Posisi Kota Padang Sebagai Titik Perpindahan Jaringan Perdagangan Regional sampai tahun 1942

Aulia Rahman

LATAR BELAKANG

Secara geografis di Nusantara banyak terdapat pulau – pulau yang saling berdekatan, karena saling inilah berdekatan membentuk suatu jalur pelayaran dan perdagangan. Nusantara[1] yang kita kenal sekarang ini banyak versi dan perdebatan yang panjang mengenai wilayah apa saja yang disebut dengan Nusantara, Karena wilayah nusantara ini terdiri dengan lautan maka berkembanglah system pelayaran yang memakai jalur laut. Jalur pelayaran laut ini tidak terlepas dari perdagangan sehingga jalur pelayaran yang ada di Nusantara banyak digunakan untuk perdagangan terutama perdagangan rempah – rempah. Jalur laut ini sudah di pergunakan sejak Nusantara telah ada dan lebih spesifikasi lagi Indonesia.

Kepulauan Indonesia terletak tepat di titik pertemuan jalur komunikasi dunia antara Samudera Fasifik dan Samudera Hindia, serta antara benua Asia dan Benua Australia, yang menghubungkan negara- negara besar dan maju di barat dan di timur, di utara dan di selatan[2]

Selain jalur laut, jalur perdagangan di Nusantara juga memakai jalur sungai terutama di Sumatera dan Kalimantan. Jalur sungai yang ada di pulau – pulau besar Indonesia di pakai karena sungai itu cukup besar dan mempunyai arus yang tenang. Jalur yang melewati selat – selat yang saling berdekatan di perairan Asia Tenggara memungkinkan para pedagang melakukan transaksi perdagangan ketika berlabuh di kerajaan – kerajaan Nusantara yang memiliki pelabuhan laut[3]. Dengan keistimewaan kepulauan Indonesia ini mengakibatkan adanya angin Muson yang dipergunakan oleh para pedagang dari utara ke selatan atau pun sebaliknya untuk membawa barang dagangnya.

Sebagai daerah tropis Nusantara atau kepulauan Indonesia memiliki kekayaan alan yang sangat banyak terutama hasil alam yang salah satunya rempah – rempah. Rempah – rempah adalah tumbuhan yang berguna untuk masakan dapur, di Eropa rempah – rempah di pergunakan untuk menghangatkan tubuh dan bahan pengawet daging ketika terjadi musim dingin. Bahan yang termasuk rempah – rempah adalah pala, merica, lada, cabai, kulit manis dan lain – lain.

Rempah-rempah sudah dikenal bangsa Eropa jauh sebelum kedatangan para pedagang dari Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda pada sekitar abad ke-15-16 Masehi[4]. Mereka mengenal rempah – rempah dari perdagangan bangsa Turki maupun bangsa Asia lainnya di pelabuhan yang ada di Eropa. Rempah – rempah yang di kenal di Eropa banyak terdapat di Maluku yang diperdagangkan oleh pedagang India. Cengkeh dan pala adalah bahan rempah – rempah yang sangat laku di pasar Eropa. Kedua komoditi ini yang didapat di Nusantara dengan harga dengan setelah sampai di Eropa bias laku 25 kali lipat dari harga  di Nusantara[5]. Secara teoritis ini masuk akal karena factor cuaca, keselamatan dan harga komoditi rempah – rempah itu sendiri.

  1. 1.      RUMUSAN MASALAH

Membahas laut, rempah – rempah dan nasionalisme Indonesia sangat menarik. Berbagai pertanyan yang akan muncul dan perlu jawaban. Secara nyata laut dapat dianggap sebagai factor pemisah antara wilayah adrimistratif seperti provinsi dan pemisah antara satu pulau dengan yang lainnya. Jika dihubungkan dengan nasionalisme nasionalisme Indonesia ada karena adanya perasaan senasib dan bisa dikatakan tidak mungkin antara dua wilayah dipisahkan terjadi nasionalisme. Ini sangat menarik justru dengan adanya laut rasa nasionalisme Indonesia terjalin sangat kuat.

  1. 2.      TUJUAN
    1. Mengenalkan kepada generasi muda bahwa dengan adanya laut yang sangat luas di Indonesia tidak menjadi penghalang tumbuh, berkembang dan dipeliharanya rasa nasionalisme.
    2. Untuk mengetahui bagaiman proses terbentuknya rasa nasionalisme Indonesia melalui laut
    3. Untuk mengetahui seberapa potensial laut sebagai alat pemersatu bangsa

 PEMBAHASAN

a.      Perdaganan Rempah – Rempah Pra Kedatangan Bangsa Eropa di pulau Sumatera

Di pulau Sumatera ada kerajaan yang menguasai pelayaran dan perdagangan salah satunya kerajaan Minangkabau. Kerajaan Minangkabau yang berada dan menguasai perdagangan di pantai barat Sumatera

Pada awal abad ke 15 pantai barat  pulau Sumatera tidak ramai di pantai timur,  tapi pantai barat sumatera menjadi jalur pelayaran dan perdagangan rempah – rempah menjadi ramai ketika kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, sehingga banyak pedagang yang berada di pantai timur sumatera mencari jalur pelayaran dan perdagangan. Pantai barat Sumatera menjadi pilihan para pedagang . Ada beberapa factor kenapa pedagang pindah berdagang ke pantai barat Sumatera:

  1. Malaka yang sebelum kedatangan portugis aman tapi menjadi tempat yang mengerikan karena ada beberapa kerajaan yang menginginkan Malaka antara lain Portugis sendiri, kerajaan Johor dan kerajaan Aceh sehingga para pedagang yang berada di pelabuhan tersebut mencari tempat yang aman.
  2. Setelah perang salib terjadi permasalahan baru antara orang Muslim dan orang Kristen sehingga orang Muslim.
  3. Kedatangan bangsa portugis dengan semangat untuk menghancurkan Islam , menyebabkan para pedagang Muslim menghindari rute Malaka dan menyusuri pantai barat sumatera.[6]

Pada awal abad ke – 17 pantai barat pulau Sumatera di kuasai oleh kerajaan Aceh dan menempatkan wakil – wakil mereka di pantai barat Sumatera dua komoditi yang diperdagangkan yaitu emas dan lada. Ini menjadikan pantai barat pulau Sumatera menjadi jalur perdagangan tempat yang menjadi pusat perdagangan antara lain Singkel, Barus, Tiku, Pariaman, Padang dan beberapa tempat lain yang menjadi kota pantai, karena tempat ini menjadi jalur pelayaran dan perdagangan maka berdatangan juga para pedagang terutama dari India, Arab, dan Eropa terutama Belanda dan Inggris. Jalur perniagaan melalui laut yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina kemudian Selat Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam (Syuria) sampai ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah[7].

b.      Pantai Barat Sumatera Dalam Setelah Kedatangan Bangsa Eropa

Setelah mendapat izin dari penguasa setempat di pantai barat Sumatera dalam hal ini penguasa Tiku dan Kerajaan Aceh maka para pedagang dari Eropa mulai menjalin hubungan dagang baik  kalangan pribumi maupun sesama pedagang timur Asing lainnya. Pada abad ke – 17  ini pedagang yang intens perdagangan di pantai barat Sumatera adalah Belanda (VOC) dan Inggris (EIC) yang paling banyak di cari di pantai dagang adalah lada sehingga Inggris dapat membeli beberapa karung lada dari penguasa setempat.

Ketatnya persaingan dari kedua bangsa Eropa ini menyebabkan Inggris tersingkir dan menjadikan India sebagai pusat  kegiatan dari EIC. Setelah kepergian Inggris, Belanda menjadi satu – satunya  bangsa Eropa yang berdagang di pantai barat pulau Sumatera, untuk menjalankan perdagangan di pantai barat Sumatera, Belanda meresmikan kantor dagang VOC yang kala itu menjadi perusahaan perdagangan Belanda di wilayah Nusantara. Kantor dagang yang di bangun Belanda salah satunya terdapat di kota Padang yang menjadi kantor dagang yang terbesar di Sumatera.

c.       Pantai Barat Sumatera Dan VOC

Vereenigde Oost indische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC yang didirikan pada tanggal 20 maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki memonopoli untuk aktivitas perdagangan di Asi. Disebut Hindia Timur karena ada pula VOC yang merupakan perserikatan dagang Hindia Belanda. Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan pertama yang mengeluarkan pembagian saham. Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misanya Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat  Selat Magelheaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri, Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara untuk memelihara angkatan perang, memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian, merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda, memerintah daerah-daerah tersebut, menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan memungut pajak. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.

Loji atau kantor dagang menjadi bagian penting dalam menjalankan perdagangan dan kekuasaan di Indonesia termasuk pantai barat Suamtera. Loji atau Kantor dagang (dikenak dengan factory atau facrorij) yang berarti tempat tinggal, kantor atau gudang bisa juga berarti benteng( kubu pertahanan). Loji pertama yang di bangun berlokasi di Muara Batang Arau, loji yang ada di Muara Batang Arau lebih mencirikan benteng pertahanan.

Setelah VOC mengambil alih jalur pelayaran dan perdagangan, VOC menerapkan system monopoli. Lada yang menjadi komoditi penting selalu diawasi pengiriman, loji atau kantor dagang VOC yang berada di Padang menjadi tempat penyimpangn sebelum di kirim ke Eropa.  Ada beberapa Bandar niaga yang sangat penting di pantai barat Sumatera antara lain Tiku, Pariaman, Padang (Koto Tangah), Indera pura. Setelah “Perdamaian Abadi” yang di tawarkan Aceh kepada Batavia, VOC menanggapi  denganemberikan seorang Opperkoomen.

Seperti yang telah disinggung di atas VOC menjalankan perannya sebagai pionir dan  kongsi dagang bangsa Belanda di Nusantara. Ketegangan dan konfik kerajaan – kerajaan kecil di pulau Sumatera membuat VOC leleuasa ikut campur dalam urusan kerajaan tersebut. dengan alasan ingin menolong kerajaan dan dibuat semacam kontrak yang salah satu isinya agar VOC di izinkan memonopoli perdagangan di wilayah kerajaan yang dibantu, sampai – sampai VOC dikenal dengan doyan kontrak. VOC yang di kenal doyan kontrak menandatangani kontrak salah satunya dengan Painan yang terkenal dengan Perjanjian Painan ( Painansch Traktaat)[8] yang berisikan Pertama, memberikan kebebasan kepada VOC untuk bergadang tanpa dikenakan pajak di kawasan Air Haji dan Tarusan; Kedua, VOC diizinkan mendirikan “rumah” tempat kediaman pejabat dan pusat kegiatannya di Salido. Tahun 1663 dan VOC mendirikan kantor dagang di Pulau Cingkuak[9]. Ada 3 sifat VOC untuk berdagang di Nusantara

  1. Ketika lemah, ketika VOC lemah mereka hanya meminta kepada penguasa setempat untuk diizikan berdagang.
  2. Ketika mulai kuat, VOC ketika mulai kuat mereka mulai ikut campur dalam urusan kerajaan setempat, mulai menawarkan kontrak, adu domba dan hal lain yang memungkinkan mereka untuk memonopoli perdagangan.
  3. Ketika VOC sudah mulai kuat maka mereka tidak segan – segan mengatur urusan kerajaan setempat, berbuat seenaknya, bahkan menyerang kerajaan tersebut untuk mendapatkan wilayah.
  4. d.      Pantai Barat Sumatera Di Dimasa Hindia Belanda

Sesuai penjanjian London tahun 13 Agustus 1814, Inggris mengembalikan Indonesia(sebagian Nusantara) ke Belanda dan pertukarannya Inggris mendapatkan Pulau Tumasik( Singapura). Pada tanggal 22 Mei 1819 merupakan tanggal resmi penyerahan maka sejak itu Indonesia di bawah pemerintahan Belanda. Jaringan perdagangan yang di pergunakan Belanda ada 4 macam[10] :

–          Perdagangan antar daerah pantai dengan pedalaman

Perdagangan ini terjadi leih dari dua daerah yang terlibat daalam pergadangan ini bahkan lebih dari dua daerah. Jaringan ini terbentuk oleh ikatan ekonomi, social, territorial, dan budaya yang mengikat daerah guna melakukan perdagangan. Ada lima jaringan perdagangan pantai barat Sumatera di bagian selatan : Rute antara Air bangis dengan Rao; Rute Tiku dengan Agam; Rute Pariaman dengan Tanah Datar; Rute Padang dengan Tanah Datar dan Solok; Rute Bandar X dengan Solok Selatan. Ada tiga jaringan perdagangan di derah pantai barat pulau sumatera bagian  utara : Rute kawaasan Singkel dan Barus dengan Pak – pak; Rute Sibolga dengan  Angkola; Rute Natal dengan pedalaman Mandailing.

Pada pereode 1847 – 1906 rempah – remaph menjadi komiditas pendukung dari perdagangan dareah pantai dengan pedalaman.

–                Perdagangan antar daerah kota pantai

Ada beberapa kota pantai yang penting yang menjadi jaringan perdagangan. kota pantai yang menjadi pusat perdagangan di bagi pula menjadi 3 bagian. Bagian selatan  antara lain Kota padang, Pariaman, Tiku, dan Air Bangis. Bagian utara antara lain Natal, Tapanuli(Sibolga), Barus, dan Singkel. Bagian selatan kota Padang antara lain Bantar X sampai ke Indrapura.

Ada 2 pembagian kelompok :

  1. Kelompok pedagang yang mewakili raja atau penguasa Singkel dan Barus
  2. Kelompok pedagang bebas atau non raja yang berasal dari suku Aceh dan Melayu

–                Perdagangan daerah pantai dengan  pulau – pulau lepas pantai

Perdagangan  yang dimaksud Kepulauan Banyak, Pulau Nias, Pulau Telo, Pulau Batu, Pulau Sipora, Pulau Siberut, Pagai Utara Dan Pagai Selatan

–                Perdagangan daerah pantai dengan luar negri

Ada pengelompokan negeri jaringan perdaganan luar negeri yaitu kepulauan Indonesia yang terdiri dari Aceh, Jawa, Sulawesi, Maluku, Pulau Penang dan Singapura; India antara lain Benggala, Pantai Koromandel, Dan Malabar; Eropa dan Amerika antara lain Nergi Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika.

Ada bentuk perdagangan yang dikembangkan pertama; Negeri – negeri yang berhubungan langsung dengan kawasan pantai barat, dan kedua; luar negri dengan kota perantara

Lebih keselatan pulau Sumatera ini mengapa tidak berkembang? Karena kala itu Bengkulu menjadi pusat perdagana Inggris sehingga konsenterasi belanda berada di Kota Padang. Padang yang waktu itu menjadi pusat perdagangan di pantai barat Sumatera dan pusat pemerintahan Hindia Belanda di pulau sumatera. Umumnya daerah pelabuhan dan pantai taang berasa di sumatera menjadi tempat transit sementara menuju pelabuhan yang yang berada di pulau jawa[11] dan menarik disini adalah pada pereode awal jalur pantai barat sumatera ini menjadi jalur altenatif.

.Kota Padang Merupakan salah satu kota Penting dalam perdagangan pantai barat sumatera. Kota Padang yang menjadi tempat penting oleh Belanda untuk menjalankan roda pemrintahannya di bagian tengan Sumtera. Sejak dipindaahkannya pusat perdagangan dari pulau cingkuk yang terletak di selatan Kota Padang ke pelabuhan teluk bayur maka kota padang menjadi bagian terpenting dari segi perkembangan jaringan perdaganan. Laporan dan peta yang dibuat oleh Residen J. Van Heemrskerk untuk menjelsakan alas an menyerahnya Inggris Pada tahun 1781, memungkunkan menyusun kota padang waktu itu. Ada tiga tempat utama yaitu benteng VOC, pasar, dan masjid yang semua itu terletak di tepi sungai batang harau.[12] Batang Harau yang menjadi cikal bakal kta Padang, yang sekarang sering disebut sebagai kota tua. Di kawasan batang harau inilah kota padang mula di bangun oleh Belanda. Pembanguna tata ruang seperti diibaratkan Sprial. Lingkaran pertama itu merupakan kawasan Eroa terlebih orang Belanda. Lingkaran kedua merupakan kawasan timur asin terutama orang Tionghoa kemudia lingkaran ketiga adalah kawsan bangsawan padang dan setelah itu lingkaran keempat dan selanjtnya merupakan kawasan untuk pribumi. System lingkaran ini di Buat oleh belanda Bertujuan untuk memisahkan antra pribumi, bansawan dan orang eropa seniri guna melancarkan politik odu domba dan memudahkan belanda untuk mengontrol masyarakat.

Hubungan kota padang dengan kota Sawalunto masa Hindia Belanda

Pada tahun 1891, sungai durian menjadi titik tolak dimulai pertambangan batubara di Kota Sawahlunto. Kemudian berkembang ke daerah Sawah Rasau, Waringin dan lembah Soegar. Batubara merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak didapat diperbaharui sehingga pertambangan batubara Kota Sawahlunto habis karena ekspoitasi besar –besaran batubara akan habis. Ada ahli Belanda mengatakan bahwa suatu saat Kota Sawahlunto akan menjadi Kota mati jika bergantung pada pertambangan batubara. Ada tiga pilar penting yang menyangkut pertambangan di Sawahlunto : 1. Kota Sawahlunto; 2. Pelabuhan Teluk Bayur; 3. Pertambangan Batubara

Keunikan Kota Sawahlunto

Kota Sawahlunto merupakan salah satu Kota desa dalam konsep sejarah perKotaan. Secara konsep Kota Sawahlunto tergolong desa yang penduduknya tidak mencukupi untuk dijadikan sebuah Kota tapi dari sisi lain Kota sawahluntu memiliki multi kultural etnis. Antara lain Minang, Batak, Jawa, Sunda, Bugis dan Ambon yang berasal dari para kuli kontrak didatangkan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Agama yang juga beragam Islam dan Kristen. Ada beberapa keunikan Kota Sawahlunto : 1. Multi kultural etnis dan agama sehingga mereka sangat menghargai perbedaan. Sebagi daerah yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda Kota Sawahlunto memiliki kebergaman etnis. Keunikan multi kultural ini dibentuk ketika pertambangan batubara dibuka.Belanda mendatangkan para pekerja tambang dari berbagai daerah bentuk dari pelaksanaan politik etis dan keperluan tambang. Akan tetapi para pekerja tambang yang didatangkan kebanyakan disebut orang rantai, yaitu mereka yang dicap sebagai orang yang membuat “keonaran”. Orang – orang yang dikampung halaman mereka sangat gigih menentang Belanda tetapi dihukum dan dipropagandakan oleh Belanda sebagai orang yang suka merampok, membunuh, menculik sehingga masyarakat takut kalau orang rantai ini keluar dari lubang. Rantai ini saling terikat satu sama lain. Berai bola rantai mulai dari 5 sampai dengan 10 kg per orang sehingga kecil kemungkinan untuk lari karena beban yang di bawa oleh orang rantai. Sebenarnya multikultural etnis ini pada awal keberadaan etnis di Kota Sawahlunto terjadi perbenturan. Dari beberapa sumber mengatakan sering terjadi di lubang pengalian batubara dan di dapur umun atau gudang ransoem. Perkelahian yang sering terjadi pada orang Bugis dan orang Batak karena karakter mereka yang sama – sama keras.perkelahian ini dipicu oleh proses pembagian dan perampasan makanan antara pada pekerja dengan petugas dapur umum, bagi Belanda petentangan ini dipelihara untuk mengamankan kekeuasaan mereka di Sawahlunto dan tidak ada terjai persatuan yang akan menentang Belanda; 2. Mempunyai bahasa kreol  atau bahasa tansi. Tansi disini bukanlah penjara akan tetapi tansi disini adalah blok – blok perumahan buruh kontrak, akan tetapi pada hakikatnya sama dengan penjara yang bergaul dengan orang – orang sekitar blok perumahan. Bahasa tnsi ini menjadi keunikan tersendiri bagi masyarakat Kota Sawahlunto. Sekarang ini bahaa tansi telah dipakat masyarakat Sawahlunto; 3. Konsep tungga sakapal yaitu mereka yang merasakan hidup yang sama selama perjalanan dikapal sampai ke Kota Sawahlunto. Mereka yang tungga sekapal sudah menjadi saudara walaupun tidak ada pertalian darah, tidak boleh menikan sesama tingga sekapal. Hidup senasip dan sepenanggungan selama perjalanan di kapal dari tempat asal mereka sampai ke Sawahlunto menbuat ikatan kekeluargaan tersendiri bagi orang yang berasal dari kapal yang sama. Mereka menganggap diri sebagai saudara. Ikatan ini sampai sekarang terjalin dengan utuh walaupun telah berada di wilayah luar Sawahlunto.

Begitulah ikatan ini terbentuk. Ikatan ini memberikan pengaruh yang sangat kuat dengan perkembangan dari kota Sawalunto. Semoga keunikan ini yang telah terjalin ini memberikan pengaruh untuk keberagaman Indonesia.

Kota Padang Sebagai Interaksi budaya

Saudagar yang berdagang di kepulauan Nusantara sangat beragam mulai dari bangsa Eropa sendiri antara lain Perusahaan Pemerintah Belanda NHM ( Nederlands Handel Maastchapapij) Tujuan dari NHM ini asalah untuk meningkatkan perdagangan, perlayaran, indrustri, perkapalan, perikanan, dan pertanian, jalan, membangun jembatan, pelabuhan guna memberikan keuntungan yang besar bagi Negara Belanda dan daerah Jajahan termasuk Indonesia. Perusahaan perdagangan Inggris EIC, bahkan pada masa perang Padri telah terjadi telah kontak dagang masyarakat Minangkabau dengan Amerika Serikat Saudagar Eropa selain Belanda Ada banyak saudagar Inggris yang berdagang di pantai barat Sumtera, ada juga saudagar Jerman, Itali, Prarcis. Bentuk usaha yang penting selain perdagangan rempah – rempah antara lain kepemilikan rumah dagang(handelhiuzen). Toko, perkapalan dan dunia pers (Amran :1986 ). Saudagar Timur Asing sudah ada sebelum kedatangan bangsa Eropa. India, Cina dan Arab adalah pedagang timur yang aktif berdagang di pantai barat Sumatera. Di banding Arab maupun India saudagar Cina lebih besar jumlahnya sehingga mereka hampir ada di setiap kota pantai. Kelompok masyarakat Arab dan India lebih cendrung menjadi pedagang perantara tidak seperti Cina mereka memiliki took bahkan kongsi Cina Padang memeliki pasar dengan nama pasar tanah kongsi( Rusli Amran 1986). Saudagar Pribumi yang aktif berdagang antara lain Aceh, Batak, Jawa, Maluku, Melayu (Minangkabau), Suku yang ada di Nusa Tenggra, Bugis dan Makasar yang paling aktif adalah saudagar yang Minangkabau dan Batak.

Proser perdagangan ini memberikan pengaruh terhadap kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Dalam unsur kebudayaan mata pencarian adalah salah satu unsur kebudayaan. Mata pencarian memberikan pengaruh yang kuat dalam perkembangan budaya. Ini sangat terlihat dalam perdagangan rempah – rempah.

Kita lihat saja dari perkembangan agama Islam yang ada di Minangkabau banyak dipengaruhi oleh para Pedagang Islam  Aceh. Semasa perdagangan yang berkembang di pantai barat Sumatera, di Aceh tengah berkembang kerajaan Islam salah satunya yang mencapai kejayaannya adalah kerajaan Aceh dibawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda.

Adopsi kebudayaan asing yang masuk ke Minangkabau banyak diadopsi oleh masyarakat pesisir pantai. Dalam pembahasan ini masyarakat pesisir pantai barat Sumatera. Seni rabab  yang berada di kab. Pesisir Selatan merupakan adopsi dari kebudayaan Eropa.  Interaksi budaya tidak hanya terjadi antara pedagang Asing dan pribumi, tetapi antara pedagang pribumi juga terjadi antara pedagang Minangkabau dengan pedagang Aceh, Batak dan suku melayu lainnya. Interkasi ini memunculkan keberagaman dalam kebudayaan lokal dan Nasional. Yang paling menonjol dari interaksi budaya lokal dengan budaya asing khususnya kebudayaan Eropa terutama setelah Belanda berhasil menaklukkan Minangkabau dengan Perang Padri adalah pemakaian gelar lareh  kepada penghulu yang ditunjuk oleh Belanda.

Selain perdagangan rempah – rempah, keterbukaan masyarakat pesisr terhadap pengaruh dan kebudayaan yang masuk lebih toleransi dibanding daerah darek, yang merupakan daerah asal masyarakat pesisir yang sering disebut daerah rantau. Kunci keterbukaan inilah menjadikan perdagangan rempah – rempah pintu utama terjadinya interaksi kebudayaan. Kebudayaan yang ada berinteraksi menjadi satu di kota pelabuhan. Para pedagang membawa kebudayaan mereka sendiri. Ketika kita melakukan perjalanan ke daerah yang dulu menjadi kota pelabuhan ditemukan kampung Cina, kampung Nias, kampung Keling dan kampung – kampung lainnya yang bersifat etnisitas. Ini merupakan bentuk keterbukaan dari proses perdagangan khususnya perdagangan rempah – rempah yang terjadi dimasa lalu. Dan perkembangan pemukiman pedagangan di pesisir pantai sebagai pintu masuk perdagangan.

Rempah – Rempah Pantai Barat Sumatera

  1. Lada merupakan komoditas penting di pantai barat Sumatera. Air Bangis dan Inderapura adalah penghasil lada, bahkan daerah Inderapura pemasok terbesat pada abad ke – 18.
  2. Kasia atau yang lebih di kenal Kulit manis. Kulit masis ini tumbuh secara spontan di Agam dan Tanah Datar tapi karena bernlai ekonomis maka dibudidayakan. Proses dari menamam, perawatan, panen tidaklah begitu rumit, yang dimabil adalah kulitnya serta kayu juga bernilai ekonomis.

Kesimpulan

Dengan terbentuknya jalur perdagangan yang sagat komplek mulai dari kota perdaganangan , interaksi pedangan dan persamaan nasib sebagai pedangan ini mulai terbangun kesadaran bersama sehingga saya bias mamstikan titik tolak nasionalisme sudah mulai tumbuh dari jalur – jalur perdagangan.

Ada beberapa hal yang diperhatian kenapa titik tolak nasionalisme di pantai barat Sumatra telah tumbuh

  1. Perasaan satu nasib yaitu paling minimal perasaan sesame pedagang
  2. Multi etnis yang berdagang sehingga saling menghargai perbedaaan
  3. Ramainya kota pelabuhan pantai barat sumatera setelah Malaka jatuh dan kebanyakan para pedagan yang berdagan di pantai barai sumatera bersal dari orang muslim


DAFTAR PUSTAKA


[1] Nusantara terkadang penulis menyebutkan kepulauan Indonesia Nusa artinya Pulau dan Antara tetap antara. Sehingga Kepulauan Indonesia yang lebih disbut nusantra karena Indonesia salah satu bangsa yang memeiliki kepulauan terbanyak di dunia.

[2] Wahyono S.K, Indonesia Negara Maritim: Jakarta, teraju, 2009 hal 2

[3] Djoko Pramono, Budaya Bahari, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005

[4] Bambang Budi Utomo Kerani Rendahan Pada Puslitbang Arkeologi Nasional, 3204_1058- Indoyunani1.Pdf

[5] Bernand H. M. Vlekke, Nusantara Sejarh Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Popule Gramedia, 2008 Lihat Hal. 1

[6] opcit . Gusti asnan. Dunia maritim Pantai Barat Sumatera ,Jokjakarta. 2007 hal 55 (untuk lebih jelas lihat buku SCrieke 1955: 42 dan Micsic 1985: 12)

[7] Nusantara s.d. Awal Abad ke-19: Unit Khusus Museum Bank Indonesia: Sejarah Pra Bank Indonesia pdf  – Adobe Reader

[8]  Rusli Amran, Sumatra Barat Sampai  Plakat Panjang, Jakarta : Sinar Harapan, 1981

[9]  M.D Mansoer dkk, Sedjarah Minagkabau, Djakrta, Bhatara, 1970 hal 94

[10]  Gusti Asnan, Dunia maritim Pantai Barat Sumatera , Yogyakarta. 2007

[11] Djoko Pramono, Budaya Bahari, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005

[12] Freek Colombijn, Paco paco kota padang,: sejarah sebuah bkota pada abad ke 20 dan pengunaan ruang kota, omnak, yokykarta:2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s