Diskriminasi Gender

Andre Vetronius

Islam telah menempatkan pria dan wanita dalam kedudukan yang setara di hadapan hukum. Untuk keduanya, berlaku standar hukum yang sama; halal-haram dan ahkamul khomsah (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram). Tidak ada juga diskriminasi terhadap wanita di surga ataupun neraka. Namun demikian, dalam Islam ada sejumlah aturan khusus bagi pria dan wanita. Misalkan, menyangkut peran dalam rumah tangga, sejumlah hukum muamalah seperti persaksian dan pemerintahan, ada kekhususan yang diatur dalam Islam untuk para wanita. Barangkali, kaum feminis menuduh bagian ini sebagai diskriminasi gender. Padahal, alamiahnya pria dan wanita memang berbeda. Secara biologis, apa yang mau disamakan dari pria dan wanita? Tabiatnya berbeda, apalagi fungsi reproduksinya jelas beda. Bahkan perbedan tersebut berkaitan juga dengan kelenjar dan darah masing-masing kelamin (Dr. Alexis Carrel, salah seorang dokter berkebangsaan Perancis).

 

      Perbedaan itu tidak berhubungan dengan persoalan diskriminasi. Sebab, wanita ditempatkan oleh Islam sebagai perhiasan yang wajib dijaga. Bukan budak nafsu sebangaimana terjadi dalam sejarah dunia. Dalam rumah tangga, wanita ditempatkan oleh Islam sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga. Namun hal tersebut beralih fungsi, banyak para wanita merasa lebih baik dan terhormat jika bisa masuk kedalam dunia pria dan bersaing dengan mereka. “Ngurusi rumah tangga dan anak-anak bukan saja dianggap menghambat aktualisasi diri, tetapi juga menunjukan kelemahan diri”, anggapan mereka. Karena itu, para feminis merasa perlu menggugat “takdir” ini, dan mengajak sesamanya untuk keluar dari “penjara” yang dibuat kaum pria.

     Pada dasarnya para wanita tidak berperan begitu penting pada sector domestic, tapi boleh percaya atau tidak, meski telah terjadinya pergeseran budaya, di mana para wanita dan pria di beri kesempatan untuk “berlari” pada track yang sama, pandangan pria terhadap peran di sector domestic tidak berubah. Para pria tidak pernah mengangap kedudukan wanita sebagai Istri dan Ibu rumah tangga adalah profesi rendahan. Mayoritas pria tetap menaruh hormat terhadap para wanita, namun hal tersebut berubah dengan cara signifikan sekali. Perubahan tersebut muncul secara spontan disebagian pikiran kaum pria, mungkin mereka takut para kaum wanita yang ingin terjun atau melakukan perubahan dalam bentuk status menjadi “wanita pekerja.” Pria yang mengangap bahwa kaum wanita itu adalah kaum yang lemah”, hal itu adalah suatu pendapat yang sangat bodoh sekali, dari pernyataan itu dapat kita lihat sifat ataupun yang selalu diutarakan oleh kaum pria untuk melakukandiskriminasi terhadap kaum wanita.

     Soal kekhawatiran pria atas wanita di dalam kehidupan berumah tangga, sampai terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan dalam kehidupan berumah tangga sangat sering terdengar sekarang baik hal tersebut diungkap ,melalui media massa ataupun melalui media elektronik sekalipun. Kekerasan di dalam rumah tangga disebabkan oleh beberapa factor yang bersifat klasik, apa itu dikarenakan selisih paham, apa karena anak ataupun masalah yang lainnya. Hal tersebutlah yang harus diperhatikan oleh kaum wanita agar dapat menghindari ketidakharmonisan dalam kehidupan berumah tangga. jalan keluar dari semua itu bukanlah mengurangi apalagi melepaskan peran wanita dari tanggung jawabnya di sector domestic. Namun, dengan perbaikan mekanisme relasi pria dan wanita bahwa kaum pria harus dicegah melakukan pengekangan ataupun bersifat yang otoriter pada istrinya. Mengenai kekerasan dalam rumah tangga, Islam telah mencegahnya sejak lama. Rasullullah SAW, menegur para suami yang berlaku keras dan kasar pada Istri-istrinya.

      Dalam persoalan mencari nafkah, suami sudah diberi kewajiban untuk menafkahi keluarga-nya dengan sebaik-baiknya. Tidak cuma itu, para istri bahkan bisa menggugat suami ke pengadilan, bahkan melakukan tindakan yang lain seperti hal yang marak sekali terdengar adalah perceraian. Dimana perceraian ini adalah suatu keputusan yang sangat final sekali yang diambil oleh sebuah kehidupan rumah tangga, akan tetapi apakah keputusan itu akan mendapatkan kebahagian setelah itu? Jawaban tersebut tergantung setiap orang menyikapi dan memandanginya seperti apa, tapi semua atau tindakan yang dilandasi dengan sikap atau dapat menelan pil pahit itu, haruslah didasari dengan berbagai pertimbangan terlebih dahulu dalam menyikapi seperti ungkapan mengatakan “pikir-pikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak. Dapat disimpulkan bahwa setiap masalah itu tidaklah harus mengambil keputusan secara tergesa-gesa, namun adanya dilakukan atau dalam bentuk pengecualian dalam memutuskan sesuatu persoalan tersebut.

      Namun, itu semua tergantung sebuah kehidupan realita rumah tangga yang dijalani oleh pria dan wanita tersebut. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa istri harus nurut pada suami, disini dapat kita lihat bahwa sifat yang keotoriteran seorang kaum pria dapat merubah peran seorang istri dalam kehidupan berumah tangga“jangan anggap kaum wanita selalu kaum yang lemah, janganlah kamu jadikan kaum wanita sebagai budak nafsumu, maka jadikanlah wanita itu jendela serta perhiasan didalam kehidupan berumah tangga”. Ketika pernyataan itu terlontar, mungkin akan timbul pernyataan di benak kita semua,  semua hal tersebut kembali kepada kita bangaimana menyikapi segala sesuatu tersebut, sehingga tidak menimbulkan penyesalan di kemudian harinya.

Iklan
By rangkiangbudaya Posted in admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s