang bisa peroleh dalam usaha ini. Ini adalah kegagalan terbesar hermeneutik pada akhir abad 19, khususnya apa yang diekspresikan dalam hasil karya Dilthey dan yang paling baru oleh Collingwood. Kenampakan ini yang dimudahkan dengan apa yang diklaim oleh para arkeolog ilmiah kontemporer tentang obyektivitas ini, melalui sejumlah metodologi penyederhanaan yang terlarang, dan harus ditolak. Kenyataannya ia hanya bisa mengklaim untuk melakukan hal ini dengan semua pengurangan yang nyata pada manusia yang bisa dilihat dari proyek yang dilakukan. Hermeneutik empat lipat dilibatkan pada setiap dan semua bentuk usaha arkeologi yang meruntuhkan setiap usaha untuk memperbaiki sekali lagi dan seluruh kebiasaan masa lalu seharusnya dipahami dalam hal aturan metodologis terhadap prosedur yang dilakukan. Usaha ini lebih membutuhkan penggunaan sebuah pluralitas pendekatan yang multivalent. Hal yang sama tentang kesulitan intelektual yang ditemukan dalam memahami masa lalu yang seharusnya ilmu-ilmu sosial yang paling berpengalaman dalam hal duniawi dan sejumlah teori yang telah dikembangkan. Pada kenyataan yang sebenarnya, arkeologi masih mempertahankan seluruh ilmu sosial yang secara teoritis dikembangkan dengan lemah sekali. Sebuah inversi yang besar muncul untuk menampilkan disiplin yang paling dibutuhkan oleh teori oleh dan kenampakan yang besar guna memikirkan bahwa ia bisa berjalan terus tanpanya.

Kemudian, tidak hanya arkeolog yang harus menerjemahkan antara dunia ‘mereka’ dan dunia ‘kita’, tapi mereka juga harus berurusan dengan dunia yang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Tapi adalah yang sulit untuk mendiskuiskan bahwa sosiolog berurusan dengan hermeneutik ganda, antropolog dengan hermeneutik tiga lipatan dan para arkeologi berurusan dengan hermeneutik empat lipatan. Tapi seorang arkeolog palaeolitik tidak berurusan dengan lapisan hermeneutik yang jumlahnya banyak dibanding dengan arkeolog sejarah dan adalah tidak cukup untuk mengasumsikan bahwa beberapa kebudayaan dalam waktu dan ruang yang lebih ‘sama dengan kita’ dibanding yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Acep Iwan Saidi, 2008, Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks, dalam Jurnal Sosioteknologi, Edisi 13 Tahun 7, April, Bandung : FSRD ITB.
Bertens, K., 1981. Filsafat Barat Dalam Abad XX. Jakarta : Gramedia.
Bleicher, Josef, 2007, Hermeneutika Kontemporer, Hermeneutika Sebagai Metode, Filsafat dan Kritik, terj. Imam Khoiri, cet. III, Yogyakarta : Fajar Pustaka.
Daud Aris Tanudirdjo, Sekilas Tentang Hermeneutik, Materi Kuliah arkeologi S2 UGM tanggal 12 Juni 2008.
E. Sumaryono, 1999, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat, edisi revisi, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Fauzi Fashri, 2007, Penyingkapan Kuasa Simbol, Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu, Yogyakarta : Juxtapose.
Fransisco Budi Hardiman, 2003, Kritik Ideologi, Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Gadamer, Hans-Georg, 2004, Kebenaran dan Metode, Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Geertz, Clifford, 1992, Tafsir Kebudayaan, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Harun Hadiwijono, 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Hodder, Ian, 1992, Theory and Practice in Archaeology, London and New York : Roultledge.
Hodder, Ian, et.al., 1995, Interpreting Archaeology, Finding meaning in the past, London and New York : Routledge.
Inyiak Ridwan Muzir, 2008, Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Jujun S. Suriasumantri, 1999, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Niznik, Jozef dan John T. Sanders (Ed.) 2002. Memperdebatkan Status Filsafat Kontemporer Habermas, Rorty dan Kolakowsky. Yogyakarta : Qalam.
Noerhadi Magetsari, 1999, Metode Interpretasi Dalam Arkeologi, dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) Lembang, 22-26 Juni. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Palmer, Richard E., 2005, Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi, terj. Musnur Hery & Damanhuri Muhammed, cet. II, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Shanks, Michael and Christopher Tilley, 1992, Re-Constructing Archaeology, Theory and Practice, second edition, London and New York : Routledge.
Yoffee, Norman dan Andrew Sherratt, (eds.), 1993, Archaeological theory : who sets the agenda ?, Cambridge : University Press.
Zubaedi, dkk, 2007, Filsafat Barat, Dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn, Yogyakarta : Ar-Ruz Media.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s