Kawa Daun, Nostalgia Tanam Paksa Kopi

tempurung tempat minum Kawa daunAulia Rahman*

Pada awal abad ke-20, kopi merupakan primadona perdagangan karena menjadi minuman mewah dan mahal. Selain itu, juga laris di pasaran Eropa. Sebelumnnya kopi telah ditanam oleh orang – orang di Sumatera Barat akan tetapi penanaman kopi tidak beraturan, dan menjadi tanaman pagar. tidak ada catatan siapa yang membawa kopi pertama dan bagaimana penyebaran kopi di Sumatera Barat sebelum kedatangann Bangsa Eropa. Mungkin saja kopi dibawa oleh orang-orang yang kembali dari Makkah untuk naik haji atau pedagang-pedagang timur tengah khususnya Arab yang singgah di pelabuhan dan melakukan transaksi pedagangan dengan pedagang minang di sepanjang pantai barat dan pantai timur.

Melihat keberhasilan tanam paksa kopi yang terjadi di Pulau Jawa, Van Den Bosch juga ingin menerapkannya di Sumatera. Topografi wilayah  yang dikelilingi perbukitan dan kondisi alam yang baik sehingga dia berfikir untuk menbudidayakan kopi untuk keperluan pemerintah Hindia Belanda.

Akan tetapi, kendala utama pada saat itu adalah perang Paderi sedang berlangsung dan kekuatan Belanda belum begitu kokoh di Sumatera Barat hanya kekuasaannya baru sebatas pada pantai barat. Sedangkan daerah pedalamam masih menjadi daerah yang merdeka. Daerah- daerah yang telah dikuasai Belanda, pejabat – pejabat setempat telah memaksa masyarakat untuk menanam kopi, persoalannya tidak begitu gampang. Rakyat yang masih merasa merdeka tidak ingin dipaksa untuk menanam kopi walau sifatnya anjuran.

Menarik, pada waktu ini masyarakat minum kopi bukan dari biji kopi akan tetapi daun kopi dikeringkan konon menurut cerita orang melihat kambing makan daun kopi akan lebih sehat dan lebih gesit sehingga orang tidak minum kopi dari biji tapi dari daun kopi, sehingga keluar istilah Melayu Daun Kopi. Istilah Melayu Daun kopi sebenarnya merupakan ejekan Belanda tehadap orang Minang karena kebiasaan Orang Minang unik dalam mengkonsumsi kopi. Biji kopi yang terbuang kemudian dijual dan diekspor oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Dalam penerapan tanam paksa kopi didatangkan ahli dari Jawa. Kondisi ini menjadi kacau karena para ahli ini tidak mengetahui secara detail daerah yang ada di Sumatera Barat. Cara-cara yang dipakai di tanah Jawa di tetapkan dengan kondisi alam yang berbeda di Sumatera sehingga banyak terjadi salah kaprah, daerah yang baik untuk komoditi lain dipaksakan untuk menanam kopi, daerah yang ditidak bisa untuk tanaman kopi tetap saja ditanam kopi karena ingin mengeruk keutungan sebanyak-banyaknnya. Maklum pada saat itu kopi menjadi pemasukan utama Belanda ditanah jajahan. Akibatnya terjadi kerugian dikedua belah pihak, rakyak rugi dari tanaman kopi yang kurang menguntungkan dan Belanda rugi dari banyaknya modal yang dikeluarkan untuk tanaman dan modal fasilitas. Sehingga tanam paksa kopi di Sumatera Barat terjadi kegagalan. Selain itu, rayak lebih suka untuk menjual ke pantai timur karena lebih mahal dan lebih bebas untuk berdagang. Kegagalan tanam paksa bukan hanya rakyat yang belum mengetahui akan tetapi kesalahan Belanda dalam mengurusnnya.

Semenjak peraturan dikeluarkan, ada 3 jenis kebun kopi. Pertama, kebun yang turun temurun dikerjakan rakyat secara tidak teraturdi hutan – hutan dekan pemukiman terutama dekat perkampungan., banyak dari tanaman kopi ini untuk tanaman pekarangan atau tanaman pagar antara pemukiman dan hutan. Kedua, perkebunan – perkebunan oleh rakyat sendiri yang dianjurkan oleh kepala- kepala nagari. Pekebunan ini dikerjakan tanpa bayaran. Ketiga, perkebunan-perkebunan yang luas dan teratur, perkebunan ini dikerjakan, dirawat oleh rakyat dibawah pengawasan dan control Pemerintahan Hindia Belanda. Letaknya juga jauh dari pemukiman. Semua pengerjaan sifat paksaaan tanpa bayaran karena untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnnya. Pada kenyataannya perekebunan ini tidak berhasil karena tenaga ahli dalam pengurusannya.

Mengatasi kerugian dan kegagalan semacm ini Belanda menekan harga yang diterapkan untuk rakyat sedangkan harga dipasaran terus meningkat dan penjualan kopi harus kepada Belanda. Rakyat yang merasa dipermainkan dengan harga tersebut dan ketetapan ini mencari celah untuk menjual kopi kepada pedagang assign lainnya dengan memanfaatkan jalur perdagangan kuno di pantai timur Sumatera. Di pantai timur Sumatera telah terjadi semacam pasar bebas dan harga kopi pun harga pasaran dunia.

Kegagalan yang terjadi di Sumatera Barat sudah diramalkan oleh seorang Residen Steinmentz yang bertugas di Sumatera Barat, menulis dalam nota rahasianya pada 25 Desember 1846 di menuliskan penererapan tanam paksa kopi di sumatera barat akan lebih sulit dan susuh dibanding di Jawa. Steinmentz melihat secara pisikologi dan kebudayaan yang ada di sumatera barat berbeda dengan jawa. Orang minang hidup lebih demokrasi, bebas dan merdeka dalam menjalankan berbagai aktifitas termasuk aktifitas ekomoni. Sedangkan di jawa, orang telah terbiasa hidup dalam paksaan mulai dari zaman kerajaan- kerajaan besar di Pulau Jawa sehingga lebih mudah menerapkan tanam paksa kopi. Pemimpin di Minangkabau bersifat mengikuti hasil keputusan bersama hingga bersifat demokratis sedangkan di jawa keputusan pemimpin adalah mutlah dan harus diikuti oleh rakyat. 

Kebijakan tanam paksa terpaksa dihentikan pada tahun 1908, namun setelah 60 tahun berada dalam kondisi paksaan membawa perubahan dalam kondisi ekonomi masyarakat. setelah tanam paksa dihapus, kewajiban diganti dengan pembayaran pajak individu. Tujuannya untuk melonggarkan tatanan kehidupan yang telah ada. Orang-orang berjuang untuk memperoleh uang. Hubungan keluarga menjadi lebih longgar. Banyak keluarga yang memilih berdiri sendiri dari pada bergabung bersama beberapa keluarga dalam rumah gadang. Peran ayah lebih dominan atas anaknya. Para penghulu dan pimpinan adat  mulai tidak diakui. Hal ini karena banyak anak-anak dan kemenakan yang sudah memperoleh pendidikan dan lebih pintar. Selain itu, penerapan pajak individu juga dapat menekan sifat bebas dan merdeka rakyat. Keterikatan yang ditanam oleh Belanda kepada rakyat dalam bentuk pajak. Sehingga secara tidak langsung Belanda menikmati hasil penjualan kopi yang dilakukan secara diam-diam oleh rakyat. Dengan demikian berkembanglah ekonomi uang. Hidup yang dulu statis berubah menjadi lebih dinamis. Hal ini menimbulkan kepahitan dan krisis ekonomi hingga melahirkan pemberontakan salah satunya perang pajak atau yang lebih dikenal dengan perang belasting (perang pajak)

Kini, kepahitan dan krisis kehidupan pada saat tanam paksa kopi sampai pemberontakan pajak seakan-akan direunikan dengan Kawa daun. Kawa daun adalah istilah sekarang dari kopi daun. Kopi dalam bahasa minang dikenal dengan kawa. Menyeduh kawa daun seperti sebuah seromoni mengenang kepahitan tanam paksa kopi. Sudah hampir beberapa tahun belakangan ini berjamuran kedai – kedai kopi yang menyajikan minum kawa daun. Banyaknya kedai- kedai kopi ini seakan-akan kembali bernotalgia masa Belanda.

Minum kopi daun ini juga unik, minum kawa daun tidak dengan gelas biasa melainkan dengan tempurung kelapa dengan penyanggah dari bambu. Nuansa ini juga dihiasi pondoh – pondok dengan hembusan angin sepoi – sepoi. Makanan pendamping berupa gorengan menambah kenikmatan dibalik pahitnya cerita masa lalu.

Dari pengamatan penulis kebanyakan daerah yang mejual kawa daun ini banyak terdapat di daerah Luhak (daerah inti dari kebudayaan minangkabau Tanah Datar, Agam dan Lima Puluh Kota)  terutama di jalan – jalan lintas antar kabupaten/kota di Sumatera Barat. Biasanya para pedagang kawa daun mencari lokasi strategis yang suasana alam yang sejuk sehinga menikmati kawa daun menjadi lebih nikmat.

Kawa daun tidak dapat ditemui di daerah lain selain di Sumatera Barat. Menikmati kawa daun sekedar melepas lelah perjalanan. Kawa daun, itulah sepenggal kisah kepahitan masa tanam paksa kopi.

Referensi Rusli Amran 1985

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s