Perekonomian di Kota Padang 1956-1958

Yusran Ilyas, S.Hum

Sebagai pemegang kekuasaan yang  baru, Dewan Banteng merestorasi tata kota di Sumatera Tengah. Dalam tahap pembangunannya, Dewan Banteng membuat kota-kota Sumatera Tengah sebagai kota monofungsional. Satu kota mempunyai peran penting bagi kota-kota lain. Untuk perimbangan, Dewan Banteng juga mendirikan  koperasi di beberapa kabupaten di Sumatera Tengah.

Secara politis, koperasi yang didirikan di beberapa kabupaten merupakan usaha Dewan Banteng untuk membuat keterikatan antar daerah-daerah. Koperasi di kabupaten membutuhkan bantuan dana ataupun moril dari koperasi pusat. Begitu juga sebaliknya, koperasi pusat mengumpulkan dana dari koperasi di berbagai kabupaten di Sumatera Tengah.

Sistem koperasi ini tidak menciptakan sistem sentralistik. Koperasi-koperasi tiap daerah mempunyai kekuatan untuk bereksistensi. Jika suatu koperasi stagnan maka dampaknya tidak akan terasa terhadap koperasi-koperasi lain. Alasannya, tiap koperasi mempunyai fungsi yang sama sehingga satu koperasi mampu menggantikan fungsi koperasi lain.

Walaupun Dewan Banteng mengusahakan pembangunan tiap daerah merata, tetapi tetap saja terjadi ketimpangan pendapatan di tiap daerah. Kesenjangan ini  terjadi karena perbedaan Sumber Daya Alam (SDA)  dan pendapatan asli daerah.

Dalam waktu selanjutnya, Dewan Banteng mengembangkan daerah di Sumatera Tengah berdasarkan politis. Indikasi pernyataan ini terlihat di akta pendirian Bank Pembangunan Daerah di Padang. Dalam aktanya dicantumkan, tujuan pendirian BPD tersebut adalah untuk membantu usaha pembangunan ekonomi rakyat di Sumatera Tengah di bidang perindustrian, pertambangan dan perdagangan dalam arti yang seluas-luasnya.[1] Dewan Banteng juga membangun Fakultas Kedokteran dan Pusat Bank Koperasi Sumatera Tengah di Bukittingi. Di Payakumbuh, Dewan Banteng memprakarsai Konferensi I Pusat-pusat Koperasi se-Sumatera Tengah di Payakumbuh.

Pembangunan selanjutnya adalah membangun kota sebagai kedudukan politis. Kota tersebut adalah kota Padang. Dengan memiliki pendapatan sendiri, Padang tidak membutuhkan bantuan dana dari daerah lain. Dan juga pendapatan ini bisa digunakan untuk pengembangan ekonomi, sosial, dan politik kota Padang.

Pada tahun 1957, Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga wilayah yaitu Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Dalam bagian pertimbangannya, UU Darurat No. 19/1957 yang menjadi dasar pemecahan Provinsi Sumatera Tengah menjadi Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Jambi bahwa tujuan pemecahan itu adalah untuk meningkatkan kelancaran pemerintahan, serta mewujudkan keinginan membangun masyarakat secara lebih bergairah dan aspiratif.[2] Untuk daerah Sumatera Barat ibukotanya terletak di Kota Bukittinggi.

Peraturan pemerintah tersebut, tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian kota Padang. Dengan wilayah politis yang semakin kecil, Dewan Banteng lebih dapat memfokuskan pelaksanaan program kerja di daerah-daerah Sumatera Barat. Sebelumnya, Dewan Banteng ingin mempercepat realisasi pemerintahan Otonom Tingkat I bagi Riau, Jambi, dan Sumatera Barat di tanggapi dengan sinis di Riau dan Jambi.[3]

Pada setahun berikutnya, Pemerintahan Dewan Banteng tidak memiliki kekuatan setelah militer dari pusat menyerang Kota Padang. Banyak fasilitas umum yang rusak dan rusak lagi mentalitas masyarakat yang mengalami kekalahan mental dan batin akibat trauma perang.[4] Dengan kekalahan mental dan batin, pemerintah sulit untuk mendapatkan semangat untuk membangun kota Padang.

Gambaran perekonomian kota Padang tahun 1956-1958 tidak lepas dari pengaruh pertarungan politik antara daerah dengan pusat. Dalam pertarungan politik tersebut, pemerintah pusat melakukan penyempitan kekuasaan Dewan Banteng. Dengan jalan seperti ini pemerintah pusat dapat menancapkan secara perlahan legitimasi kekuasaan politik di daerah.

Untuk melakukan penyempitan kekuasaan pemimpin Dewan Banteng, pemerintah pusat  membagi tiga wilayah Sumatera Tengah. Pembagian wilayah ini mengurangi pemasukan dana Pemerintahan Dewan Banteng karena banyak wilayah perbatasan Sumatera Barat memiliki komiditi ekspor. Tidak hanya itu, pemuka daerah yang berasal dari Minangkabau digantikan oleh putra asli daerah Riau dan Jambi.

Langkah selanjutnya, pemerintahan menempatkan orang yang netral di pemerintahan. Orang netral ini masih tetap di bawah kontrol pemerintahan pusat. Untuk mengatasi kekosongan kursi pemerintahan, maka ditempatkan pemimpin-pemimpin daerah yang berpengaruh. Hal ini juga bertujuan menghindari kecurigaan masyarakat Minangkabau terhadap adanya intervensi pemerintah pusat.

Kondisi tarik-menarik kekuasan pemerintah dan daerah telah digambarkan baik oleh peneliti Sumatera Barat dan luar negeri. Misalnya Prof. Gusti Asnan dalam bukunya “Memikir Ulang Regionalisme Sumatera Barat 1950-an”, Audrey R. Kahin dalam bukunya “Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998”, Mestika Zed dalam bukunya “Perlawanan Seorang Pahlawan”, dan Freek Colombijn dalam bukunya “Paco-paco (Kota) Padang. Semua buku tersebut sangat sedikit menyinggung korelasi politik dengan ekonomi kota Padang pada tahun 1956-1958. Padahal, perkembangan politik tersebut dimulai dengan isu-isu ekonomi.  Dan pergerakan-pergerakan daerah tersebut berbasis di kota Padang. Penulis juga mencoba meneliti lebih jauh perekonomian di kota Padang setelah gerakan-gerakan daerah lenyap. Pada kondisi seperti itu, pemerintah pusat mampu melunakan sendi-sendi kekuatan daerah sehingga dengan mudah menguasai kota Padang. Tetapi dengan pertimbangan budaya masyarakat Minang yang tidak mau didikte, maka pernyataan ini menjadi paradoks. Artinya masyarakat kota Padang mempunyai usaha untuk menguasai pemerintahannya kembali.

[1] Ibid,. hal. 190

[2] Gusti Asnan, Pemerintahan Daerah Sumatera Barat dari VOC hingga Reformasi, op.cit,. hal. 178

[3] Ibid,. hal. 176

[4] Lindo Karsyah, op.cit,. hal. 23

Iklan

2 comments on “Perekonomian di Kota Padang 1956-1958

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s