“Gerakan Mahasiswa Telah Membawa Perubahan di Indonesia. Studi Kasus: Gerakan Mahasiswa Mei 1998”,

Andre Vetronius

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Social Movement adalah gerakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam jumlah besar untuk melakukan suatu perubahan ataupun menentang perubahan.     Di Indonesia, banyak terjadi sosial movement terutama pada masa orde baru yang mana mahasiswa menjadi pemeran utamanya.

Pada masa Orde Baru, mahasiswa merupakan komponen masyarakat yang intelektual,  jeli politik dan sinisme terhadap pemerintahan rezim Soeharto. Hal ini dikarenakan korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela di panggung politik yang otoritatif, yang mana bangku-bangku politik hanya dapat diduduki oleh keluarga pejabat, mengakarnya budaya patronase, kemudian kemenangan Golkar karena PNS sebagai pilar utama, menumpuknya hutang luar negeri, tidak adanya kebebasan berpendapatan apalagi mengkritisi pemerintah, dan dwifungsi ABRI. Sebelum kejadian Mei 1998, mahasiswa telah banyak melakukan gerakan untuk menentang pemerintahan presiden kala itu, sehingga menimbulkan pristiwa yang kita kenal sekarang dengan Malari, yaitu gerakan mahasiwa untuk menolak investasi asing. Kemudian gerakan mahasiswa menolak proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Protes tersebut berujung pada penculikan beberapa ketua organisasi mahasiswa. Kemudian pada tahun 1978 adanya pendudukan kampus ITB oleh ABRI, dan masih banyak lagi. Hal tersebut menyebabkan banyak mahasiswa yang bersembunyi karena takut ditangkap oleh antek-antek Soeharto setelah melakukan aksi demonstrasi ataupun protes terhadap pemerintahan.

Keberhasilan social movement membawa keruntuhan rezim Soeharto pada kala itu, dimana presiden sebagai satu-satunya penguasa di Indonesia dan keberhasilan ini tentu tidak lepas dari gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa. Karena seperti yang kita ketahui, saat itu mahasiswa aktif melakukan demo-demo dan berhasil membentuk opini publik, sehingga sebagian masyarakat berpihak pada mereka untuk turut menciptakan reformasi. Namun, dimana adanya  gerakan menuju perubahan biasanya ada musuh yang menghadang. Koloni-koloni Soeharto telah banyak melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia pada kala itu  demi mempertahankan kedudukan mereka dan ABRI pasang senjata bagi siapa saja yang berani menentang. Penculikan dan pembunuhan pun tidak segan-segan mereka lakukan.

Gerakan mahasiswa pada Mei 1998, merupakan masa paling bersejarah bagi seluruh mahasiwa di Indonesia, dimana mereka dengan intelektualitasnya mempertaruhkan nyawa demi membawa perubahan bagi bangsa, sehingga kini tertoreh dalam sejarah reformasi Indonesia dan sudah sepatutnya dikenang dan dihargai. Bukan hanya mahasiswa di Sumatera Barat, namun mahasiwa di Jakarta, Bandung, Lampung, Bogor, dan kota-kota besar lainnya turut ambil bagian. Aktivis mahasiswa kampus UI, ITB, Atma Jaya, IPB, Unpad, dan masih banyak lagi tidak tinggal diam. Seperti yang sering kita dengar tentang pengorbanan yang dilakukan mereka dalam Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan Tragedi Semanggi II, Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, dan Tragedi Lampung.

Meskipun pada masa orde baru semua masyarakat biasa termasuk mahasiswa yang dianggap membahayakan kedudukan presiden sangat dibatasi ruang politiknya. Namun kenyataannya gerakan yang dilakukan mahasiswa untuk membawa Indonesia ke era reformasi tidak main-main, terbukti dengan berhasilnya mereka menciptakan iklim demokrasi di negara ini dengan ruang gerak politik seluas-luasnya, sehingga masyarakat Indonesia pun perlahan menjadi civil society, yaitu masyarakat yang mandiri dan turut ambil bagian dalam pembuatan kebijakan pemerintah, sesuai moto dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Meski demikian, memang bukan hanya mahasiswa yang berjasa dalam pendobrakan pintu otoriter karena mereka banyak didukung oleh kaum-kaum intelek dan masyarakat lainnya yang turut berjuang untuk menggulingkan rezim Soeharto. Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan lebih rinci lagi mengenai gerakan yang dilakukan mahasiswa pada Mei 1998 yang telah berhasil membawa Indonesia menjadi negara demokrasi.

1.2  Relevansi Kasus Secara Sosiologis

Gerakan sosial merupakan salah satu meteri yang dikaji dalam Sosiologi Politik. Secara garis besar Social Movement adalah gerakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam jumlah besar untuk melakukan suatu perubahan ataupun menentang kebijakan. Seperti yang dikatan R.R Maran bahwa suatu gerakan sosial adalah suatu upaya yang kurang lebih keras dan terorganisir di kalangan orang-orang yang relatif besar jumlahnya, entah untuk menimbulkan perubahan ataupun  untuk menentang perubahan.[1]

Gerakan sosial banyak jenisnya, dapat dibedakan bedasarkan idiologi dan tujuan mereka. Secara umum, ada empat jenis gerakan sosial yaitu gerakan revolusioner, gerakan revormasi, gerakan perlawanan, dan gerakan ekspresif. Gerakan revolusioner merupakan gerakan yang bermaksud untuk mengubah masyarakat dengan menentang nilai-nilai fundamental, gerakan revormasi adalah gerakan yang berusaha untuk memodifikasi kerangka kerja dari skema nilai yang ada, kemudian gerakan perlawanan adalah gerakan yang bertujuan untuk memblokir perubahan atau mengeliminasikan perubahan yang sudah dilembagakan sebelumnya, dan yang terakhir adalah gerakan ekspresif, yaitu gerakan yang tidak fokus pada perubahan institusional tetapi gerakan ini berusaha memperbaiki orang-orang dari dalam, contoh gerakan ini adalah Ratu Adil.[2]Yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 adalah gerakan reformasi, dimana yang ditentang bukan lah nilai-nilai fundamental yang ada, justru gerakan ini ingin merebut kembali nilai-nilai fundamental Indonesia sesuai dengan cita-cita kemerdekaan pada tahun 1945 dimana tidak sesuai dengan apa yang dijalankan pada masa orde baru. Yang diinginkan oleh komponen masyarakat saat itu hanyalah perubahan sistem politik Indonesia yang tidak menjunjung tinggi nilai demokrasi dan harus ditandai runtuhnya tokoh otoriter yang berkuasa. Terbukti saat gerakan reformasi tersebut berhasil, yang dilakukan adalah merevitalisasi kembali pancasila, perubahan sistem sentralisasi menjadi desentralisasi, penghapusan dwifungsi ABRI, dan sistem tripartai menjadi multipartai.

 

1.3  Rumusan Masalah

Berdasarkan tema “Gerakan Mahasiswa Telah Membawa Perubahan di Indonesia. Studi Kasus: Gerakan Mahasiswa Mei 1998”, maka beberapa hal yang perlu diungkap dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang melatarbelakangi gerakan mahasiswa pada Mei 1998?
  2. Apa saja tantangan yang didapat oleh mahasiswa dalam melakukan gerakan sosial?
  3. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari gerakan mahasiswa pada Mei 1998?
  4. Berhasilkah gerakan mahasiswa pada Mei 1998 menciptakan demokrasi?

1.4  Tujuan Penelitian

Dengan permasalahan pada 1.3 diatas, tujuan penelitian tentang “Gerakan Mahasiswa Telah Membawa Perubahan di Indonesia. Studi Kasus: Gerakan Mahasiswa Mei 1998”, adalah

  1. Ingin memberi informasi penyebab dari gerakan mahasiswa pada Mei 1998;
  2. Ingin menjelaskan mengenai tantangan yang dialami oleh mahasiswa pada gerakan Mei 1998;
  3. Ingin menganalisa dampak dari gerakan mahasiswa Mei 1998
  4. Ingin menganalisa keberhasilan gerakan mahasiswa pada Mei 1998.

BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 Kerangka Teoritis

Dalam gerakan sosial ada enam teori utama, antara lain devipration theory, mass-society theory, structural-straight theory, recouce-mobilization theory, political-economy theory, dan yang terakhir adalah new social movement theory.

Teori yang relevan digunakan untuk menganalisa gerakan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa adalah deprivation theory. Dimana masyarakat melakukan gerakan sosial karena merasa memiliki hidup yang serba kurang dan bertujuan untuk membawa negara menuju keadaan yang lebih baik. Seperti bunyi dari teori itu sendiri bahwa gerakan sosial yang mencari perubahan muncul diantara orang-orang yang merasa kekurangan.[3]

Pada masa orde baru, krisis ekonomi terjadi secara besar-besaran yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat menengah dan mahasiswa, akibatnya banyak mahasiswa yang putus kuliah dan masyarakat mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari karena harga pangan yang naik. Bukan hanya kekurangan secara materi, namun dari segi keamanan juga sangat rendah. Kemiskinan membuat masyarakat menjadi bertindak kriminal karena tuntutan hidup. Selain itu, kurang dalam teori ini juga bisa diartikan kurang bebas dalam berekspresi dan menyuarakan pendapat. Oleh karena kekurangan tersebutlah maka mahasiswa sebagai orang-orang yang diharapkan dapat membawa Indonesia menuju perubahan melakukan gerakan social pada Mei 1998 agar yang ‘kurang menjadi cukup’ dan untuk memperbaiki keadaan negara.

Gerakan sosial terjadi karena adanya sekelompok orang yang ingin menciptakan perubahan maupun menolak perubahan. Seperti yang dikatakan Tom bottomore, bahwa yang tergolong ke dalam suatu gerakan lebih merupakan satu kelompok yang bersimpati terhadap pandangan sosial atau doktrin tertentu, yang menampakkan dirinya dalam perdebatan politik sehari-hari dan yang kerenanya siap  berperan serta di dalam kegiatan-kegiatan seperti demonstrasi atau ritous assemblies.[4]Mahasiswa merupakan suatu kelompok kritis yang prihatin terhadap keadaan negara dan masyarakat miskin pada saat itu. Mereka berani tampil, meski waspada tetapi tidak kenal rasa takut demi menuju perubahan yang telah diimpi-impikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, mereka sering melakukan aksi protes dan demo untuk mendapatkan respon dari pemerintah.

Dalam social movement  terdapat empat tahap, yaitu emergence, coalescence, bureaucration, dan decline.[5]Emergence yaitu awal mula munculnya gerakan sosial didorong oleh rasa tidak respect terhadap semuanya yang ada dalam suatu Negara, rasa kecewa dan tidak puas yang meluas dalam masyarakat. Coalescence yaitu tahap setelah emergence, yaitu keberadaan gerakan sosial harus jelas tujuannya dan harus dapat membuat isu tersebut diterima dan menyebar di masyarakat. Kemudian yang ketiga adalah Bureaucration, yaitu kemapanan gerakan sosial dan didukung oleh  pemimpin yang berkharisma. Lalu yang terakhir adalah Decline, yang pertama semua anggota yang tergabung dalam gerakan sosial tersebut harus memiliki tujuan dan yang kedua jika gerakan yang dilakukan gagal, penyebabnya bisa timbul dari masalah organisasi itu sendiri, tidak ada dana, maupun tekanan dari pemerintahan yang otoriter.

Jika gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa pada Mei 1998 mengikuti tahapan social movements pada umumnya, maka dapat kita lihat tahap emergence ditandai dengan meluasnya kekecewaan dikalangan masyarakat termasuk mahasiswa. Lalu tahap Coalescence ditandai dengan aksi protes kritis yang sering disampaikan oleh mahasiswa di mimbar dan aksi demo yang berhasil membentuk opini public. Kemudian tahap bureaucration ditandai dengan  kemapanan aksi yang akan mereka lakukan, para aktifis dan mahasiswa yang kritis mendukung dan terlibat langsung dalam aksi tersebut. Dan yang terakhir adalah tahap decline, semua elemen masyarakat memiliki tujuan yang sama yaitu menurunkan Soeharto dari jabatan kepresidenannya. Tidak adanya dana dan tekanan dari pemerintah yang otoriter dapat dipatahkan pada kala itu, sehingga gerakan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa pada Mei 1998 berhasil mencapi tujuan yang mereka inginkan.

BAB III

ANALISIS GERAKAN MAHASISWA MEI 1998 DAN DAMPAKNYA BAGI INDONESIA

3.1 Latar belakang terjadinya gerakan mahasiswa pada Mei 1998

Pada tahun 1997 krisis ekonomi semakin melanda Indonesia, yang semakin mendorong keinginan masyarakat untuk melakukan suatu perubahan. Sebenarnya krisis ini bukan satu-satunya penyebab gerakan mahasiswa yang terjadi pada Mei 1998. Pada tahun 1974 terjadi aksi penolakan mahasiswa terhadap investor asing yang masuk ke negara ini, hingga kini kita menganal peristiwa tersebut dengan sebutan Malari (Malapetaka 15 hari). Namun, sejak adanya gerakan tersebut, arena politik mahasiwa dipersempit sehingga ide-ide mereka yang kritis tidak dapat disalurkan, sehingga pada saat itu mahasiswa hanya memiliki kewajiban belajar dan belajar tanpa perlu mengurusi keadaan politik yang semakin bergejolag. Jika ada yang berani menentang, atau menyampaikan kritik mereka terhadap pemerintahan maka orang tersebut akan berhadapan dengan angkatan bersenjata, ditangkap atau di penjara.

Pada masa pemerintahan Soeharto, praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme merajalela di panggung politik yang hanya diisi oleh keluarga pejabat politik itu sendiri, sehingga KKN dapat dilakukan secara bebas dan berkelanjutan. Memang pada awal pemerintahannya, Soeharto mampu membawa Indonesia mengalami surplus beras. Pembangunan ekonomi juga meningkat namun yang menjadi masalah adalah tidakmeratanya pembangunan tersebut. Dalam kata lain, pejabat yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. KKN yang dilakukan oleh pemerintah berdampak langsung pada masyarakat yang tidak berdaya, tidandai dengan harga pangan yang naik namun tidak disertai dengan kemampuan daya beli masyarakat. Nilai-nilai jawa yang ditanamkan oleh Soeharto juga menciptakan patron-patron yang pada akhirnya panggung politik Indonesia hanya menjadi arena suap-menyuap untuk mendapatkan jabatan, bukan berdasarkan pilihan rakyat.

Pemusatan kekuasaan yang dilakukan oleh Soeharto, membuat dirinya seolah menjadi satu-satunya sosok yang patut dituruti dan dihargai. Siapa yang berani menentang akan berhadapan dengan ABRI. ABRI yang seharusnya netral dan melindungi warga negara Indonesia dengan seluruh jiwa dan raga pada saat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu turut menduduki bangku pemerintahan. Dengan kewenangan yang di miliki, banyak diantaranya yang melakukan berbagai macam pelanggaran HAM yang tidak dapat diusut hingga sekarang.

Taman Mini Indonesia Indah, merupakan salah satu peninggalan Soeharto yang pada waktu itu mengundag aksi protes dari mahasiswa. Diduga pembangunan tersebut semata-mata hanya untuk memperkuat posisinya sebagai presiden RI, bagaimana tidak kalau yang memiliki proyek tersebut adalah Ibu Tien, tidak lain istri Soeharto dan diketuai oleh Ali sadikin, gubernur Jakarta kala itu. Saat pembanguanan TMII Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Beberapa waktu sebelum pencetusan proyek tersebut bahkan Soeharto mengumumkan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus dapat mengerti dan prihatin dengan keadaan sekarang. Namun untuk merespon aksi protes yang dilakukan mahasiswa, Soeharto berpidato, dan satu katanya yang masih terngiang yaitu beliau tidak akan segan menghabisi siapa saja yang berani bertindak inkonstitusional. Kemudian, setelah pidato tersebut disampaikan beberapa ketua organisasi mahasiswa diculik. Demi eksistensi partai Golkar yang merupakan partainya Soeharto, PNS menjadi tiang penyanggah utama bagi partai tersebut. Sehingga birokrasi yang seharusnya menjadi pelayan publik justru menjadi alat politik.

Seperti sejarah yang kita dengar, atau bahkan kita masih dapat menyaksikan demonstrasi pada kala itu, dimana mahasiswa menggebu-gebu untuk mencapai reformasi. Tidak ada kata takut mati demi membela masyarakat saat itu. Selain telah bosan dengan permainan politik yang didalangi Soeharto, Mahasiswa juga berdemo karena merasakan dampak langsung dari krisis ekonomi pada saat itu. Seperti terlambat mendapat kiriman dari orang tua dan ada yang kiriman uangnya dikurangi karena orang tua mereka juga mengalami kesulitan ekonomi. Hal tersebut menyebabkan banyak mahasiswa yang hidup pas-pasan atau bahkan ada yang berhenti kuliah kerena tidak ada biaya.[6]Dengan alasan-alasan demikian maka mahasiwa sebagai kelompok intelek yang merasa berkewajiban untuk membela bangsa dan negara melakukan suatu peregerakan untuk membawa perubahan.

Dengan melihat tipe gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa yaitu untuk menuntut adanya demokrasi, maka dapat digolongkan sebagai political violence, sebagaimana political violence hanya boleh terjadi di negara-negara yang memiliki rezim yang otoriter yang tidak memiliki jalan lain ketika ingin mencapai suatu tujuan.[7] Mahasiswa benar-benar merasa jenuh saat itu dengan pemerintahan yang membawa kesengsaraan kepada rakyat. Otoritarianisme yang dimiliki Soeharto membuat mahasiswa yang memiliki intelektualitas tinggi merasa jengkel dan berusaha untuk merubah suasana itu.

Pada saat itu semua kebebasan masyarakat diblokade. Mahasiwa yang seharusnya menjadi kelompok-kelompok yang kritis di halangi pola pikirnya. Soeharto menggunakan kekuatan militer bagi siapa saja yang berani menentangnya. Jarang ada mahasiswa yang berani angkat bicara pada rapat-rapat yang diadakan antara mahasiswa dengan pemerintah. Karena takut ditangkap atau dipenjara, bahkan disingkirkan bila dianggap kritis. Maka dengan demikian terjadilah political violence dalam praktik-praktik kehidupan politik pada masa orde baru. Contohnya seperti penculikan yang bahkan hingga kini tidak jelas siapa pelakunya dan korban tidak juga dapat ditemukan.

3.2 Tatangan Mahasiswa Selama Melakukan Gerakan Sosial

Seperti yang kita ketahui, Soeharto melarang siapapun mengkritik kebijakan pemerintah. Nilai-nilai demokrasi justru tidak ada dalam negara yang menganut demokrasi pancasila pada kala itu. Melalui mekanisme kooptasi, negara melakukan domestikasi  dan kontrol politik melalui para pemimpin ormas, orsospol, dan kelompok-kelompok strategis lainnya.[8] Tujuannya adalah untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap berbahaya bagi kedudukan Soeharto. Mahasiswa yang seharusnya dianggap sebagai agen perubahan justru dianggap musuh oleh pemerintahan. Sikap kritis mahasiswa dianggap sebagai ancaman bagi Soeharto dan jajarannya. Bukan hanya itu, aktifis-aktifis sosial lainnya yang bersebrangan dengan Soeharto juga disingkirkan agar pemerintahannya tetap berjaya. Soeharto hanya ingin semua rakyat mematuhinya, dengan demikian ia akan leluasa untuk melakukan hal-hal yang kini berdampak negatif bagi pemerintahan kita.

Seperti yang kita ketahui bahwa sebelumnya pada era 70-an mahasiwa juga pernah melakukan suatu gerakan sosial besar namun gagal karena dapat dikalahkan oleh pemerintah. Sejak saat itu, mahasiswa semakin dilarang untuk terlibat dalam kegiatan politik apalagi melakukan aksi-aksi demo. Dewan mahasiswa tidak lagi ada sebagai penyalur aspirasi mahasiswa. Lalu dibentuknya NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan diadakannya SKS (Sistem Kredit Semester) dengan tujuan agar menyita seluruh waktu mahasiswa.[9]Namun sepertinya peraturan tersebut tidak menghalangi niat mahasiswa dalam membebaskan bangsa ini dari belenggu otoritanianisme. Keberanian yang mereka miliki muncul dari rasa kecewa yang meluas di dalam masyarakat. Mereka menyalurkan kekecewaan itu dengan melakukan berbagai aksi dan gerakan.

Banyak aktivis mahasiswa yang diculik karena terlalu kritis mengkritik pemerintah. Sehingga banyak mahasiswa yang takut berargumen meski berlawanan dengan hati nurani mereka. Penangkapan secara tiba-tiba juga kerap dilakukan. Namun konsekuesi tersebut ditantang oleh para mahasiwa yang berani dan jenuh dengan keadaan politik yang penuh dengan kecurangan pada masa itu. Kejadian ini relevan dengan tahap ke empat dalam konsep social movement, yaitu gerakan social akan berusaha dihalangi dalam pemerintahan yang otoriter oleh pemerintah itu sendiri. Sayangnya, pada gerakan mahasiswa kali ini, mereka berhasil membuka pintu gerbang demokrasi dan sosok otoriter dapat diakhiri masa jabatannya.

Pada masa itu tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa sangat besar dan terlalu berbahaya untuk dihadapi sendiri. Oleh kaena itu mereka bersatu padu untuk mendobrak kekusaan Soeharto. Saat itu juga marak dengan adanya isu PETRUS (penembak misterius). Banyak orang yang tiba-tiba sudah ditemukan tergeletak tanpa nyawa di jalan. Saat itu tingkat keamanan sangat rendah.

3.4 Dampak Dari Gerakan yang Dilakukan Mahasiswa Pada Mei 1998

Kejadian 12 Mei 1998, tidak akan pernah dapat kita lupakan karena telah memakan banyak korban. Seperti tragedi Trisakti yang telah menewaskan 4 mahasiwa dan Tragedi Semanggi menewaskan 1 orang mahasiswa dan 11 orang lainnya di seluruh Jakarta, serta menyebabkan 217 korban luka-luka.[10]Dan banyak tragedi-tragedi lainnya yang telah menghilangkan nyawa baik itu mahasiswa maupun masyarakat setempat. Gerakan yang keras dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat ini juga menyebabkan kerusuhan besar-besaran, yang kita kenal dengan kerusuhan Mei 1998. Ditandai dengan penjarahan beberapa Mall, pembakaran swalayan, penganiayaan dan pemerkosaan terhadap etnis tionghoa, juga penghancuran toko-toko milik etnis tionghoa. Saat itu kondisi Indonesia benar-benar kacau secara social-politik-dan ekonomi.  Kerusuhan besar terjadi terutama di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Banyak pelanggaran HAM berat yang dilakukan baik oleh aparat maupun masyarakat sipil itu sendiri yang tidak kunjung di usut hingga saat ini.

Mengenai pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh aparat maupun pemerintah, banyak keluarga korban yang merasa kecewa dengan ketidaktegasan hukum dalam mengusut masalah ini. Banyak keluarga yang hingga kini tidak mengetahui keberadaan anaknya, atau ada juga keluarga lainnya yang masih merasa kehilangan anaknya yang meninggal saat kejadian pembrontakan.  Seperti yang telah diketahui oleh masyarakat umum,  Prabowo Subianto merupakan salah satu pelaku pelanggar HAM berat yang hingga kini masih berkiprah dalam dunia politik. Mungkin menurut pelaku pelanggaran HAM tersebut, yang mereka lakukan pada waktu itu benar dan memang dibutuhkan dalam suasana seperti itu. Tetapi jika dilihat dari konsep keamanan dan Hak Asasi Manusia, alasan tersebut tidak dapat diterima, terlebih alasan Presiden mempertahankan jabatannya tidak membawa perbaikan di Indonesia, malah justru sebaliknya. Namun kekacauan itu semua tidak sia-sia dan terbayar dengan terbukanya keran demokrasi yang telah kita rasakan saat ini. Siapa sangka rezim yang begitu kokoh dan dipagari oleh angkatan bersenjata dapat tumbang? Dimana ada keinginan yang terwujud, pasti ada sesuatu yang harus dikorbankan. Dan pengorbanan yang dilakukan oleh mahasiswa pada Mei 1998 tidak sia-sia.

Keberhasilan ini berarti memenuhi teori Deprivation seperti yang telah dijelaskan pada kerangka teoritis. Kekurangan yang mereka rasakan, baik kekurangan dalam bidang ekonomi maupun kekurangan dalam ruang gerak politik dapat direbut dengan gerakan social yang bermula dari kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan. Dampaknya nyata kita rasakan sekarang. Masyarakat dengan bebas dapat mengkritisi pemerintah dan mahasiswa boleh aktif dalam kegiatan politik dikampus. Namun karena kebebasan untuk mengkritik pemerintah telah dibuka, maka para pejabat negara tidak malu lagi untuk melakukan aksi KKN, begitu juga mahasiswa yang seharusnya sekarang menjadi lebih aktif dan kritis lagi terhadap pemerintahan karena tidak ada lagi pemimpin otoriter.

 3.4 Gerakan Mahasiswa Mei 1998  Membawa Perubahan di Indonesia

Keinginan untuk meruntuhkan rezim Soeharto disebabkan keinginan masyarakat untuk bebas dan merasakan demokrasi. Itu berarti untuk memunculkan demokrasi harus disertai terwujudnya civil society, yaitu masyarakat yang berdaya dalam memonitori jalannya pemerintahan, bukan masyarakat yang hanya diperdaya oleh penguasa-penguasa politik, dengan arti lain masyarakat harus mandiri demi kesejahteraan mereka sendiri.

Syarat untuk menjadi masyarakat sipil yang pertama adalah harus ada penurunan peran sosial-politik-militer, setelah itu harus ada penegakan HAM dan hukum yang tegas berlandaskan prinsip keadilan, dan yang ketiga adalah pemilu harus jujur, adil, tidak diskriminatif, tidak provokatif, dan tidak agitatif.[11]Penurunan peran sosial-politik-militer dianggap penting karena sudah seharusnya militer bersifat netral dan tidak memiliki keberpihakan pada siapapun. Hal ini bertujuan agar militer bekerja sebagaimana fungsinya yaitu membela dan melindungi seluruh warga negara tanpa alasan kepentingan apapun. Karena ketika militer terjun ke dalam arena politik,  maka tidak dapat dihindari bahwa netralitas yang seharusnya mereka milik menjadi redam. Kemudian penegakan HAM tidak kalah pentingnya dengan syarat sebelumnya, dimana harus ada pengusutan yang tuntas terhadap pelanggaran HAM pada masa lalu, sebagaimana kita ketahui pada masa pemerintahan Soeharto begitu banyak terjadi pelanggaran HAM, terbukti dengan banyaknya aktifis dan mahasiswa kritis yang menghilang setelah mereka menyuarakan pendapat mereka secara berani untuk mengkritisi keadaan pemerintahan. Pelanggaran HAM ini perlu diusut dan harus memberikan sanksi tegas kepada pelakunya untuk mengantisipasi pelanggaran HAM yang kemungkinan terjadi dimasa yang akan datang. Lalu yang terakhir adalah pemilu yang luberjurdil, syarat ini juga merupakan syarat penentu. Karena negara yang demokrasi harus memilih pemimpin dan wakil rakyat sesuai hati nurani mereka sendiri, tanpa adanya tekanan atau paksaan.

Dari ketiga komponen di atas, hanya satu yang berhasil dilakukan di Indonesia, yaitu penghapusan dwifungsi ABRI sebagaimana agenda reformasi yang dirumuskan oleh mahasiswa dan para akademisi secara intelektual, dan hingga kini ABRI tidak memiliki hak suara dalam pemilihan umum. Usutan mengenai pelanggaran HAM masa lalu hanya menjadi wacana hingga kini dan tidak ada sanksi yang tegas bagi para pelaku. Seolah-olah semua telah sepakat untuk bungkam dan menutup rapat-rapat masa kelam itu.  Kemudian, yang terakhir mengenai pemilu, memang dapat diwujudkan di Indonesia. Pada pemilihan mantan presiden RI Megawati Soekarno Putri, rakyat dapat secara langsung memilih tidak seperti periode sebelum-sebelumnya. Namun meski demikian pertanyaannya adalah, sudah bersihkah pemilu yang demokratis itu? Kenyataannya belum, kita bisa melihat birokrasi di negara ini yang masih tidak netral. Bawahan harus ikut pandangan politik atasan, tentu dengan paksaan, dengan demikian belum ada netralitas di birokrasi. Hal ini telah terbawa dari masa pemerintahan Soeharto dan kini menjadi budaya dalam birokrasi Indonesia. Peninggalan Soeharto lainnya yang kini telah menjadi budaya dalam politik Indonesia adalah budaya Korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), yang hingga kini sangat sulit untuk diberantas.

Gerakan mahasiwa pada Mei 1998 mungkin belum berhasil menjadikan masyarakat Indonesia sebagai civil society seutuhnya. Namun meski demikian, gerakan mahasiwa pada saat itu telah berhasil membuka keran demokrasi di negara yang telah lama terkungkung ini.

Seperti yang dikatakan oleh Anas Urbaningrum, fakta tak dapat ditampikkan bahwa mahasiswa pada penghujung akhir dasawarsa ini telah menoreh tinta emas, menghantarkan negeri ini memasuki era baru, era reformasi telah sukses memaksakan pergantian rezim Orde baru yang korup.[12]Penulis kurang setuju dengan argumen tesebut. Memang harus diakui bahwa Indonesia kini jauh lebih baik dari Indonesia pada Orde Baru jika dilihat dari aspek demokrasi. Namun kalau kita melihat dari segi korupsi, justru sekarang ini korupsi semakin merajalela baik dalam jabatan politik maupun jabatan birokrasi. Sepertinya KKN sangat sulit untuk di basmi setelah dipraktekkan selama 32 tahun  oleh Soeharto. Untuk mengatasi masalah ini, seharusnya ada hukum yang tegas mengenai tindak korupsi, seperti hukuman mati. Agar efek jera yang nyata dapat dirasakan dan membuat pejabat lainnya berfikir dua kali untuk melakukan korupsi. Kalau ide memiskinkan pelaku koruptor, itu tidak akan efisien melihat koneksi para pejabat sangat luas. Kita dapat melihatnya sendiri bahwa pelaku korupsi  justru mendapat kualitas dan pelayanan yang baik dalam penjara. Bagaimana bisa membersihkan negara dari korupsi kalau tidak ada konsistensi dan totalitas dalam pelaksanaannya?

Namun, terlepas dari budaya peninggalan Soeharto dalam perpolitikan Indonesia. Kita dapat melihat keberhasilan gerakan mahasiswa dengan sebuah tolak ukur. Yang menjadi tolak ukur keberhasilan mahasiswa sebagai agen perubahan yaitu bagaimana respon pemerintah terhadap tuntutan yang mereka ajukan. Respon yang dimaksud dapat diamati dalam beberapa bagian, yaitu respon akses, kesetiaan pihak sasaran mendengarkan tuntutan-tuntutan yang diperjuangkan gerakan, response agenda,  kesetiaan pihak sasaran mendengarkan tuntutan gerakan menjadi agenda politiknya, respon kebijakan, kesetiaan pihak sasaran mengadopsi tuntutan gerakan menjadi kebijakan barunya, respon output, yakni ketidak puasan anggota gerakan protes, dan dukungan masyrakat terhadap gerakan tersebut.[13]

Jika parameter keberhasilan gerakan mahasiwa ini menggunakan tolak ukur tersebut, maka dapat dikatakan gerakan tersebut berhasil. Masyarakat mendukung penuh aksi yang dilakukan mahasiswa pada masa itu, dan tujuan mereka satu, yaitu menumbangkan rezim Soeharto dan muncullah euphoria di negara ini. MPR/DPR pun merespon tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh mahasiswa.  Dan ini menandakan Indonesia telah memasuki babak baru dalam perpolitikan, dimana ruang publik terbuka seluas-luasnya tanpa lagi takut terhadap militer, babak ini kita sebut dengan era reformasi.

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Simpulan

Di Indonesia pernah terjadi social movement besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menuntut turunnya Soeharto pada Mei 1998. Gerakan ini disebut gerakan reformasi karena menginginkan suatu perubahan. Saat itu kondisi Indonesia sangat kacau, terjadi pengekangan dalam berpendapat, pelanggaran HAM, dan krisis ekonomi yang cukup parah.

Saat itu mahasiswa yang kritis dan dianggap berbahaya bagi pemerintah ditangkap, diculik, bahkan dipenjara. Banyak hal yang dilakukan oleh pemerintahan Soeharto untuk menghambat pola pikir mereka yang kritis, seperti membuat NKK dan SKS.

Yang memicu terjadinya gerakan mahasiswa tersebut adalah krisis moneter yang sudah semakin parah di negara ini dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Perjuangan mahasiswa menorehkan sejarah yang kini kita kenal dengan Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan Tragedi Semanggi II, Peristiwa CimanggisPeristiwa Gejayan,  dan Tragedi Lampung. Perjuangan untuk menumbangkan rezim Soeharto bukan hanya dilakukan oleh mahasiswa yang ada di Jakarta, namun juga mahasiswa di kota-kota besar lainnya.

Dalam sejarah Mei 1998 ini mahasiswa mengambil bagian besar. Secara intelektual mereka berhasil membawa Indonesia menuju perubahan. Banyak dampaknya yang kita rasakan sekarang. Yang paling signifikan adalah penghapusan dwifungsi ABRI dan ruang gerak politik yang dibuka seluas-luasnya membuat masyarakat Indonesia tidak takut lagi mengkritisi kebijakan pemerintah.

Ketika di kerangka teori kita menggunakan teori devipration, sebenarnya kasus ini juga bisa dianalisis dengan mass-society theory, yang mana masyarakat yang merasa terisolasi membuat suatu gerakan sebagai salah satu cara untuk keluar dari isolasi tersebut. Jadi harus ada rasa solidaritas diantara orang yang satu dengan yang lainnya agar gerakan tersebut jelas arahnya. Seperti pengertian teori itu sendiri yang disampaikan oleh William Kornhauser’s pada tahun 1959, isolated people seek out social movements as a way to gain a sense of social movements that offer a sense of community to people otherwise adriftin society[14]Masyarakat Indonesia merasa tidak besar ruang geraknya dan mahasiswa menyadari itu pada masa orde baru. Sebagai kelompok muda yang memiliki intelektualitas tinggi, keadaan seperti itu mendorong mahasiswa untuk melakukan gerakan perubahan dan menyari dukungan dari masyarakat.

Namun, lagi-lagi jika kita melihat awal dan tujuan terjadinya gerakan mahasiswa pada Mei 1998 ini merupakan wujud dari kekecewaan masyarakat luas kepeda pemerintahan dan mahasiswa menjadi aktor utama dalam membentuk opini publik.

4.2 Rekomendasi

Kini mahasiswa telah bebas ruang geraknya dan dapat melakukan aksi yang dulu dilarang oleh pemerintahan orde baru. Sebagai kaum intelek yang memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang tinggi, mahasiswa harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang membela rakyat kecil, karena mahasiswa merupakan agen perubahan.

Di tengah suasana yang jauh berbeda dari masa orde baru ini, seharusnya mahasiswa lebih aktif lagi mengkritik kinerja pemerintah dan budaya yang telah menjamur didalamnya, yaitu praktek KKN. Praktek tersebut telah banyak merugikan masyarakat sipil. Namun, mengapa setelah gerakan mahasiswa Mei 1998 tidak adalagi gerakan mahasiswa besar lainnya yang dapat memengaruhi kebijakan? Bukankah seharusnya dikeadaan yang sudah lebih bebas dan leluasa ini mahasiswa semakin menunjukkan jiwa kritisnya?

Kedepannya, gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa harus lebih terorganisir dan terarah, untuk meminimalisir jatuhnya korban. Mungkin banyak cara yang lebih efektif untuk dilakukan pada era yang sudah demokratis ini. Dengan demikian diharapkan mahasiswa dapat terus berada di barisan depan untuk membela kepentingan rakyat kecil.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini. Penulis juga berharap makalah ini dapat menjadi acuan bagi penulis lain yang ingin mengangkat tema yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Anas,Urbaningrum. 1999. Mahasiswa Menggugat. Bandung: Pustaka Hidayah.

Anas,Urbaningrum. 2004. Melamar Demokrasi Dinamika Politik Indonesia.

Jakarta: Republika.

IKAPI. 1997. Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial. Indonesia di Bawah Orde Baru. Jakarta: Grasindo.

Kaligis, O.C. 2005. Misteri Tragedi Trisakti. Jakarta: O.C Kaligis Associates.

Macionis, John Joseph. 2008. Sociology. Twelft Edition.New Jersey: Pearson Edition.

Maran, Rafael Raga. 2007. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Schaefer, Richard T. 2008. Sociology a Brief Introduction. International Edition. Avenue: Mc Grow

Wikipedia.“Tragedi Semanggi” http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Semanggi (diakses pada 20/03/2013).


[1] Rafael Raga Maran ( Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007) hal,70

[2] ibid

[3] John Joseph Macionis, Sociology Twelft Edition, (New Jersey: Pearson Education bInc, 2010), hal. 616.

[4] Rafael Raga maran, Op.Cit.,

[5] John Joseph Macionis, Op.Cit, hal 624.

[6] Anas Urbaningrum, Mahasiswa Menggugat, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hal.28

[7] Miller, D. “The Use amd Abuse of Political Violence” Political Studies. Hal.406

[8] Anas Urbaningrum, Op.cit, hal 28.

[9] Ibid., hal. 114.

[10]Wikipedia. “Tragedi Semanggi” http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Semanggi (diakses pada 20/03/2013).

[11] Anas Urbaingrum. Op.Cit., hal 137-138.

[12] Anas Urbaningrum, Op.Cit, hal 227.

[13] Ibid.,hal.180

[14] John. J. Macionis. Op.Cit.,hal. 619.

Iklan

2 comments on ““Gerakan Mahasiswa Telah Membawa Perubahan di Indonesia. Studi Kasus: Gerakan Mahasiswa Mei 1998”,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s