Mengharapkan kebangkitan kereta api di Sumbar

Aulia Rahman

Sempat mengalami masa jaya di masa kolonial belanda, kereta api tidak mampu bangkit. Pada masa kolonial belanda, ketereta api di sumbar mengandalkan angkutan batu bara dan semen curah sebagai angkutan utama. Perkeretaapian di dmulai beberapa tahun setelah ditemukan batu bara oleh De Grave eorang geolog belanda yang melakukan ekspedisi ke pedalaman Sumbar. Menurut laporan daerah yang mengandung batu bara terletak di sepanjang Sungai Ombilin. Akhrinya De Grave meninggal akibat tenggelam di dekat daerah Durian Gadang sewaktu menjalankan tugas mengadakan survei di Batang Kuantan guna kepentiangan transportasi batu bara Ombilin. Karena dia memimpin rombongan maka ekspedisi dihentikan. Geolog ini menaksir cadangan paling sedikit 200 juta ton. Keuntungan yang didapat pada akhir abad ke-19 berjumlah 1.334.000 Gulden Setelah dilakukan penelitian untuk jalur pengangkutan batu bara maka jalur kereta api di diresmikan pada tahun 1899.

Keadaan alam yang berbukit-bukit, menjadi kendala utama dalam perluasan jaringan kereta api. Mengatasi kendala itu, perlu kontruksi rel kereta api yang sesuai dengan daerah yang memiliki tanjakan yang cukup tinggi. Penyesuaiaan terhadap kondisi alam itu melahirkan 2 tipe kontruksi rel. Pada daerah yang datar dipergunakan rel yang tidak bergerigi. Sedangkan daerah yang tanjakan yang tinggi dipakai rel kereta api yang bergerigi.

Tahun 1945 Indonesia mendeka dari penjajahan belanda, dan dilanjutkan dengan pengambilan alih pengelolaan kereta api. Regulasi yang mengatur perusahaan kereta api mengalami beberapa kali pergantian nama sejak diambil alih oleh pemerintahan Indonesia, setelah dinasionalisasikan perusahaaan swasta asing tahun 1950-an. Akan tetapi, Indonesia sibuk mengurus masalah pertahanan kemerdekaan dan urusan dalam negeri lainnya. Di Sumbar sendiri, masalah PRRI dan peristiwa G 30 S menjadi titik balik kereta api di daerah yang dihuni oleh mayoritas etnis Minangkabau. Pada masa PRRI bergolak, kereta api terhenti pengoperasiannya selama 27 hari.

Setelah berakhirnya 2 peristiwa ini, kereta api di Sumbar sambut dengan persaingan antar kendaraan. Munculnya kendaraan bermotor sperti bus dan truk, peran kereta ap sebagai angkutan penumpang barang dan penumpang turun naik. Tercatat ada penurunan pengunaa kereta api pada tahun 1970 berkurang 220.000 orang dari tahun sebelumnya dan terjadi kenaikan pada tahun berikutnya. Pada angkutan baran terjadi peningkatan dari tahun ke tahun rata-rata peningkatan angkutan barang 100.000 setiap tahunnya. Ketika batu bara mengalami kemerosotan perusahaan pengelola mengakibatkan kehilangan pendapatan yang cukup besar dan mengancam keberadaan kereta api di Sumbar, karena sesuai dengan rancangan awal keberadaan kereta api ini untuk menunjang pendistribusian batu bara.  Sedangkan pengunaanya tidak lagi sepenting masa Belanda sebagai alat transportasi dan pengangkut batu bara. Kemerosotan ini memberikan efek domino terhadap perusahaan kereta api.

Pergantian nama perubahaan yang bertujuan untuk meingkatkan pelayanan. Ternyata tidak mampu membuat kereta api bangkit dari kemuduran. Penurunan pelayanan kereta api karena berkurangnnya frekuensi angkutan batu bara.  Dapat dilihat dari angka produksi batu bara pada periode 1961-1965 mencapai 110.000 ton pertahun dan dalam periode 1967-1973 79.000-90.000 ton pertahun. Selain itu, Pengurangan lokomotif memperparah kemunduran kereta api. Pada masa kemerdekaan tercatat lokomotif bergerigi sebanyak 24 buah akan tetapi pada tahun 1970-an hanya dioperasikan sebayak 6 buah. Hal semacam ini tidak lepas dari meningkatnnya jumlah kendaraan bermotor pada tahun 1960-an jumlah bus yang tercatat 1000 unit dan  truk 2.360 unit, sementara itu pada tahun 1972 trecatat 1858 bus dan 3332 truk di tambah sarana dan prasarana lalu lintas yang mulai membaik.

Pada akhir tahun 1977 permintaan batu bara meningkat, untuk itu perusahaan mendatangkan lokomotif baru 31 unit. Tujuan dari penambahan  lokomotif ini untuk kelancaran pengangkutan batu bara dan semen curah dari Indarung ke Pelabuhan Teluk Bayur. Selain itu, guna mengantisipasi persaingan dengan  kendaraan bermotor.

Berbagai cara dilakukan untuk membangkitkan kereta apai di Sumbar. Menyajiakan kereta api wisata belum mampu mengatasi kerugian yang dialami oleh perusahaan kerta pai sebagai badan usaha pengelolah. kerena biaya operasional yang tinggi dari keuntungan yang didapat.

Walaupun demikian kereta api di sumbar belum dapat dikatakan mati, kerena masih ada harapan. Sebagai alat tranportasi yang dapat mengangkut barang dalam jumlah yang cukup banyak. Jika dibandingkan dengan truk maupun bus, kereta api dapat diandalkan untuk angkutan jarak jauh. Pemanfaatan kereta api sebagai alat angkut jarak jauh dapat mengurangi biaya operasional yang dikeluarkan penguasaha bus maupun truk. Mengatasi kemacetan yang sudah mulai menjadi masalah jalan lintas  abtar kota dan kabupaten. Serta menghemat biaya perbaikan jalan oleh pemerintah. Selain itu, penyerahan pengelolaan kepada pihak swata diharapkan mampu menbangkitkan kereta api dari tidur panjangnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s