Jejak sejarah dalam Foklor

  1. Folklore

Foklor berasal dari kata dasar folk dan lore. Folk artinya kata yang kolektif. Menurut dundes folk adalah sekelompok yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lain. Ciri pengenal dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, serta agama yang sama. Sedangkan lore adalah tradisi folk yaitu sebgaian kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun secara lisan.

Defnisi folklor adalah sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun, tradisional dalam versi yang berbeda. Kedudukan folklor dengan kebudayaan lainnya tentu saja berbeda, karena folklor memiliki karakteristik atau ciri tersendiri. Menurut pendapat Danandjaja (1997: 3), ciri-ciri pengenal utama pada folklor bisa dirumuskan sebagai berikut ; Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.Folklor ada (exis) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation). Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi. Folkor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. Dan selalu menggunakan kata-kata klise. Folklor mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.

Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai logika umum. Ciri pengenalan ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidakdiketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya. Folklor pada umumnya bersifar polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manisfestasinya.

Bentuk lelucon yang dilontarkan oleh para mahasiswa dalam bentuk kritikkan dalam surat kabar. Pada masa perang kemerdekaan adas eorang pejuan yang berada dalam keadaan sekarat karena luka yang berat. Pada waktu  itu ia sedang dirawat di rumah sakit dan yang merrawat beliau perawat muda.dik, tiba-tiba berkata dengan suara pelan. Dapatkah adikku medapatkan untukku selembar potret dwitunggal kita? “Tentu kak “ jawab sigadis tanpa ragu, karena ia tidak meu mengecewakan pemuda yang akan menuju ke rahmahtullah ini. Untuk membahagiakan pemuda ini perawat ini menyelundupkan foto kedua pemimpin negara kita pada mas sukar itu.  Foto tersebut ditempelkan dipaha perawat. Setelah itu perawat emmperlihatkannya kepada pemuda yang sekarat dan diperlihatkan kepada beliau. Pamuda itu berkata: terima kasih dik, telah membawakan foto pemimpin kita pejuang kita. Bukan saja membawakan foto dwitunggal yang saya minta tetapi juga jendral X. Setelah mengucapkan terima kasih sipemuda itu memejamkan  mata untuk selama-lamamnyaFolklore sering diidentikkan dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan folklorenya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklore. Folklore ialah kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat.

  1. Ciri-ciri folklore
    1. Folklore menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
    2. Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yakni dengan tutur kata atau gerak isyarat atau alat pembantu pengikat lainnya.
    3. Folklore bersifat anonim, artinya penciptanya tidak diketahui.
    4. Folklore hadir dalam versi-versi bahkan variasi-variasi yang berbeda.
      Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya secara lisan sehingga mudah mengalami perubahan.
    5. Folklore bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.
  2. Bentuk-bentuk folklore

1. Folklore lisan adalah folklore yang bentuknya murni secara lisan, yang
terdiri dari:

a)      Puisi rakyat, misalnya pantun. Contoh: wajik klethik gula Jawa
(isih cilik sing prasaja)

b)      Pertanyaan tradisional, seperti teka-teki. Contoh: Binatang apa yang
perut, kaki, dan ekornya semua di kepala? jawabnya: kutu kepala.

c)      Bahasa rakyat, seperti logat (Jawa, Banyumasan, Sunda, Bugis dan
sebagainya), julukan (si pesek, si botak, si gendut), dan gelar kebangsawanan
(raden masa, teuku, dan sebagainya) dan sebagainya.

d)     Ungkapan tradisional, seperti peribahasa/pepatah. Contoh: seperti telur di ujung tanduk (keadaan yang gawat), koyo monyet keno tulup (seperti kera kena sumpit) yakni untuk menggambarkan orang
yang bingung.

e)      Cerita prosa rakyat, misalnya mite, legenda, dan dongeng.

Folklore sebagian lisan adalah folklore yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti: kepercayaan rakyat/takhayul, permainan rakyat, tarian rakyat, adat istiadat, pesta rakyat dan sebagainya.

Folklore bukan lisan (non verbal folklore) adalah folklore yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Contoh: arsitektur rakyat (bentuk rumah Joglo, Limasan, Minangkabau, Toraja, dsb); kerajinan tangan, pakaian dan perhiasan dan sebagainya; di mana masing-masing daerah berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa folklore, mitologi,legenda, upacara, dan lagu dari berbagai daerah di Indonesia memiliki nilai sejarah. Semuanya itu memberikan sumbangan bagi penulisan sejarah daerah.Satu hal yang perlu dicermati bila hal itu dijadikan sumber dalam penulisan sejarah, maka perlu adanya kritik sumber sehingga nilai keilmiahan sejarah dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam hal ini dibutuhkan kecermatan dan ketajaman untuk menghasilkan interpretasi. Cerita Rakyat terdiri dari budaya, termasuk cerita, musik, tari, legenda, sejarah lisan, peribahasa, lelucon, kepercayaan populer, kebiasaan dan sebagainya dalam populasi tertentu yang terdiri dari tradisi (termasuk tradisi lisan) dari subkultur, budaya, atau kelompok. Itu juga merupakan seperangkat praktik di mana orang-genre ekspresif dibagi. Studi akademis dan biasanya etnografi cerita rakyat kadang-kadang disebut folkloristics. ‘Cerita rakyat’ Kata pertama kali digunakan oleh antik Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal Athenaeum pada tahun 1846. [1] Dalam penggunaan, ada sebuah kontinum antara cerita rakyat dan mitologi. Stith Thompson melakukan upaya besar untuk indeks motif dari kedua cerita rakyat dan mitologi, menyediakan garis ke motif baru yang dapat ditempatkan, dan sarjana dapat melacak semua motif yang lebih tua.

 Folklore dapat dibagi menjadi empat bidang studi: artefak (seperti boneka voodoo), describable dan entitas menular (tradisi lisan), budaya, dan perilaku (ritual). Daerah ini tidak berdiri sendiri, bagaimanapun, seperti yang sering item tertentu atau elemen dapat masuk ke lebih dari satu bidang ini.

 Artefak

Elemen seperti boneka, barang-barang dekoratif yang digunakan dalam ritual keagamaan, rumah tangan dibangun dan lumbung pangan, [3] dan buatan tangan pakaian dan kerajinan lainnya dianggap rakyat artefak, dikelompokkan dalam bidang sebagai “budaya material.” Selain itu, angka yang menggambarkan karakter dari cerita rakyat, seperti patung tiga monyet bijak mungkin dianggap sebagai artefak cerita rakyat, tergantung pada bagaimana mereka digunakan dalam budaya. Definisi operasi akan tergantung pada apakah artefak yang digunakan dan dihargai dalam komunitas yang sama di mana mereka dibuat.Listen

Tradisi lisan Folklore dapat berisi unsur agama atau mitos, itu juga kekhawatiran itu sendiri dengan tradisi kadang-kadang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Folklore sering hubungan yang praktis dan esoteris dalam satu paket narasi. Hal ini sering dicampurkan dengan mitologi, dan sebaliknya, karena telah diasumsikan bahwa setiap cerita kiasan yang tidak berhubungan dengan kepercayaan yang dominan pada waktu itu tidak dalam status yang sama seperti yang kepercayaan yang dominan. Dengan demikian, Roma agama disebut “mitos” oleh orang Kristen. Dengan cara itu, baik “mitos” dan “cerita rakyat” telah menjadi catch-semua persyaratan untuk semua narasi kiasan yang tidak sesuai dengan struktur kepercayaan yang dominan. Kadang-kadang “cerita rakyat” adalah agama di alam, seperti kisah-kisah Mabinogion Welsh atau yang ditemukan dalam puisi skaldic Islandia. “Cerita rakyat” adalah istilah umum untuk berbagai varietas naratif tradisional. Yang menceritakan kisah tampaknya menjadi budaya universal, umum bagi masyarakat dasar dan kompleks sama. Bahkan mengambil bentuk cerita rakyat tentu sama dari budaya ke budaya, dan studi banding tema dan cara-cara narasi telah berhasil menunjukkan hubungan ini. Juga dianggap sebagai cerita lisan untuk diberi tahu untuk semua orang.

Di sisi lain, cerita rakyat dapat digunakan untuk secara akurat menggambarkan narasi figuratif, yang tidak memiliki konten suci atau agama. Dalam pandangan Jung, yang merupakan tetapi salah satu metode analisis, mungkin bukan berkaitan dengan sadar psikologis, naluri pola atau arketipe pikiran. Hal ini mungkin atau mungkin tidak memiliki komponen fantastis (seperti sihir, makhluk halus atau personifikasi dari benda mati). Cerita rakyat ini mungkin atau mungkin tidak muncul dari tradisi agama, namun tetap berbicara dengan masalah psikologis yang mendalam.. Hal itu dipenuhi oleh review menyetujui dan secara signifikan dipengaruhi kemudian penelitian tentang cerita rakyat dan, lebih umum, semantik struktural. Meskipun karyanya didasarkan pada struktur sintagmatik, memberi ruang lingkup untuk memahami struktur cerita rakyat, dimana ia menemukan tiga puluh satu fungsiCultural. William Bascom cerita rakyat menyatakan bahwa cerita rakyat memiliki aspek budaya, seperti memungkinkan untuk melepaskan diri dari konsekuensi sosial. Selain itu, cerita rakyat juga dapat berfungsi untuk memvalidasi sebuah budaya (nasionalisme romantis), serta mengirimkan moral budaya dan nilai-nilai. Folklore dapat juga akar budaya banyak jenis musik. Negara, blues, dan bluegrass semua berasal dari cerita rakyat Amerika. Contoh seniman yang telah menggunakan tema folkloric dalam musik mereka akan: Bill Monroe, Flatt dan Scruggs, Old Crow Medicine Show, Jim Croce, dan banyak lainnya. Folklore juga dapat digunakan untuk menegaskan tekanan sosial, atau membebaskan mereka, misalnya dalam kasus humor dan karnaval Selain itu, studi folklorists sistem kepercayaan medis, supranatural, agama, dan politik sebagai bagian penting, seringkali tak terucap, budaya ekspresif.

 

 

Iklan
By rangkiangbudaya Posted in admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s