Propaganda Jepang Sebelum Tahun 1942

Jauh sebelum menguasai Indonesia, Jepang sudah mempersiapkan diri untuk mengambil hati rakyat Indonesia yang ketika itu masih berada di bawah kekuasaan kolonialis Belanda. Propaganda menjadi alat utama bagi Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia, sehingga bangsa itu telah mempersiapkannya secara sistematis selama beberapa tahun sebelum melaksanakan invasi ke wilayah Selatan. Awal persiapan materi propaganda ditandai dengan penerbitan artikel yang ditulis oleh Jenderal Araki, Menteri Urusan Perang, dalam bulan April 1932. Artikel itu berjudul The Call of Japan in the Sowa Period (Seruan Jepang Pada Masa Sowa), yang memuat ajaran bahwa bangsa Jepang harus mengikuti Imperial Way (Jalan Kekaisaran) untuk mengangkat bangsa Yamato, dan untuk menyelamatkan Asia Timur serta dunia. Jenderal Araki mengakhiri artikel ini dengan suatu penegasan bahwa misi bangsa Jepang adalah menyebarluaskan doktrin Imperial Way di seluruh lautan dan dunia.

Asal-usul kata propaganda sulit ditentukan secara pasti, tetapi ada suatu sumber yang menyatakan bahwa kata itu mulai digunakan pada tahun 1622, ketika Paus Gregory XV mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Congregatio de Propaganda Fide. Organisasi itu bertugas untuk menyebarkan agama Kristen Katholik di kalangan masyarakat non-Kristen. Dalam konteks pengertian ini, propaganda diartikan sebagai organisasi yang mengirimkan pesan-pesan. Setelah tahun 1622 propaganda tidak hanya diartikan sebagai organisasi, tetapi juga sebagai pesan yang disebarkan oleh organisasi. Dalam perkembangan, pengertian propaganda juga berkaitan dengan teknik yang digunakan untuk menyampaikan pesan, sebagai contoh: iklan, film dan televisi (James E. Combs dan Dan Dimmo, 1994: 9). Berdasarkan tujuannya, propaganda juga diartikan sebagai komunikasi yang ditujukan untuk menyebarluaskan tujuan yang diinginkan (sering bersifat subversif dan jahat) terhadap para pemirsa, dan dilakukan dengan cara-cara yang berpengaruh. sistem propaganda dalam konteks kekuasaan Jepang di Indonesia mencakup organisasi, pesan, dan teknik penyampaian pesan yang ditujukan untuk mempengaruhi bangsa Indonesia guna mendukung pencapaian tujuannya. Dalam sistem pemerintahan Jepang di Indonesia, propaganda merupakan bagian penting dan integral. Suatu indikasi bahwa propaganda tidak terpisahkan dari sistem pemerintahan Jepang di Indonesia adalah pembentukan departemen propaganda (Sendenbu) di bawah pemerintah militer Jepang. Untuk menguasai Jawa, Jepang berpegang pada dua prinsip utama yaitu: bagaimana menarik hati rakyat (minshin ha’aku) dan bagaimana mengindoktrinasi dan menjinakkan mereka (senbu kosaku). Prinsip ini perlu dilaksanakan untuk memobilisasi seluruh rakyat guna mendukung kepentingan perang dan untuk merubah mentalitas mereka secara keseluruhan. Berdasarkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia harus dibawa kepada pola tingkah laku dan berpikir Jepang, propaganda ditujukan untuk mengindoktrinasi bangsa ini agar dapat menjadi mitra yang dapat dipercaya dalam Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Betapa propaganda memiliki arti penting bagi Jepang untuk menguasai wilayah dan rakyat Indonesia, sehingga bangsa itu pun telah mempersiapkan sistem propagandanya secara sistematis dan intensif sejak sebelum pelaksanaan invasi ke negeri ini.

Ketika menguasai Indonesia, Jepang membuat program-program dan melaksanakan propaganda secara sistematis. Meskipun Jepang memerintah Indonesia secara militeris, rakyat Indonesia tetap bersedia untuk memberikan dukungan pada innstruksi-instruksi Jepang melalui sarana propagandanya. Berdasarkan permasalahan ini, penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut: pertama, “mengapa Jepang perlu melaksanakan propaganda di Jawa”; ke dua, “bagaimana sistem propaganda Jepang di Jawa”; dan ke tiga “bagaimana rakyat Jawa bereaksi terhadap system propaganda Jepang itu.” Jepang telah memprogandakan dirinya sebagai bangsa pemimpin dan penyelamat bagi bangsa-bangsa Asia yang terjajah, tetapi tanpa menyatakan tindakan agresifnya untuk menguasai wilayah-wilayah lain. Tindakan itu merupakan salah satu karakter fasis Jepang Seperti kaum fasis yang lain, ketika itu Jepang telah melegitimasi perannya sebagai pemegang kekuasaan atas bangsa-bangsa Asia Timur. Sesungguhnya, slogan yang bersifat kemanusiaan untuk membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas oleh bangsa Barat merupakan kedok Jepang untuk melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah lain dan menampilkan diri di panggung kekuasaan dunia.

Segera setelah pecah perang di Eropa dalam bulan September 1939, Jepang mulai mempersiapkan diri untuk mengadakan invasi ke wilayah-wilayah di sebelah Selatan Jepang. Indonesia merupakan sasaran invasi Jepang yang penting karena wilayah itu memiliki persediaan bahan mentah seperti minyak, karet, timah, boksit, manggan yang sangat diperlukan untuk mendukung kepentingan perang. Untuk persiapan penyerbuan ke wilayah Selatan, sistem propaganda pun semakin diperkuat. Dalam musim panas tahun 1940 Pangeran Konoye meresmikan empat biro propaganda di Tokyo. Biro propaganda yang utama adalah Cabinet Information Biro, sedangkan tiga biro yang lain ditempatkan di kementerian luar negeri, markas militer, dan di Taisei Yomusankai (Pergerakan Nasional Baru). Propaganda disiarkan melalui radio, pers, dan pamflet dan dilaksanakan oleh organisasi-organisasi propagandis, sebagai contoh Great Asia Society dan South Seas Association. Selain melalui media komunikasi, propaganda juga dilakukan secara lisan oleh para propagandis, dan mengundang bangsa-bangsa Asia lainnya untuk mengikuti pendidikan serta bekerja di Jepang. Khususnya untuk Indonesia, sasaran pertama Jepang adalah para wartawan atau orang-orang yang bergiat dalam dunia persuratkabaran. Pada tahun 1933 Jepang telah mengundang pemimpin redaksi surat kabar Bintang Timur, bersama dengan wartawan lainnya, untuk mengunjungi Jepang. Undangan ini dimaksudkan untuk menanamkan rasa hutang budi, sehingga para wartawan Indonesia itu bersedia menyiarkan tulisan-tulisan yang mendukung Jepang. Selain mempengaruhi para wartawan Indonesia, sejak tahun 1932 Jepang telah menerbitkan surat kabar sendiri di Jawa yang diberi nama Java Nippo. Kemudian terbit juga surat kabar lainnya yaitu Nichiran Shogyo Shinbun dan Tohindo Nippo yang diperuntukkan bagi orang-orang Jepang yang tinggal di Indonesia. Bagi Jepang, pers dan wartawan menjadi saluran penting untuk menyiarkan propagandanya, karena melalui media cetak, yang dapat memberikan informasi tertulis, propaganda dapat dibaca oleh khalayak secara ber-ulang-ulang, sehingga pengaruhnya pun dapat lebih intensif dan efektif. Oleh karena itu Jepang membeli percetakan dan penerbitan Tjahaja Pasoendan, yang kemudian diberi nama Warta Harian. Pembelian perusahaan surat kabar tersebut didanai oleh Yosuka Matsuoka (Presiden Direktur Jawatan Kereta Api Manchuria Selatan), Ainosuke Iwata (seorang agitator Pan-Asia), dan oleh Biro Penelitian Ekonomi di Asia Timur. Surat kabar harian tersebut terbit di Jakarta dan dicetak dalam bahasa Melayu. Setiap hari harian ini mencapai tiras sebanyak 5000 eksemplar (Soebagijo IN, 1980: 70). Setelah tahun 1940 propaganda Jepang menjadi semakin gencar. Pada tanggal 16 Maret 1941 melalui radio Taihoku di Tokio. Khususnya di wilayah Indonesia, seruan anti Belanda menjadi issue propaganda yang dikumandangkan secara tegas, terutama melalui siaran radio. Propaganda anti Belanda itu telah mendapat perhatian khusus penduduk Indonesia, seperti dikisahkan oleh Abdul Hamid, seorang penduduk Jakarta. Untuk memperoleh simpati rakyat Indonesia, selain mengobarkan spirit anti Belanda, Jepang juga selalu menyiarkan propagandanya dalam bahasa Indonesia, dan dalam setiap siaran radio untuk Indonesia selalu diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diiringi oleh Tokyo Philharmonic Orchestra yang sudah mempunyai nama Internasional. Propaganda yang demikian itu telah membentuk opini bangsa Indonesia bahwa Jepang memang akan membebaskannya dari penjajahan bangsa Barat. Hanya beberapa bulan setelah penyerbuan Jepang terhadap Pearl Harbour pada tanggal 8 Desember 1941, balatentara Jepang telah berhasil mendarat di Jawa, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1942. Dalam waktu satu minggu setelah pendaratan itu, Jepang telah berhasil memaksa pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk menyerah tanpa syarat di Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942. Pada umumnya kedatangan balatentara Jepang itu disambut secara entusias oleh rakyat Indonesia. Pada awalnya tentara Jepang menciptakan hubungan yang baik dengan penduduk, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan mereka. Di sepanjang jalan yang dilalui oleh tentara Jepang, penduduk menyambut mereka dengan kata-kata “selamat datang” dan “Banzai”. Sebaliknya, tentara Jepang menyerukan “Hidup Indonesia”. Banyak orang berpendapat bahwa sambutan positif rakyat Indonesia ini merupakan indikasi keberhasilan propaganda Jepang. Akan tetapi, munculnya sambutan positif rakyat itu lebih dapat dipahami sebagai ekspresi harapan mereka untuk memperoleh kebebasan dari cengkeraman kekuasaan kolonialis Belanda yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Rakyat Jawa telah meyakini ramalan Jayabaya yang menggambarkan bahwa akan datang jaman yang lebih baik untuk menggantikan jaman yang buruk.. Jaman baik ini ditandai oleh munculnya pemerintahan Ratu Adil, tetapi sebelumnya akan terdapat masa peralihan yang didominasi oleh orang kerdil yang berlangsung selama hidup tanaman jagung. Kemudian banyak orang mengidentifikasikan orang kerdil itu sebagai orang Jepang

Iklan
By rangkiangbudaya Posted in admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s