Rangkiang dalam Makna

Aulia Rahman

Rangkiang atau nama lainnya lumbung adalah sebuah rumah kecil di sebelah rumah gadang yang dipergunakan untuk menyimpan padi untuk persiapan – persiapan yang hanya ada di Minangkabau. Keberadaan rangkiang di Minangkabau sangat memiliki multifungsi. Rangkang yang berjejeran di halaman rumah gadang menjadi ikon atau simbol kejayaan suatu kaum.

Secara fungsional rangkiang dirancang untuk menangulangi kaum atau orang yang mempunyai rumah gadang dari paceklik, atau memenuhi kebutuhan dikala terdesak umpanya untuk keperluan upacara adat, melewakan gala dan untuk persiapan atau cadangan dalam keadaan mendesak, serta untuk keperluan panghulu ketika menjalankan tugas sehari – harinya sebagai penghulu dan upacara adat lainnya yang di anggap penting. menurut A. Navis dalam bukunya “Alam Terkembang Jadi Guru” ada empat jenis rangkiang yaitu : (1) Sitinjau Lauik, yaitu tempat penyimpan padi yang akan digunakan untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibikin sendiri. Tipenya lebih langsing dari yang lain, berdiri diatas empat tiang. Letaknya ditengah diantara rangkiang yang lain. (2) Si bayau-bayau, yaitu tempat menyimpan padi yang akan digunakan untuk makan sehari-hari. Tipenya gemuk dan berdiri diatas empat tiangnya. Letaknya disebelah kanan.(3) Si tangguang lapa, tempat menyimpan padi cadangan yang akan digunakan pada musim paceklik. Tipenya persegi dan berdiri diatas empat tiangnya. (4) Rangkiang kaciak, yaitu tempat menyimpan padi abuan yang akan digunakan untuk benih dan biaya mengerjakan sawah pada musim berikutnya. Atapnya tidak bergonjong dan bangunannya lebih kecil dan rendah adakalanya berukuran bundar.

Pada masa lalu rangkiang menjadi bagian vital dalan mempertahankan kelangsungan kehidupan anak kemenakan. Keberadaannya dijadikan sebagai indikator kekayaan seseorang semakin banyak sebuah kaum memiliki rangkiang maka kedudukan mereka dalam masyarakat semakin tinggi. muncul sebuah pertanyaan manakala membaca ulasan mengenai rangkiang. Mengapa rangkiang hanya sebagai tempat menyimpan padi tidak hasil bumi lainnya?

Pembagian wilayah di ranah Miangkabau ada dua yaitu darek dan rantau. Daerah ini di sebut darek (darat dalam bahasa Indonesia) atau daerah pedalaman, daerah kebalikan dari darek, yakni rantau adalah daerah luar dari darek atau daerah perbatasan. Mata pencarian daerah tersebut juga berbeda, daerah darek dominan sebagai petani. Padi sebagai hasil panen utama menjadi makanan pokok. Selain itu, musim panen padi juga sedikit lambat dari tanaman lai seperti jagung atau umbian maka padilah yang dijadikan cadangan. Namun secara hakikatnya tentu tidak dapat dilihat secara kasat mata. Ada makna yang ditingggalkan oleh nenek moyang. Salah satunya berhemat

Rangkiang menjadi hal yang penting dalam pelbagai kehidupan masyarakat Minangkabau. Di Minangkbau harta pusaka merupakn milik dari ambun puruak (bundo kanduang). Kepemilikan ini bukan individu akan tetapi milik kaum namun dalam istilah sekarang, bundo kandung sebagai manejer yang mengatur pengeluaran padi di dalam rangkiang.

Rangkiang dijadikan manajemen keuangan yang kuat. Rangkiang menjadikan masyarakat Minangkabau yang siap akan setiap musim yang akan terjadi.  Kondisi alam yang tidak menentu maka manajemen yang kuat akan pentingnya pertahanan hidup. Rangkiang menjadikan manyarakat pentingnya berhemat. Umumnya rangkiang ada di daerah pergunungan karena mereka bergantung pada hasil alam. Alam tidak akan selalu memberikan makanan bagi mereka. hal inilah menjadikan rangkiang sebagai tempat cadangan.

Rangkiang mungkin untuk zaman sekarang sudah sangat langka untuk ditemui. Sekurang-kurangnya setiap rumah gadang menpunyai satu atau dua rangkiang di halaman. tetapi menyedih banyak rumah gadang yang tidak lagi mempunyai rangkiang. Pemandangan semacam ini seakan – akan masyarakat Minangkabau tidak lagi dapat berhemat. Melihat sepintas lalu, rangkiang tidak berguna lagi  dizaman yang serba modern ini karena fungsinya sebagai lumbung telah tergantikan oleh bank sehingga sebagai penghias dan pelengkap halaman rumah gadang. Akan tetapi kearifan dan fungsinya sebagai lumbung dan cadangan tidak akan hilang digerus zaman. Keberadaannya penting ditengah masyarakat.

Susunan rangkiang yang berjejeran di halaman rumah gadang menunjukan betapa pentingnya rangkiang dalam struktur social masyarakat Minangkabau. Keariafan local yang mulai hilang bahkan hampir punah. Cara pandang yang mengajarkan masyarakat untuk berhemat. Menuntuk manusia Minangkabau untuk selalu siap siaga dalam kondisi apapun. Hal ini sangat bermanfaat di negeri yang hampir selalu di rundung bencana, diperlukan kesiapan.

Fungsi rangkiang dalam artian masa lalu selalu diidentik dengan lumbung padi. Akan tetapi fungsinya sekarang bukan lagi dalam artian masa lalu dan perlu di up date sesuai dengan kondisi zaman. rangkiang melahirkan pemahaman untuk selalu berhemat. Rangkiang dapat juga diartikan sebuah keadaan yang menuntut manusia selalu mempunyai cadangan. Hal ini akan tercermin dalam pepatah Minangkabau “ ado jan dimakan, ndak ado baru dimakan”, sebuah pengertian yang komplit yang terkandung dalam filosofi rangkiang.

Jadi rangkiang tidak hanya sebagai lumbung padi akan tetapi rangkiang mengajarkan cara berfikir yang lebih maju, mengajarkan kesiapan untuk menghadapi keadaan terburuk. Sehingga kita perlu belajar filosofi yang terkandung dalam bangunan rangkiang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s