Mengenal SAWAHLUNTO (Part 2) : Sawahlunto/Sijunjung Pada Masa Revolusi Kemerdekaan

Yusran Ilyas, S.Hum

Selama abad ke-20 telah terjadi banyak pemberontakan di Minangkabau terhadap rezim yang berkuasa, 3 diantaranya yaitu pemberontakan pajak terjadi tahun 1908. Pemberontakan lain terjadi di Silungkang yang dimotori oleh PKI yang terjadi pada tahun 1926/1927 dalam, dan pemberontakan PRRI yang terjadi tahun 1958-1961.[1] Semua pemberontakan yang terjadi ini merupakan dampak dari rasa ketidakpuasan terhadap penguasa yang bertindak semena-mena.

Selain itu juga disebabkan oleh sifat kritis yang telah terpatri dalam sanubari masyarakat Minangkabau. Hal ini juga dilatar belakangi oleh pengaruh yang datang  dari luar, yaitu ideologi. Dalam  pemberontakan Silungkang misalnya dimotori oleh  ideologi komunis, yang memberikan gagasan bahwa kesengsaraan yang menimpa rakyat datang dari penguasa kolonial, sehingga membangunkan masyarakat untuk melawan dan menghancurkan kolonialisme.[2]

Perjuangan dalam menentang penjajahan berlanjut pada masa pendudukan Jepang. Penyerangan ini berguna untuk menghambat laju tentara Jepang untuk memasuki wilayah Sawahlunto/Sijunjung. Setelah Jepang mencoba untuk mendekati rakyat untuk mendukung mereka. Kesempatan ini digunakan rakyat untuk membina kekuatan sendiri melalui Tyosan, Syusankai, Gyugun, Koenkai dan Koenbu.[3]

Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta disambut secara positif oleh penduduk Sawahlunto/Sijunjung. Mereka mengibarkan Bendera Merah Putih pertama kali di Kewedanaan Sawahlunto pada tanggal 20 Agustus 1945, kemudian dilakukan pula di Sijunjung pada hari berikutnya. Pengibaran itu dilakukan oleh pemimpin-pemimpin pemuda Sijunjung, seperti Ramli Marzuki dan Ibrahim. Kegiatan mereka pada awalnya ditolak Yoenus selaku Demang Sijunjung,[4] namun antusiasme masyarakat Sawahlunto/Sijunjung dalam menyambut kemerdekaan tidak dapat dihalangi.[5]

Pada awal kemerdekaan di Kewedanaan Sawahlunto dibentuk organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada setiap nagari. Anggota PRI terdiri dari para pemuda nagari yang semasa pendudukan Jepang menjadi anggota Bogodan.[6] Anggota PRI ini hampir setiap sore mengadakan latihan kemiliteran di samping melakukan pengawalan nagari, dan sesekali berkumpul di nagari atau ke Sawahlunto untuk mendengarkan wejangan dan penjelasan mengenai kemerdekaan. Sehubungan dengan Maklumat pemerintah Republik Indonesia (RI) tertanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai-partai politik. Partai politik atau organisasi boleh membentuk lasykar atau barisan rakyat guna berjuang mempertahankan kemerdekaan.[7]

Partai-partai politik dan organisasi yang ada di Sumatera Barat beserta barisan yang dimilikinya adalah Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI)/Barisan Sabilillah, Partai Komunis Indonesia (PKI)/Tentara Merah Indonesia (TEMI), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Politik Tarikat Islam (PPTI)/Barisan Tentara Allah (BATA) dan Barisan Janggut, Partai Tarbiyah Islamiyah (PERTI)/Laskar Muslimin dan Muslimat Indonesia, Partai Nasional Indonesia (PNI), Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM)/Barisan Hulu Balang Indonesia (BHBI), Muhammadiyah/Barisan Hizbullah.[8]

Kehadiran partai-partai dan organisasi itu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk aktif dalam kegiatan memperkuat perjuangan mempertahan kemerdekaan dan memberikan keamanan terhadap masyarakat. Pada bulan Maret 1946 setiap barisan ini mengadakan latihan kemiliteran di nagari masing-masing dan untuk komandan-komandannya dilatih di Bukittinggi, Padang Panjang dan Batusangkar, sehingga saat itu terlihat latihan-latihan ala Jepang yang dilakukan di bawah terik matahari.[9]

Perjuangan pada masyarakat Sawahlunto/Sijunjung pasacakemerdekaan dibagi pada dua wilayah, yaitu wilayah Kewedanaan Sawahlunto dan Kewedanaan Sijungjung.[10] Pada agresi militer I yang terjadi antara 21 Juli 1947-4 Agustus 1947 di Kewedaan Sawahlunto tidak begitu merasakannya, karena penyerangan yang dilakukan oleh tentara Belanda berhasil ditahan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Padang. Hal ini menyebabkan pada penyerangan Belanda pascakemerdekaan belum merambah ke Sawahlunto/Sijunjung.[11]

TKR yang merupakan perubahan nama dari  Badan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk tanggal 23 Agustus 1945 yang sebagian anggotanya adalah dari bekas Gyugun, Heiho, Seinandan dan Bogodan berdiri pula di Kewedanaan Sijunjung. Dengan  TKR ini dibentuk, terjadi penarikan terhadap anggota TKR ke Batusangkar, yang menyebabkan kekosongan tentara di Kewedanaan Sijunjung. Penarikan ini dilakukan untuk mengawasi pergerakan tentara Belanda menuju Bukittinggi.[12] Dengan demikian yang tersisa hanya Polisi Tentara (PT) yang pada saat itu dipimpin oleh Mayor M. Yanis. Pada tanggal 31 Agustus 1945 di Kewedaaan Sijunjung dibentuk Komite Nasional Indonesia (KNI), anggota KNI ini terdiri dari anggota partai-partai politik seperti : MASYUMI, Partai Sosialis, PKI, MTKAAM, PPTI, PEMSI dan cerdik pandai.[13]

 Seperti halnya di Kewedanaan Sawahlunto, di Sijunjung juga terdapat barisan atau organisasi yang berafiliasi dengan partai politik seperti : Barisan Hizbullah, Tentara Merah Indonesia (TEMI), Barisan Hulubalang, dan Barisan Tentara Allah (BATA). Semua barisan ini dikoordinir oleh Volk Front yang kemudian menjadi dewan perjuangan. Dewan perjuangan ini bertugas mengatur dan memenuhi permintaan tenaga bersama logistik serta senjata yang dikirim ke medan pertempuran Padang area. Barisan-barisan ini dikirim secara bergantian.[14]

Dalam perjuangan menghadapi Agresi Militer Belanda I, masyarakat banyak membantu, baik bantuan fisik maupun logistik, khususnya masyarakat Sawahlunto/Sijunjung dikumpulkan sumbangan-sumbangan baik berupa natura/makanan untuk dikirim ke Medan Padang Area. Pengumpulan dan pengiriman ini dikoordinir oleh kewedanaan-kewedanaan masing-masing. Selain itu, di Sawahlunto/Sijunjung juga sering dilakukan latihan-latihan militer yang bertujuan untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan penyerangan Belanda pada gelombang berikutnya.[15]

Tidak lama berselang, setelah perjanjian Renville dilanggar, kembali Belanda melakukan penyerangan yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II. Agresi militer yang diadakan pada tanggal 19 Desember 1948 ini berhasil memasuki daerah Sawahlunto/Sijunjung. Keesokan harinya Belanda membom Solok dengan kapal-kapal terbang, sasaran utama dari penyerangan itu adalah Danau Singkarak, karena Belanda bermaksud untuk menguasai daerah tersebut untuk mendaratkan pesawatnya.[16]

Serangan Belanda semakin gencar, akhirnya Belanda berhasil menguasai Solok. Kemungkinan Belanda akan semakin meluaskan serangannya, untuk itu diadakan konsolidasi pasukan pada tanggal 24 Desember 1948, konsolidasi ini mengahasilkan keputusan untuk mempersiapkan pertahanan di daerah Setangkai, yang bertujuan untuk menjadikan Lintau sebagai basis perbekalan.[17]

Tanggal 28 Desemberr 1948 Komandan Resimen III Kuranji Mayor Ahmad Husein melakukan pengecekan ke daerah Tanjung Ampalu dalam usaha untuk menyusun siasat dan pertahanan. Dalam usaha pertahanan ini, jembatan Sungai Lasi dihancurkan guna menghalangi penyerangan pasukan tentara Belanda sampai ke Sawahlunto. Dengan dikuasainya Solok, pasukan Belanda mendapatkan keuntungan dalam melakukan penyerangan ke Sawahlunto.[18]

 Pada tanggal 30 Desember Belanda bergerak menuju Sawahlunto dengan menelusuri rel kereta api, yang didahului pasukan infantri baret hijaunya. Belanda berhasil menembus Sawahlunto setelah terjadi pertempuran di Guguk Sarai. Belanda mendapatkan perlawanan yang sengit, sehingga terpaksa mendatangkan bala bantuan dari solok dengan mendatangkan pasukan lapis baja, selain itu mereka juga dilindungi oleh pesawat-pesawat tempur.[19]

 Dengan menduduki Sawahlunto, Belanda mendapatkan akses yang mudah menuju Sijunjung, walaupun dalam perjalanannya Belanda mendapatkan perlawanan yang kuat.  Perang gerilya yang diterapkan pejuang lokal yang mengandalkan senjata tradisional  membuat Belanda kocar kacir. Di kewedanaan Sijunjung reaksi yang dilakukan seiring dengan kedatangan Belanda adalah dengan diadakannya rapat  Badan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) di Surau Batu Pahat, Aur Gading. Kapten Zainuddin membentuk front-front pertempuran, yaitu Batu Arang yang dikomandoi oleh Letnan Salim Halimi yang daerahnya meliputi aliran Sungai Ombilin Talawi-Sawahlunto-Palangki-Muaro Bodi dan Tanjung Ampalu.[20]

Selain itu, pemerintahan daerah juga membentuk angkatan pemuda. Pemuda tersebut diasramakan di nagari-nagari masing-masing dan kapan saja mereka bisa dikerahkan ke medan pertempuran yang terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok pemuda yang tergabung ke dalam BPNK dan pemuda ekstrimis atau gerilya.  Kelompok pemuda ekstrimis ini dikirim ke medan pertempuran  dan kelompok pemuda yang tergabung ke dalam BPNK yang bertugas mengadakan penjagaan dan sewaktu-waktu menghadapi kegiatan musuh yang masuk. Mereka adalah pasukan anti spionase, yang akan memata-matai penyusupan mata-mata Belanda yang tergabung dalam Intelejen Dienste (ID).[21]

Agresi militer kedua yang dilakukan Belanda, berhasil menguasai pusat pemerintahan RI di Yogyakarta. Untuk menyelamatkan pemerintahan RI terpaksa pemerintahan dipindahkan ke daerah Sumatera Barat yang dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).[22] Dalam perjalanannya staf PDRI dibawah pimpinan Syafrudin Prawiranegara sampai di Sumpur Kudus, yaitu sebuah nagari yang terletak di pedalaman. Selama melakukan tugasnya, pemerintahan darurat dikawal oleh semua tentara lokal di Sumatera Barat dan daerah Sawahlunto/Sijunjung. Mereka  melakukan penjagaan yang ketat kepada PDRI. Laskar, barisan dan front pemuda bahu membahu bersama tentara nasional, melakukan perlawanan terhadap Belanda.[23]

Pada tanggal 16 Februari 1949 tentara Belanda mengadakan patroli ke Padang Lawas dan langsung membakar rumah-rumah rakyat. Kegiatan ini tercium oleh staf PDRI di Sisawah, sehingga lewat radio pasukan yang dipimpin oleh A . Wahid meninjau ke Padang Lawas. Peninjauan tersebut juga tercium oleh pasukan Belanda, sehingga Belanda melakukan patroli ke Tanjung Ampalu pada tanggal 25 Februari 1949. PDRI tidak lama berada di Sawahlunto/Sijunjung, karena khawatir diketahui Belanda. [24]

PDRI selalu berjalan menelusuri semak dan hutan belantara demi menyelamatkan pemerintahan dan kemerdekaan. Perjuangan dari hutan ke hutan ini berakhir setelah Sukarno mengumumkan gencatan senjata tertanggal 17 Agustus 1949. Di Sumatera Barat sendiri dilakukan perundingan antara pejabat-pejabat Republik dan Belanda untuk mengatur keberangkatan pasukan Belanda dan pergantian kedudukannya oleh tentara dan pasukan keamanan RI.[25]

[1] Mestika zed, Pemberontakan Komunis Silungkang 1927 : Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat (Yogyakarta : Syarikat Indonesia, 2004),  hlm. 10-30.

[2] Armyin An (dkk), op,cit., hlm. 105.

[3] Ibid., hlm. 19.

[4] Hasan Basri (dkk), op.cit., hlm. 108.

[5] Ibid.,

[6] Armyin An (dkk), op,cit., hlm. 89-96.

[7] Hasan Basri (dkk), op.cit., hlm. 108.

[8]Armyin An (dkk), op,cit., hlm. 112-113. Lihat juga Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi : Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. 171.  Akan tetapi tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai berapa jumlah anggota dari setiap partai politik dan organisasi yang ada saat itu.

[9] Armyin An (dkk), op,cit., hlm. 115-119.

[10] Pembagian pembahasan ini dilakukan karena dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan terjadi pada 2 wilayah, sebelum kabupaten Sawahlunto/Sijunjung terbentuk.

[11] Ibid.,

[12] Hasan Basri (dkk), op.cit., hlm. 121.

[13] Ibid.,hlm. 115.

[14] Armyin An (dkk), op,cit., hlm. 117-118.

[15] Ibid., hlm. 120.

[16] Ibid.,

[17] Ibid.,

[18] Ibid.,

[19] Ibid., hlm. 126.

[20] Ibid.,

[21] Audrey Kahin, op,cit., hlm. 213-215.

[22] Ibid.,

[23] Muhammad Rasjid, Di Sekitar Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) (Jakarta : Penerbit Bulan Bintang, 1982), hlm. 42-45.

[24] Audrey Kahin, op,cit., hlm. 215.

[25] Ibid.,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s