Pemanfaatan Sumber Daya Arkeologi

 

Pelestarian dan pemanfaatan BCB dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, mengembalikan kepada kondisi awal agar dapat diketahui nilai-nilai asli yang dikandung. Kedua, memperbaiki kondisi yang ada agar nilai-nilai kultural dan historisnya dapat diapresiasi oleh pengamat pada masa kini. Ketiga, menyiapkan setting baru agar dapat mengapresiasikan dirinya sesuai dengan jamannya. Masalah pengelolaan sumberdaya budaya, khususnya warisan budaya, menjadi salah satu bahasan yang menarik. Hal ini disebabkan karena kini banyak orang melihat sumberdaya budaya itu sebagai sumberdaya yang berpotensi untuk memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat luas, terutama dikaitkan dengan potensinya sebagai daya tarik wisata. Selain itu, sumberdaya budaya dianggap mempunyai nilai-nilai yang dapat dijadikan identitas suatu bangsa atau suatu daerah dalam era global ini.

Namun, banyak orang memiliki persepsi yang berbeda tentang bagaimana sumberdaya budaya itu harus dikelola dan dimanfaatkan. Lebih daripada itu, banyak orang yang tidak cukup memahami apa hakekat pengelolaan sumber-daya budaya itu. Untuk itu, sebelum lebih jauh berbicara mengenai pengelolaan sumberdaya budaya di perkotaan, perlu dikemukakan lebih dulu hakekat pengelolaan sumberdaya budaya itu, baik yang bersifat bendawi, tindakan-tindakan, maupun gagasan-gagasan.

Menurut Schiffer(1976), sumberdaya budaya selalu akan mengalami proses didapat, dibuat, dan dipakai sesuai dengan tujuan pembuatannya. Semua kegiatan itu berada pada konteks sistem. Artinya, sumberdaya budaya itu masih berada dan berfungsi di tengah masyarakat. Dalam konteks sistem, sumberdaya budaya dapat dipakai berulang-ulang sesuai fungsi semula (reuse) atau dapat mengalami daur ulang melalui proses pembuatan kembali menjadi sesuatu yang baru. Namun, ada pula sumberdaya budaya yang dianggap sudah tidak diperlukan lagi lalu dibuang, ditinggalkan atau hilang, sehingga masuk ke dalam konteks arkeologis. Sumberdaya budaya yang sudah masuk ke konteks arkeologi dapat saja kemudian punah. Sebaliknya, sumberdaya itu juga dapat difungsikan lagi dengan dimasukkan kembali pada konteks sistem, melalui reklamasi atau di sini lebih populer disebut revitalisasi. Dalam proses itu, sumberdaya budaya dapat langsung digunakan seperti semula (reuse) atau dapat pula didaur ulang (recycle) sebelum dapat dimanfaatkan. Melalui kerangka Schiffer ini, dapat dipahami bahwa hakekat pengelolaan sumberdaya budaya adalah melestarikan sumberdaya budaya agar tetap ada dalam konteks sistem dan berguna bagi kehidupan masyarakat sekarang. Untuk itu, seringkali sumberdaya budaya itu harus melalui proses daur ulang dan reklamasi. Dengan kata lain, pengelolaan sumberdaya budaya adalah upaya untuk memberi makna baru bagi sumberdaya budaya itu. Karena itu, jika tidak ada makna baru yang dapat dirasakan masyarakat masa kini, upaya pengelolaan itu akan terasa sulit atau bahkan tidak akan mencapai sasaran.

Strategi pemanfaatan cagar budaya

  1. Pendekatan Pariwisata Yang Bertanggung Jawab (Responsible Tourism)
  2. Pendekatan industri budaya (Culture industry)
  3. Pendekatan Pengaturan Kunjungan (Visitor management)
  4. Pendekatan Pengelolaan Kualitas (Managing Quality)

Makna baru yang disandangkan pada sumberdaya budaya itu dapat bermacam-macam, antara lain dapat menjadi identitas atau jatidiri suatu kelompok masyarakat tertentu (negara, kota, kelompok etnis tertentu), sebagai daya tarik wisata, atau untuk kajian ilmu pengetahuan. Makna yang berikan akan sangat tergantung pada keinginan dan kesepakatan bersama seluruh unsur masyarakat. Dalam konteks ini, perlu adanya kajian tentang nilai penting sumberdaya budaya, sosialisasi nilai penting, mencari kesepakatan dalam memberi makna pada sumberdaya budaya, lalu menetapkan cara-cara pengelolaan (management-plan) yang paling tepat.

            Sebagai fasilitator, pengelola harus mampu membantu proses pemaknaan atau pemanfaatan sumberdaya budaya itu. Mereka harus dapat memberikan masukan-masukan sesuai dengan keahlian dan pengetahuan, tetapi masyarakat yang akan menentukan pilihan mereka sendiri. Selain itu, mereka harus dapat membantu masyarakat atau pihak-pihak yang berbeda kepentingan menemukan solusi konflik, ketika terjadi perbedaan kepentingan dalam memaknai warisan budaya. Pengelola warisan budaya yang bijaksana akan menempatkan dirinya sebagai penjaga-pengelola (= steward; lihat Mayer-Oakes, 1990). Secara profesional, pengelola warisan budaya bertanggungjawab terhadap kelestarian dan pemanfaatan warisan budaya. Namun mereka tidak dapat berbuat semena-mena terhadap sumber daya itu karena itu semua bukan milik mereka. Sebaliknya, penjaga-pengelola harus lebih banyak mendengar kemauan dan kepentingan pemilik sumberdaya itu sendiri, yaitu masyarakat luas. Hanya dengan cara demikian, maka pengelolaan warisan budaya akan dihargai oleh masyarakat, dan tidak sebaliknya malah dicela dan dicap sebagai penghambat pembangunan.

proses transformasi yang digambarkan oleh Schiffer berjalan lebih dinamis. Proses daur-ulang banyak terjadi untuk mengikuti kecenderungan budaya baru. Bangunan lama digusur dan digantikan dengan yang baru. Gaya hidup yang lama cepat digantikan dengan gaya hidup baru. Di perkotaan yang berciri kehidupan materialis dan konsumtif, sumberdaya yang memiliki nilai-nilai sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dengan mudah dikorbankan untuk kepentingan komersial semata. Karena itulah, sumberdaya budaya amat rawan menghadapi kehancuran, dengan mengatasnamakan dinamika perkembangan kota itu sendiri. Di Indonesia, bukti-bukti mengenai hal ini sudah tak terkira banyaknya. Karena itulah, pengelolaan sumberdaya budaya di perkotaan memang membutuhkan perhatian khusus. Pengelola yang bertanggungjawab harus mampu mempertahankan warisan budaya, dengan memberikan alasan masuk akal dan alternatif jalan keluar atau solusi yang dapat diterima untuk mempertahankannya.

Sebenarnya justru dalam Era Global seperti saat ini, sumberdaya budaya berperan amat penting dalam menciptakan jatidiri komunitas kota. Di banyak negara yang sudah berkembang, misalnya, bangunan-bangunan lama justru dilestarikan dengan baik sebagai bagian dari identitas atau jatidiri seluruh kota dan penduduknya.  Hal ini dapat terjadi karena para pengambil keputusan di negara maju sangat paham arti globalisasi. Globalisasi disadari tidak semata sebagai proses ekonomi, ketika barang dan jasa dapat diperoleh dengan bebas dan terbuka, tetapi sebagai proses budaya yang kompleks. Globalisasi akan menyebabkan proses homogenisasi atau penyeragaman budaya, karena banyak masyarakat yang mencoba mengambilalih budaya yang dominan sebagai budaya mereka. Apabila penyerapan unsur budaya dominan terjadi begitu kuat maka mereka akan kehilangan jatidiri (Friedman,1994; Holton,1998; Robertson,1992). Menyadari hal ini, banyak negara maju yang tidak terlena pada budaya dominan. Mereka tetap berusaha untuk mempertahankan jatidiri mereka, melalui hal-hal yang unik atau sesuatu yang tidak terdapat di tempat lain, di antaranya warisan budaya yang telah lama mereka lestarikan. Para pemerhati budaya seperti Boniface & Fowler (1993), misalnya, menunjukkan bagaimana kota-kota besar yang tetap memperhatikan tinggalan-tinggalan budaya lama justru mendapat untung besar dalam era globalisasi. London dan Paris disebut sebagai dua kota yang menjadi daya tarik tersendiri karena warisan budayanya. Wisatawan datang untuk melihatnya, karena kota-kota itu unik dengan kawasan kuno. Di tengah budaya dunia yang menjadi cenderung homogen, orang pasti akan berkeinginan untuk melihat dan mengagumi hal-hal yang khas dan unik. Keinginan ini semakin nyata jika dikaitkan dengan kecenderungan berwisata yang muncul dalam dasarwarsa terakhir ini.

Seperti dikemukakan oleh ahli kepariwisataan Buhalis dan Fletcher (1995), akhir-akhir ini telah terjadi perubahan besar dalam industri pariwisata. Apabila beberapa saat lalu orang cenderung melalukan wisata bersama dalam paket-paket wisata (mass-tourism) kini mereka cenderung melakukan wisata yang bersifat pribadi. Pada paket-paket wisata, wisatawan menghendaki kemewahan dan potongan harga yang besar, sehingga pengelola wisata cenderung menyediakan fasilitas mewah dan berusaha menekan harga serendahnya. Karena itu, mereka tidak mau membayar ongkos sosial dan kemerosotan lingkungan akibat pariwisata. Sebaliknya,  kecende-rungan berwisata yang baru (sering disebut ecotourism, alternative tourism, greentourism) justru membawa niat untuk mendapat pengalaman unik sambil ikut melestarikan sumberdaya wisata yang mereka kunjungi beserta lingkungannya. Para wisatawan justru ingin terlibat langsung dalam kegiatan budaya yang ada dan memberikan sumbangan bagi pelestariannya.

Dalam konteks ini, kota-kota yang memiliki warisan budaya yang unik baik yang bendawi (tangible) seperti tinggalan-tinggalan kuno, maupun tradisi (intangible) berupa adat istiadat dan kegiatan-kegiatan budaya, kini lebih menarik wisatawan daripada kota-kota yang tanpa warisan budaya. Tentu saja, daya tarik ini akan sangat terkait dengan bagaimana sumberdaya budaya itu disajikan kepada masyarakat.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam hal penyajian ini: keaslian (authenticity), kontekstualisasi (contextualization), dan interaktivitas (interactivity). Setiap upaya pelestarian pasti bertujuan untuk sedapat mungkin mempertahankan keaslian apa yang ingin dilestarikan. Karena itu, prinsip keaslian harus selalu dianut. Dalam hal ini, keaslian nilai-nilai penting dari sumberdaya budaya itulah yang harus tetap dilestarikan. Untuk dapat melestarikan, nilai-nilai penting itu harus disajikan dengan cara-cara yang kreatif sehingga nilai-nilai itu dapat diketahui masyarakat luas. Tanpa ada informasi tentang nilai penting, masyarakat tidak akan menghargai sumber daya budaya itu. Karena itu, banyak warisan budaya di kota yang pelestariannya tidak didukung oleh masyarakat karena mereka tidak tahu nilai pentingnya. Informasi nilai penting adalah salah satu kunci keberhasilan pelestarian. Mempertahankan keaslian juga menjadi salah satu cara untuk memberikan kesempatan pada masyarakat yang plural atau multikultural untuk menafsirkan menurut versi masing-masing. Dengan demikian, cara ini setidaknya juga akan mengurangi kemungkinan konflik dalam pemanfaatannya. Dalam konteks kepariwisataan, penelitian menunjukkan umumnya masyarakat yang hidup dengan segala kecanggihan teknologi lebih merindukan suasana asli (authentic), karena di situlah mereka dapat menemukan jatidiri mereka yang tidak dapat mereka temukan dalam kehidupan keseharian mereka (Lanfant,1995).

Namun demikian, sebagaimana telah dijelaskan dengan skema Schiffer di atas, kelestarian sumberdaya budaya juga akan tergantung pada upaya pemaknaan kembali, maka perlu adanya proses kontekstualisasi. Artinya, nilai-nilai penting tadi harus dijelaskan dalam konteks masa kini. Selama ini, pelestarian lebih sering dilakukan demi pelestarian itu sendiri, sehingga masyarakat tidak benar-benar dapat merasakan manfaatnya. Seharusnya, pelestarian harus dipahami sebagai upaya mempertahankan atau mengembalikan warisan budaya ke dalam konteks sistem. Karena itu, seringkali perlu proses ?daur ulang? agar dapat bermakna kembali sesuai dengan konteks masa kini. Karena itu, pelestarian juga memungkinkan adanya perubahan dalam batas-batas tertentu, sejauh tidak akan menghilang nilai-nilai penting yang dikandungnya. Upaya kontekstualisasi, seharusnya ditujukan untuk memberi ?roh kehidupan? kembali bagi warisan budaya yang pernah hilang, ditinggalkan, atau menjelang punah. Salah satu contoh yang banyak disebut sebagai keberhasilan proses kontekstualiasi ini adalah pendirian bangunan baru piramida kaca yang dirancang seorang Amerika keturunan Cina di Museum Louvre, Paris. Bangunan terkesan modern berlanggam non-western itu justru menjadi bagian tak-terpisahkan (menjadi lorong masuk museum) dari kompleks bangunan tua di sekitarnya. Keduanya menjadi paduan serasi antara yang baru dan yang lama, dan keduanya menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi (Boniface dan Fowler,1993).

Agar dapat dimanfaatkan, maka sumberdaya arkeologi harus dilestarikan, sebab sumberdaya arkeologi merupakan sumberdaya yang bersifat tidak dapat diperbarui (unrenewable resources). Pemanfaatan sumberdaya arkeologi karena mempunyai kelebihankelebihan atau nilai tambah seperti kondisi lingkungan atau ekologis, estetis dan arsitektonis, historis, geologis dan sebagainya. Selain potensi-potensi internal seperti telah disebutkan di atas, sumberdaya arkeologi juga mempunyai potensi eksternal, yaitu suatu potensi yang dapat dimanfaatkan oleh sektor-sektor lain.

Potensi eksternal tersebut antara lain:

  1. Scientific research, maksudnya sumberdaya arkeologi tidak hanya sebagai objek penelitian para arkeolog saja, tetapi dapat dijadikan kajian dari disiplin lain.
  1. Creative arts, sumberdaya arkeologi dapat pula dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi para seniman, sastrawan, pelukis, maupun fotografer.
  2. Education, sumberdaya arkeologi merupakan objek yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan bagi para pelajar dan generasi muda, terutama dalam upaya menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap kebesaran bangsa dan tanah airnya malalui tinggalan hasil karya nenek moyangnya.
  1. Recreation and tourism, sumberdaya arkeologi mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu objek wisata budaya dan sekaligus sebagai tempat rekreasi yang sehat dan positif. Lokasi seperti ini apabila perlu dapat “dijual” dengan harga yang relatif tinggi, sebab tidak ditemukan di tempat lain.
  2. Symbolic representation, adapula sumberdaya arkeologi yang dapat memberikan suatu gambaran secara simbolis tentang “pelajaran” bagi kehidupan manusia. Contohnya ialah beberapa panel relief pada cerita Karmawibhangga di Candi Borobudur.
  3. Legitimation of action, dalam kehidupan saat ini kadang-kadang keberadaan sumberdaya arkeologi digunakan untuk kepentingan politis, terutama bagi para pejabat yang bertujuan untuk lebih memperkuat kedudukannya.
  4. Social solidarity and integration, keberadaan sumberdaya arkeologi dapat pula mewujudkan bentuk-bentuk solidaritas sosial dan integrasi dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh adanya ikatan batin antara sekelompok masyarakat dengan suatu sumberdaya arkeologi akan mewujudkan rasa saling memiliki dan bersama-sama untuk melestarikan serta menjaganya. Rasa kebersamaan inilah yang harus diwujudkan untuk memotivasi tumbuhnya rasa solidaritas dan integrasi suatu kelompok.
  1. Monetary and economic gain, sumberdaya arkeologi yang telah dimanfaatkan sebagai objek wisata budaya, secara ekonomis akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat setempat. Karena mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat komersial, seperti berjualan cenderamata, makanan-minuman,
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s