Mengenal SAWAHLUNTO (Part 1) : Pembentukan Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung

Yusran Ilyas, S.hum

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, berdasarkan reorganisasi yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1913, Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung adalah bagian dari wilayah Afdeeling Tanah Datar. Wilayah Sawahlunto/Sijunjung masih dibagi menjadi Onderafdeeling Sawahlunto dan Onderafdeeling Sijunjung[1], dan pada tahun 1929 pemerintah kolonial Belanda kembali melakukan perombakan daerah administratif Residentie Sumatera’s Westkust. Perombakan ini memisahkan wilayah Sawahlunto/Sijunjung kedalam 2 Afdeeling, yaitu Onderafdeeling Sijunjung masuk Afdeeling Tanah Datar dan Onderafdeeling Sawahlunto berada dalam Afdeeling Solok. Dalam perkembangan selanjutnya dilakukan lagi reorganisasi pemerintahan tahun 1935 menempatkan Sawahlunto/Sijunjung dalam Afdeeling Solok[2], keadaan ini  sampai masa pemerintahan Jepang. Pusat pemerintahan Kabupaten (Bunsyu cho) Solok berkedudukan di Sawahlunto.

Setelah kemerdekaan berdasarkan Besluit No. R.I/I tertanggal 8 Oktober 1945, Kepala Pemerintah Republik Indonesia Daerah Sumatera Barat memutuskan bahwa keresidenan ini dibagi menjadi 8 Luhak. Salah satunya adalah Luhak Solok, dan Sawahlunto/Sijunjung menjadi kewedanaan yang merupakan unit administratif di bawah Luhak, yaitu Kewedanaan Sawahlunto dan Kewedanaan Sijunjung.[3]

Pada tanggal 16-17 April 1946 disepakati untuk membagi Provinsi Sumatera menjadi tiga Sub-Provinsi, salah satunya adalah Sumatera Tengah yang mencakup Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Tiga bulan setelah pembentukan Provinsi Sumatera Tengah, pemerintah pusat mengeluarkan UU No. 22 tentang Pemerintahan Daerah, dengan keputusan ini wilayah Sawahlunto/Sijunjung masuk kedalam Kabupaten Talang yang sebelumnya merupakan Luhak Solok dan Luhak Tanah Datar.[4]

 Akibat Agresi Militer Belanda II, rancangan daerah otonomi berdasarkan Undang-Undang No. 22/1948 Kabupaten Talang tidak sempat direalisasikan. Dalam peristiwa ini, Belanda berhasil menangkap Bupati Jamalus Yahya. Dengan ditangkapnya bupati Kabupaten Talang saat itu, berarti administrasi pemerintahan agak sedikit macet. Untuk melanjutkan perjuangan rakyat, Gubernur Militer daerah Sumatera Barat dengan Surat Keputusan No. 49/GM/Inst.tanggal 18 Februari 1949 dan berdasarkan pertimbangan strategi perjuangan, Kewedanaan Sijunjung dan Kewedanaan Sawahlunto disatukan untuk menguatkan pemerintahan dalam masa perang. [5]

Dari penyatuan tersebut terbentuklah satu Kabupaten Militer Sawahlunto/Sijunjung dengan Tan Tuah Gelar Bagindo Ratu yang menjadi Bupati Militer pertama yang berpangkat Mayor Tituler, diangkat pada tanggal 18 Februari 1949. Semenjak itu Wilayah Sawahlunto/Sijunjung telah menjadi kabupaten tersendiri. Pada tanggal 3 Maret 1949 bertempat di rumah M. Jamil Dt. Anta Dirajo di Tanjung Bonai Aur diadakan rapat dengan acara pembagian daerah administratif, menentukan Staf Bupati Militer, dan pejabat-pejabat kabupaten serta pejabat untuk masing-masing daerah.[6]

Hasil keputusan rapat adalah membentuk empat daerah kewedanaan di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung yaitu :[7]

  1. Kewedanaan Sawahlunto berkedudukan di Sawahlunto.
  2. Kewedanaan Tanjung Ampalu berkedudukan di Tanjung Ampalu.
  3. Kewedanaan Sijunjung berkedudukan di Sijunjung.
  4. Kewedanaan Batanghari berkedudukan di Sungai Dareh.

Luas daerah Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung pada tahun 1966 sekitar 6.091,53 Km2, kabupaten ini merupakan daerah nomor tiga terluas setelah Kabupaten Pasaman (7.835,40 Km2) dan Kabupaten Solok (7.084,20 Km2) atau 14,43 % dari luas Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung terletak antara : 0. 40’ 30” – 1. 7’ 8” Lintang Selatan dan 100. 42’ 30” – 101. 44’ 20” Bujur Timur. Struktur daerah  membujur dari utara ke selatan, bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Tanah Datar, sebelah selatan berbatasan dengan Bungo Tebo Provinsi Jambi, sebelah timur berbatasan dengan Indragiri Hilir Provinsi Riau, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kodya Sawahlunto dan Kabupaten Solok.[8]

Daerah ini berada lebih kurang 100 – 1200 M permukaan laut, sehingga suhunya antara 25° – 32° C. Yang terdiri dari daerah perbukitan yang terletak pada bagian barat dan barat laut Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, sebelah utara dan timur laut dilalui oleh bukit barisan, sedangkan sebelah selatan dan timur merupakan daerah datar dan dataran rendah yang merupakan daerah aliran sungai.[9]

Secara administratif sejak tahun 1949-1970 wilayah ini di bagi menjadi 9 Kecamatan, yaitu Kecamatan Talawi,  Sawahlunto, IV Nagari, Koto VII, Sumpur Kudus, Sijunjung, Tanjung Gadang, Pulau Punjung, dan Kecamatan Koto Baru. Ada  4 kecamatan perwakilan yang terdiri dari Kecamatan Perwakilan Koto Baru yang berkedudukan di Sungai Rumbai yang meliputi 19 desa, Kecamatan Perwakilan Pulau Punjung  yang berkedudukan di Koto Agung meliputi 17 desa, Kecamatan Perwakilan Tanjung Gadang yang berkedudukan di Kamang meliputi 25 desa, dan Kecamatan Perwakilan Sijunjung yang berkedudukan di Sungai Jodi Lubuk Tarok meliputi 11 buah desa.[10]

Sampai tahun 1970 hampir tidak terjadi purubahan daerah administrasi di Sumatera Barat. Sepinya pembentukan daerah administratif baru banyak ditentukan oleh kegaduhan politik yang terjadi di daerah ini khususnya dan Indonesia pada umumnya selama dekade 1960-an. Kalaupun ada perubahan maka itu hanya merupakan pengukuhan atas perubahan status Kota Besar dan Kota Kecil (Kotapraja) menjadi Kotamadya. Perubahan itu dilakukan pada tahun 1966.[11]

[1] Gusti Asnan, Pemerintahan Sumatera Barat Dari VOC hingga Reformasi (Yogyakarta: Citra Pustaka, 2006),  hlm. 72.

[2] Ibid., hlm. 74-79.

[3] Ibid., hlm. 126-128.

[4] Ibid., hlm. 129-131.

[5] Armyin An (dkk), op.cit., hlm. 6-9.

[6] Nasution, ”PEMEKARAN WILAYAH DI SUMATERA BARAT :Studi Tentang Pembentukan Kabupaten Dharmasraya (1999-2OO5)”, Skripsi (Padang : Fakulras Sastra Unand, 2009), hlm. 27. Lihat juga Hasan Basri (dkk), Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung 1833-1950 ( Muaro Sijunjung : Inforkom, 2004 ), hlm. 156.

[7] Ibid., hlm. 156.

[8] Bappeda Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, Sawahlunto/Sijunjung Dalam Angka 2002 (Sawahlunto/Sijunjung : Bappeda Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung 2004), hlm. 2.

[9] Armyin An (dkk), op.cit., hlm. 1-6.

[10] Ibid.,

[11]  Gusti Asnan, op,cit., hlm.141.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s