NOVEL “Clara atawa wanita yang diperkosa”

“Clara atawa wanita yang diperkosa” didalam cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, dia menempatkan dua kesimpulan nyata yang mewakli dua identitas yang berbeda atau yang bertolak belakang , Clara –si wanita Cina itu– mendapati dirinya dilahirkan sebagai kulit kuning, bermata sipit, dan orang-orang menyebutnya Cina. Dan apabila meminjam dikotomi pribumi dan non-pribumi, Clara tidak bisa dipungkiri lagi ada dalam posisi non-pribumi.

Sementara di sisi yang lain, sang petugas dan sang pemerkosa dengan segala ciri-cirinya mewakili posisi pribumi di dalamnya, karena sang petugas adalah orang yang berwenang menerima laporan dari warga negara dan wajib melaporkannya kepada atasnya meski dia melaporkannya disesuaikan dengan kebutuhan. Sedangkan para pemerkosanya, mewakili kaum pribumi kelas bawah dengan yaitu dengan kaki-kaki lusuh dan berdaki yang hanya mengenakan sandal jepit, sebagian besar tidak beralas kaki, hanya satu yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang sudah mengering.

Yang menjadi fokus sebagai orang yang mewakili pribumi adal petugas keamanan (polisi) dan penyamun 

Clara atawa memang dilahirkan di Indonesia. Dia juga tumbuh, berkembang, dan dibesarkan di negeri Indonesia. Clara tidak bisa mengingkari keberadaannya, bahwa dia tetap Cina, setidaknya dari sisi genetis. Dengan kegigihannya dia berusaha meleburkan diri dalam hiruk pikuk kehidupan negeri di mana dia tinggali

. Apa yang dia lakukan pun juga didasarkan pemikiran demi kebaikan negeri ini. Dengan kata lain, sesungguhnya dia berkehendak untuk menjadi bagian integral dari dinamika negeri Indonesia, tetapi tetap saja semua karakteristik fisik yang melekat di dirinya tak mengubah stigma buruk tentang ke-Cina-annya.  Dari sisi identitas, tidak dipungkiri bahwa karakteristik fisik Clara adalah Cina. Meski begitu, dengan sangat jelas dia mengatakan bahwa dia adalah orang Indonesia.

Dari sisi identitas, Clara adalah figur yang tidak memandang beda antara dirinya yang Cina dengan orang-orang lain di sekelilingnya yang notabene bisa disebut pribumi. Dikotomi pribumi dan nonpribumi tidak dikenal dalam hidupnya. Untuk itu, Clara menjalani kehidupannya dengan sangat terbuka untuk menerima hubungan dengan siapapun. Bahkan, Clara berpacaran dengan seorang lelaki keturunan Jawa. Meskipun Clara dilahirkan sebagai orang Cina yang hidup di Indonesia, Clara mempunyai rasa nasionalisme keindonesiaan yang tinggi. Clara sangat tahu bahasa Indonesia, selain bahasa Inggris untuk kebutuhannya berdagang atau berbisnis. Pemahaman akan bahasa ini juga justru diakui oleh petugas yang dilapori oleh Clara. Dia bercerita dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti. Bukan karena bahasa Indonesianya kurang bagus, karena bahasa itu sangat dikuasainya, tapi karena apa yang dialami dan dirasakannya seolah- olah tidak terkalimatkan.

Sikap nasionalisnya yang tinggi terhadap Indonesia juga ditunjukkan dalam hal bahasa. Bahasa Indonesia, dalam kaca mata Clara masih kurang cukup bisa untuk menyediakan kosakata yang mampu mengungkapkan suatu perasaan dengan sedemikian variatif tetapi komprehensif dan tepat. Mungkin kita sendiri bangsa Indonesia, yang katanya juga menjungjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia, masih kurang menyadari kekurangan itu. Yaitu, di kala Clara begitu ingin mengungkapkan perasaannya yang sangat sakit, terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami oleh seorang wanita yang diperkosa secara bergiliran oleh banyak orang. Mari kita pikirkan bersama tentang keberadaan bahasa Indonesia kita.Saya bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam kamus besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh banyak orang –karena dia seorang wanita Cina.

‘Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi’ merupakan penggambaran yang sangat pas oleh Seno Gumira Ajidarma untuk menunjukkan  keberadaan petugas dalam cerpen ini. Selain sifat-sifat baik yang dimiliki oleh anjing dan babi, tentunya juga memiliki sifat yang jelek. Anjing, misalnya, selain setia dan melindungi, tetapi juga dengan tingkat proteksi yang sangat tinggi –hingga mungkin berlebihan– menjadikan anjing over-protecting. Anjing akan selalu menggonggong apabila ada orang atau hewan lain yang dianggap akan menyerang atau mengganggu keselamatannya. Bagi seorang petugas, mestinya memang dia harus menjalankan tugas mirip seekor anjing yang waspada untuk semua ancaman dan gangguan yang mungkin terjadi. Tetapi karena petugas ini bertindak diskriminatif, dia tidak objektif melihat siapa yang datang melapor padanya. Dia menggonggong lebih keras kepada wanita yang sebenarnya berambut coklat, meski menurut kebanyakan orang wanita ini berambut merah.

 Sebagai seorang babi, tentunya, sebuah perumpamaan bagi sifat yang jorok dan rakus. Babi mencari makan di tempat-tempat yang jorok. Biasanya mereka akan berada di kubangan air yang sangat kotor dan bau untuk mencari makan. Babi juga berendam berlama-lama di kubangan itu, yang menjadikan tubuhnya bukan menjadi bersih, tetapi justru tambah kotor. Babi juga perumpamaan dari sifat kerakusan. Apabila sudah mendapatkan makanan, di manapun dia dapatkan, babi akan berupaya untuk mendapatkan makanan tersebut semaksimal mungkin. Dia tidak akan pergi apabila bila belum merasa cukup, dan dia akan terus mencari sampai dia merasa cukup. Saking rakusnya, apabila sedang mengejar sesuatu, babi hanya bisa berjalan/berlari lurus. Dalam berlarinya, babi tidak gesit untuk berbelok-belok sehingga mengesankan dia ingin segera mendapatkan apa yang diinginkannya, meski justru biasanya malah tidak mudah meraih apa yang diinginkannya.Dalam kaitan babi dengan petugas, dalam cerpen ini, petugas mencoba untuk bertindak ‘lurus’ menyesuaikan dengan prosedur yang harus dilaksanakan sebagai seorang petugas.

Pemerkosa Memandang sedemikian benci kepada Cina, bahkan menganiaya serta memperkosa (atau mungkin sebagian ada membantai dan membunuhnya) seperti yang dilakukan oleh para pemerkosa adalah perwujudan pembedaan yang nyata. Terlepas dari kontroversi apakah didalangi orang lain ataukah karena inisiatif sendiri, para pemerkosa yang dipekirakan 25 orang ini sangatlah eksklusif memandang identitas mereka dengan orang-orang Cina. Mereka begitu antipati dengan orang-orang Cina. Dengan berbagai latar belakang yang mendasari perbuatan mereka, para pemerkosa melampiaskan kekesalan yang telah dipendam sekian lama. Sehingga pada saat ada kesempatan, mereka bertindak. Dan tindakan itu terasa sangat brutal, Clara berusaha memandang dirinya, yang Cina –nonpribumi– dan lingkungannya, yang pribumi, sebagai sesuatu yang sama. Sesuatu yang setara, sesuatu yang seimbang. Bahkan dalam memainkan perannya, sebagai usahawan, Clara masih tetap berusaha untuk mempertahankan perusahaannya dari kebangkrutan. Semua usaha ini hanya didasarkan pada perhatiannya kepada karyawannya yang sebagian besar adalah masyarakat pribumi.Di sisi lain, petugas dan para pemerkosa memandang sedemikian benci kepada orang Cina. Mereka sama-sama berpikir ekslusif dalam memandang diri mereka dengan lingkungan (Cina) di sekelilingnya.

 Diskriminasi oleh petugas menyebabkan Clara semakin mendapatkan kesulitan. Dengan kebenciannya kepada orang-orang kaya –apalagi Cina– si petugas yang sudah terlanjur menerima sogokan dan bentuk-bentuk suap lainnya yang illegal, masih juga ingin kaya. Bahkan dengan nafsu kebinatangannya, yang diibaratkan dengan anjing dan babi, ingin memperkosa Clara. Dia melupakan statusnya sebagai petugas, yang berseragam. Sedangkan para pemerkosa mungkin hanya mencoba menumpahkan kebenciannya kepada orang-orang Cina. Meski begitu, tetap saja mereka memandang eksklusif orang Cina.Yang terjadi adalah pergulatan identitas. Permasalahan nasionalisme keindonesiaan tidak bisa dipertemukan di antara pergulatan identitas ini. Apabila permasalahan identitas ini sudah bisa terselesaikan, maka lebih mudahlah untuk membangun dan memperkokoh nasionalisme.

Clara, seorang gadis keturunan Cina yang tinggal dan menetap di  Indonesia. Seorang gadis yang tidak memandang perbedaan sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dipermasalahkan. Clara adalah sosok yang ulet, disiplin, dan cerdas. Ia akan tahu apa yang harus dilakukan dalam saat-saat yang tidak menguntungkan. Seperti ketika dia harus sering pergi ke luar negeri untuk mengurusi perusahaan Ayahnya yang nyaris bangkrut. Namun, nasibnya kurang beruntung ketika terjadi kerusuhan di Ibukota pada saat itu. Dimana warga keturunan Cina mengalami penyiksaan oleh warga pribumi. Banyak orang keturunan Cina yang dibunuh, diperkosa, dan beragam penyiksaan lain yang dilakukan orang pribumi hanya karena mereka adalah “Cina”. Kabar dari Ibunya melalui telepon tentang kondisi yang tengah dialami keluarganya, membuat ia berpikir untuk melakukan tindakan menyelamatkan keluarganya. Namun dia sendiri lengah terhadap keselamatan dirinya. Ketika diperjalanan untuk menyelamatkan keluarganya, Clara bertemu dengan warga pribumi yang menjadi pelaku kerusuhan yang tengah terjadi. Mobil yang dikendarai oleh Clara dihentikan oleh warga pribumi tersebut. Pada keadaan itu lah Clara menjadi korban penganiayaan. Mereka menyiksa, memperkosa, dan merampas hartanya. Karangan cepen ini ditulis berdasarkan realitas masanya yang bisa disajikan sebagai fenomena sejarah.

 

Kesimpulan

      Setelah dilakukannya tinjauan langsung dan analisa yang mendalam, dapat ditarik beberapa buah kesimpulan yaitu :

  1. Nilai-nilai yang terkandung didalam Cerpen clara menarik kesimpulan nasionalisme non-pribumi.
  2. Cerpen Clara (atawa Wanita yang Diperkosa) berkaca pada Tragedi Mei 1998, merupakan salah satu tragedi berdarah, sebuah periwtiwa pembantaian terhadap masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa di Jakarta.
Iklan
By rangkiangbudaya Posted in admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s